Ratusan Hektare Tambak di Pati Terdampak Banjir Rob, Rugi Rp 50 Miliar

Ratusan Hektare Tambak di Pati Terdampak Banjir Rob, Rugi Rp 50 Miliar

Dian Utoro Aji - detikJateng
Senin, 08 Jun 2026 14:25 WIB
Tambak di Desa Tunggulsari Kecamatan Tayu terkena banjir rob, Jumat (4/6/2026).
Tambak di Desa Tunggulsari Kecamatan Tayu terkena banjir rob, Jumat (4/6/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Pati -

Banjir rob menggenangi tambak ikan di 10 desa di Pati dengan total luas mencapai 436 hektare. Akibatnya para petambak diperkirakan mengalami kerugian total mencapai Rp 50 miliar.

"Hari ini kita mengidentifikasi tambak yang terdampak rob, itu ada di 10 desa, di dua kecamatan," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Hadi Santosa, saat ditemui di Pendopo Kabupaten Pati, Senin (8/6/2026).

Hadi mengatakan tambak yang terkena rob ini sepanjang pantai wilayah Pati bagian utara. Terutama di Kecamatan Margoyoso dan Tayu. Disebutkan ada tambak di 10 desa yang terkena banjir rob ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"3 Desa di Kecamatan Margoyoso meliputi Margotuhu, Sekarjalak, sampai Margoyoso. Dan 7 Desa di Kecamatan Tayu meliputi Donorejo, Jempat Kidul, Margomulyo, Keduromo, Tunggulsari, Sambiroto dan Jepat Lor," jelas dia.

ADVERTISEMENT
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Hadi Santosa saat ditemui di Pendopo Kabupaten Pati, Senin (8/6/2026).Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Hadi Santosa saat ditemui di Pendopo Kabupaten Pati, Senin (8/6/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Hadi mengatakan sejumlah desa seperti Tunggulsari, Jepat Lor dan Kidul, serta Margomulyo, sebagai wilayah paling parah terkena banjir rob.

"Terdampak paling parah di sekitar Desa Tunggulsari dan Margomulyo, Jepat Lur, dan Jepat Kidul," jelasnya.

Hadi merinci ada 436 hektare di 10 desa yang terkena banjir rob. Data itu menurutnya hampir 40 persen di wilayah tersebut terkena banjir rob.

"Untuk tambak yang terdampak itu total 10 Desa itu 436 hektare sekitar 40 persen dari luasan tambak," jelasnya.

Menurutnya para petambak saat ini sebenarnya tengah akan panen ikan nila. Tinggal menunggu 1 bulan ini. Akan tetapi tambak mereka terkena banjir rob. Menurutnya petambak mengalami kerugian mencapai Rp 50 miliar.

"Ini rata-rata sebulan lagi akan musim panen, memang ada kerugian. Kerugian ada Rp 50 miliar, melihat kondisi beberapa kali panen tidak bisa maksimal. Petambak kebanyakan ikan nila salim," jelasnya.

Hadi mengatakan kejadian banjir rob ini berlangsung dua tahun ini. Sebelumnya kata dia telah mengusulkan bantuan kepada petambak yang rugi karena gagal panen ikan.

"Kondisi ini sepertinya terjadi sudah sejak tahun kemarin. Untuk yang tahun kemarin sudah kita usulkan kepada BNPB beberapa usulan dari kami itu pertama perbaikan saluran sungai yang ada di tambak tersebut," jelasnya.

"Kedua perbaikan jalan usaha di tambak yang memang pada saat itu tergenang dan rusak, untuk tahun 2025 kita sudah memberikan bantuan benih pengganti kepada petambak yang ikannya hilang karena rob, meskipun jumlahnya sedikit belum bisa memenuhi semua," terang dia.

Hadi mengatakan saat ini, ia pun tengah mendata lagi kerugian petambak.

"Kami berkoordinasi dengan BPBD terkait dengan bantuan penanganan tanggul kemudian pembuatan tanggul kantong menggunakan kantong plastik, bantuan kepada petambak yang gagal panen," ujarnya.




(apl/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads