7 Khutbah Jumat Terakhir Dzulhijjah 1447 H tentang Muhasabah dan Tobat

7 Khutbah Jumat Terakhir Dzulhijjah 1447 H tentang Muhasabah dan Tobat

Nur Umar Akashi - detikJateng
Rabu, 10 Jun 2026 09:54 WIB
Ilustrasi Khutbah Jumat
Ilustrasi Khutbah Jumat (Foto: Alena Darmel/Pexels)
Solo -

Tak terasa, Dzulhijjah yang notabene adalah bulan kedua belas kalender Hijriah sudah tiba. Berakhirnya Dzulhijjah berarti rampung pulalah 1447 H dan terbukanya lembaran baru 1448 H.

Pada Jumat terakhir Dzulhijjah sekaligus Jumat terakhir 1447 H, khatib dapat membawakan khutbah yang membahas persoalan muhasabah (introspeksi diri) maupun tobat. Dengan demikian, umat Islam menjadi sadar akan kekurangan-kekurangannya dan dapat menjadi pribadi lebih baik tahun depan.

Khutbah Jumat tidak mesti panjang dan bertele-tele, yang terpenting fokus bahasan tersampaikan dengan baik. Khutbah yang ringkas dan padat juga membantu jemaah tertarik mendengarkan sehingga lebih mudah 'nyantol'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berhubung Jumat terakhir Dzulhijjah 1447 H sudah di depan mata, yuk, simak beberapa teks khutbahnya yang relevan untuk disampaikan!

ADVERTISEMENT

Kumpulan Khutbah Jumat Terakhir Dzulhijjah 1447 H

Berikut beberapa teks khutbah Jumat terakhir Dzulhijjah yang bisa detikers jadikan referensi.

Khutbah Jumat #1: Mari Introspeksi Diri di Akhir Tahun

(sumber: NU Lampung)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt, dengan sebenar-benarnya takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa itulah sebaik-baik bekal bagi perjalanan hidup kita di dunia dan di akhirat kelak.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, semua berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, kita sudah berada di penghujung tahun. Waktu terus berjalan, usia kita pun terus berkurang. Maka, momen akhir tahun ini hendaknya menjadi saat yang tepat bagi kita untuk melakukan introspeksi dan evaluasi diri (muhasabah).

Allah swt berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 18:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan (QS Al-Hasyr: 18).

Ayat ini menyeru kepada kita agar merenungkan dan memperhatikan apa yang sudah kita lakukan selama ini, apakah amal kita lebih banyak menuju kebaikan atau justru mengarah pada keburukan? Sudahkah kita benar-benar menggunakan waktu hidup ini untuk taat kepada Allah?

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Introspeksi diri adalah bagian penting dari kehidupan seorang mukmin. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

Artinya: Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal.

Menghisab diri sendiri adalah bentuk kesadaran iman, agar kita tidak menjadi orang yang lalai. Di akhir tahun, banyak orang yang mengisi waktu dengan pesta, perayaan, bahkan kemaksiatan. Tapi orang yang beriman justru menjadikan momen ini untuk tafakur, berdiam diri dan bertanya pada diri sendiri:

Sudahkah kita menjalankan shalat fardhu 5 kali sehari semalam?, sudahkah kita jujur dan aanah dalam bekerja?, sudahkah kita menjaga lisan dari ghibah, ftnah dan dusta?, sudahkah kita menjaga mata, kaki, tangan, perut, kemaluan dari yang haram?, sudahkah kita menunaikan zakat, membayar pajak, dan berbagi kepada fakir miskin?

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أبي يَعلَي شدَّادِ بنِ أوْسٍ رضي اللهُ عنه، عنِ النَّبي صلَّي اللهُ عليه وسلمَّ قال: «الكيِّسُ مَنْ دَانَ نفْسَه، وعَمِلَ لما بعدَ الموْتِ، والعاجزُ مَنْ أتْبعَ نَفْسَه هواها، وتمنَّي علَي اللهِ». رواه التِّرمِذيُّ

Artinya: Dari Abu Ya'la yaitu Saddad ibnu Aus r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda, orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan kosong (HR At-Tirmidzi dan beliau berkata, hadits shahih).

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa orang yang cerdas adalah yang selalu menghitung dirinya, merencanakan amal-amal saleh, dan tidak tertipu oleh angan-angan dunia.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketika kita menyadari bahwa waktu hidup ini sangat terbatas, kita akan lebih serius dalam memperbaiki diri. Waktu tidak bisa diputar kembali. Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur kita yang tidak akan kembali lagi. Maka, jangan sia-siakan hidup kita dalam kelalaian.

Allah swt berfirman dalam surah Al-Ashr:

وَالْعَصْرِۙ ۝١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ۝٣

Artinya: Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran (QS Al-'Ashr: 1-3).

Ayat ini adalah peringatan bagi kita semua, orang yang tidak menggunakan waktunya untuk iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran - termasuk dalam golongan yang rugi.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Oleh karena itu, mari kita tanamkan niat untuk memperbaiki diri. Buatlah resolusi amal kebaikan untuk tahun yang akan datang. Pertama, dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah, meningkatkan kualitas ibadah dan memperbanyak dzikir serta tilawah.

Kedua, memperbaiki hubungan kita dengan sesama manusia, dengan menjaga silaturahmi, menahan amarah, dan menebarkan senyum serta kebaikan. Ketiga, menghindari hal-hal yang merusak waktu, seperti bermain media sosial berlebihan, malas-malasan, atau ikut dalam kegiatan yang tidak bermanfaat.

Marilah kita tutup tahun ini dengan taubat yang sungguh-sungguh, istighfar yang mendalam, serta semangat memperbaiki diri. Jadilah hamba Allah yang produktif dalam amal saleh dan bermanfaat bagi umat.

Khutbah Jumat #2: Manfaat Introspeksi Diri di Akhir Tahun

(sumber: Kementerian Agama)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Memanjatkan puji syukur kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad saw merupakan kewajiban yang harus disampaikan oleh setiap khatib dalam khutbahnya. Selain itu khatib juga memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan mengingatkan jamaah tentang wasiat ketakwaan.

Oleh karenanya pada momentum khutbah kali ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk senantiasa memanjatkan puji syukur kepada Allah dan menyampaikan shalawat pada Rasulullah sekaligus meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Bagaimana cara meningkatkan takwa? Yakni dengan senantiasa lebih semangat lagi menjalankan segala perintah Allah dan sekuat tenaga meninggalkan segala yang dilarang oleh-Nya.

Dengan upaya inilah, kita akan mampu terus berada pada jalur yang telah ditentukan oleh agama sehingga tidak melenceng dan tersesat ke jalan yang tidak benar.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Memang kehidupan kita di dunia ini seperti melewati sebuah jalan dengan lintasan penuh dengan dinamika dan tantangan. Medan terjal yang harus terus kita daki, hingga medan menurun dan mendatar, tak boleh membuat kita terlena.

Perjalanan kita menyisakan masa lalu sebagai pengalaman, masa kini sebagai kenyataan, dan masa yang akan datang sebagai harapan. Sehingga kita butuh rambu-rambu agar kita senantiasa lancar dan selamat sampai ke tujuan dan ketakwaan lah rambu-rambu yang mampu memandu kita berada pada jalan yang benar dan bekal yang paling baik dalam perjalanan.

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

"Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat," (QS Al-Baqarah: 197)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam sebuah perjalanan panjang, kita haruslah menyempatkan diri berhenti istirahat untuk mengumpulkan kembali semangat dan tenaga guna melanjutkan perjalanan.

Begitu juga dalam kehidupan di dunia, kita mesti harus menyediakan waktu untuk melakukan introspeksi, evaluasi, menghitung, sekaligus kontemplasi yang dalam bahwa Arab disebut dengan muhasabah. Pentingnya muhasabah ini, Sayyidina Umar bin Khattab pernah bertutur:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

"Hisablah diri (introspeksi) kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia."

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

"Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT."

Sementara dalam Al-Qur'an Allah juga telah mengingatkan pentingnya melakukan introspeksi diri dengan melihat apa yang telah kita lakukan pada masa lalu untuk mengahadapi masa depan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari perintah Allah dan Rasul serta nasihat dari para sahabat, kita bisa mengambil beberapa catatan penting tentang manfaat dari introspeksi diri ini. Setidaknya, ada 5 manfaat yang bisa kita rasakan dari upaya melakukan 'charging' (mengecas) semangat hidup melalui introspeksi diri ini.

Pertama,sebagai wahana mengoreksi diri. Dengan introspeksi diri, kita akan mampu melihat kembali perjalanan hidup sekaligus mengoreksi manakah yang paling dominan dari perjalanan selama ini.

Apakah kebaikan atau keburukan, apakah manfaat atau mudarat, atau apakah semakin mendekat atau malah menjauh dari Allah swt. Kita harus menyadari bahwa semua yang kita lakukan ini harus dipertanggungjawabkan di sisi Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan" (Q.S. Yasin: 65)

Kedua,upaya memperbaiki diri. Dengan introspeksi diri, kita akan mampu melihat kelebihan dan kekurangan diri yang kemudian harus diperbaiki di masa yang akan datang. Dengan memperbaiki diri, maka kualitas kehidupan akan lebih baik dan waktu yang dilewati juga akan senantiasa penuh dengan manfaat dan maslahat bagi diri dan orang lain.

Ketiga,momentum mawas diri. Diibaratkan ketika kita pernah memiliki pengalaman melewati jalan yang penuh lika-liku, maka kita bisa lebih berhati-hati ketika akan melewatinya lagi. Mawas diri akan mampu menyelamatkan kita dari terjerumus ke jurang yang dalam sepanjang jalan. Allah berfirman:

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاحْذَرُوْاۚ فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا عَلٰى رَسُوْلِنَا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

"Taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul serta berhati-hatilah! Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (ajaran Allah) dengan jelas."

Keempat,memperkuat komitmen diri. Setiap orang pasti memiliki kesalahan. Oleh karenanya, introspeksi diri menjadi waktu untuk memperbaiki diri dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali kesalahan yang telah dilakukan pada masa lalu. Jangan jatuh di lubang yang sama. Buang masa lalu yang negatif, lakukan hal positif hari ini dan hari yang akan datang. Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

"Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka)." (HR Al-Hakim).

Kelima, sebagai sarana meningkatkan rasa syukur dan tahu diri. Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa keberadaan kita sampai dengan saat ini sama sekali tak bisa lepas dari nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan Allah.

Oleh karenanya, introspeksi diri akan membawa kita mengingat nikmat yang tak bisa dihitung satu persatu. Jangan sampai kita menjagi golongan orang-orang yang tak tahu diri dan kufur kepada nikmat Allah. Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an Surat Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari uraian ini, mari kita senantiasa melakukan introspeksi diri setiap saat. Terlebih saat ini kita beradadi penghujung tahun2023 dan akan memasuki tahun baru2024yang menjadi waktu ideal untuk melakukan introspeksi diri.

Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk yang terbaik dari Allah dan mampu melihat perjalanan tahun lalu untuk menjalani tahun yang akan datang. Amiinya rabbalalamin.

Khutbah Jumat #3: Renungan, Tobat, dan Menyongsong Hidup yang Lebih Baik

(sumber: NU Online)

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji syukur alhamdulillahi rabbil alamin, merupakan kata yang tepat untuk mengawali khutbah yang hari yang mulia ini, atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita semua, Nabi Agung Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa meneladani jejaknya.

Sebagaimana Rasulullah senantiasa mengawali setiap khutbahnya dengan wasiat takwa, maka sebagai bentuk meneladani sekaligus tanggung jawab kami selaku khatib, perkenankan saya untuk berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian, untuk senantiasa berusaha meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT.

Takwa akan menjadi kompas kehidupan yang sempurna bagi kita, karena dengannya kita akan senantiasa untuk terus menaati perintah Allah dan komitmen dalam menjauhi segala larangan-Nya. Ia juga akan menjadi bekal terbaik yang akan kita bawa menuju akhirat kelak. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ

Artinya, "Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Tanpa terasa kita saat ini telah berada di penghujung tahun 2025 dan sebentar lagi akan melangkah memasuki tahun 2026. Dalam setiap momen pergantian waktu, baik pergantian tahun, bulan, maupun siang berganti menjadi malam, terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua, yaitu bahwa kehidupan ini terus berjalan dan kita semakin dekat dengan kematian. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لأوْلِي الأبْصَارِ

Artinya, "Allah menjadikan malam dan siang silih berganti. Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam)." (QS An-Nur, [24]: 44).

Menurut Imam Abu Muhammad al-Baghawi dalam Tafsir Ma'alimut Tanzil, jilid 6, halaman 54, silih bergantinya siang dan malam serta berputarnya tahun demi tahun ini tidak hanya sekadar fenomena alam yang biasa, tetapi menjadi bukti nyata dan tanda yang sangat jelas tentang Maha Kuasanya Allah SWT dan ke-Esa-an-Nya,

دَلَالَةٌ لِأَهْلِ الْعُقُولِ وَالْبَصَائِرِ عَلَى قُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَوْحِيدِهِ

Artinya, "(Pergantian itu adalah) Petunjuk bagi orang-orang yang berakal dan berwawasan tentang kekuasaan Allah Ta'ala dan keesaan-Nya."

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Namun perlu kita sadari bersama bahwa pergantian tahun tidak hanya menjadi bukti betapa Maha Kuasanya Allah dalam mengatur alam semesta ini dengan sangat sempurna, tetapi juga menjadi peringatan bagi kita bahwa dengan bergantinya tahun maupun siang dan malam, juga menunjukkan bahwa umur kita semakin hari semakin berkurang.

Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari hidup kita yang telah lewat dan tidak akan pernah kembali. Oleh karena itu, marilah kita gunakan sisa umur kita ini dengan sebaik-baiknya untuk beribadah kepada Allah swt, berbuat baik kepada sesama, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yang pasti datangnya.

Demikian wasiat yang disampaikan oleh Rabiah al-Adawiyah kepada Sufyan at-Tsauri, kemudian dicatat oleh Syekh Ismail Haqqi dalam kitab Tafsir Ruhul Bayan, jilid I, halaman 82:

قَالَتْ رَابِعَةُ الْعَدَوِيَّةُ لِسُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ: إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ مَعْدُودَةٌ، فَإِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ، وَيُوشِكُ إِذَا ذَهَبَ الْبَعْضُ أَنْ يَذْهَبَ الْكُلُّ، وَأَنْتَ تَعْلَمُ فَاعْلَمْ وَاعْتَبِرْ... قُلْ ذَهَبَ يَوْمِي مَاذَا عَمِلْتُ فِيهِ فَإِنَّ بِالْيَوْمِ يَنْقَضِي الْعُمُرُ

Artinya, "Rabiah al-Adawiyah berkata kepada Sufyan ats-Tsauri: 'Sesungguhnya engkau hanyalah hari-hari yang terhitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah pergi. Dan hampir saja jika sebagian telah pergi, maka seluruhnya akan pergi. Engkau tahu, maka ketahuilah dan ambillah pelajaran... Katakanlah, 'Hari ini telah berlalu, apa yang telah aku lakukan di dalamnya?' Karena dengan berlalunya hari-hari itulah umur pun berakhir'."

Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum pergantian tahun ini sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi diri dan mengevaluasi amal perbuatan kita selama setahun terakhir.

Sudahkah kita menjadi hamba Allah yang lebih baik? Sudahkah kita memberikan manfaat bagi orang lain? Atau justru sebaliknya, kita lebih banyak melakukan dosa dan kesalahan? Jika demikian, maka segeralah bertobat kepada Allah SWT dan memohon ampunan atas segala dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Jangan menunda-nunda tobat, karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Dengan menjadikan momentum akhir tahun ini untuk bermuhasabah, kita akan sadar di mana letak kesalahan dan kelalaian yang telah kita lakukan dalam setahun yang telah berlalu. Dan kita juga akan tahu di mana letak kebaikan yang harus terus kita lakukan dan kita sempurnakan untuk tahun-tahun berikutnya.

Oleh sebab itu, diriwayatkan dari Maimun bin Mahran dalam kitab Ihya Ulumiddin, jilid IV, halaman 404, bahwa seseorang tidak benar-benar dikatakan sebagai seorang yang bertakwa, sebelum ia melakukan introspeksi atau muhasabah terhadap dirinya:

وَعَنْ مَيْمُونِ بْنِ مَهْرَانَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ

Artinya, "Dan dari Maimun bin Mahran, bahwasanya ia berkata: 'Tidaklah seorang hamba termasuk golongan orang-orang yang bertakwa, hingga ia bermuhasabah (mengintrospeksi) dirinya sendiri."

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Oleh sebab itu, marilah kita jadikan akhir tahun sebagai titik kesadaran bagi kita semua untuk melakukan muhasabah. Pergantian siang dan malam serta berlalunya tahun demi tahun adalah tanda kekuasaan Allah sekaligus pengingat bahwa umur kita terus berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas. Karena itu, mari kita isi sisa usia dengan muhasabah yang jujur, tobat yang sungguh-sungguh, dan amal saleh yang terus ditingkatkan.

Demikianlah khutbah Jumat kali ini tentang pentingnya bermuhasabah di penghujung tahun, agar kita dapat merenungkan perjalanan hidup kita, mengevaluasi amal perbuatan, dan memperbaiki diri untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik.

Semoga khutbah ini membawa berkah dan manfaat bagi kita semua, serta memberikan kita kekuatan untuk menyongsong tahun baru dengan semangat baru dan tekad yang lebih kuat untuk meraih ridha Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

Khutbah Jumat #4: Pergantian Waktu Manifestasi Peringatan Allah SWT

(sumber: Suara Muhammadiyah)

Kaum Muslimin Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah SwT

Pertama-tama dan yang paling utama marilah kita bersama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta memanjatkan puja dan puji sykur kita kepada Allah SWT yang tanpa henti memberikan semua nikmat kesehatan dan kesempatan.

Tidak lupa juga untuk senantiasa bershalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw. yang membawa peradaban Islam dan membebaskan umat dari zaman kejahiliyahan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pergantian hari, bulan, dan adalah sunnatullah yang sarat makna bagi kita. Tidak kurang Allah mengabadikan pentingnya waktu melalui representasi surat Al-'Ashr. Sunnatullah ini juga diindikasikan dalam firman Allah surat Ar-Ra'd ayat 2:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي رَفَعَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلّٞ يَجۡرِي لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ يُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُم بِلِقَآءِ رَبِّكُمۡ تُوقِنُونَ ٢

"Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ´Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu."

Namun, jama'ah sekalian, pergantian waktu bukan sekadar angka kalender. Ia adalah pengingat. Terlebih ketika pergantian waktu itu diiringi dengan berbagai musibah dan bencana yang terjadi di negeri kita.

Beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan bencana alam melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan berbagai daerah lain di Indonesia. Banjir, longsor, gempa, dan musibah lainnya merenggut harta, tempat tinggal, bahkan nyawa saudara-saudara kita. Peristiwa ini bukan sekadar berita. Itu adalah ayat-ayat Allah yang nyata.

Sementara itu dalam surat Al-Baqarah ayat 164, Allah 'menyentil' kita yang masih bergeming tidak menyadari kebesaran sang Khaliq padahal begitu banyaknya bukti dan indikator kekuasaan Allah dari fenomena alam yang kita alami.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."

Bahwa pada pergantian malam dan siang, pada hujan yang turun, dan pada berbagai fenomena alam terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mau berpikir. Maka, ketika alam "berbicara" dengan cara seperti ini, seorang mukmin tidak boleh lalai. Musibah bukan hanya ujian bagi korban, tetapi juga peringatan bagi yang masih diberi keselamatan.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Di penghujung tahun ini, kita dihadapkan pada berbagai peristiwa bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah daerah lainnya. Peristiwa tersebut bukan sekadar fenomena alam, tetapi bagian dari ayat-ayat Allah yang harus kita sikapi dengan iman, ilmu, dan amal.

Ada beberapa hal penting yang perlu kita garis bawahi dalam memaknai akhir tahun dan musibah ini sebagai seorang Muslim, yaitu: pertama, musibah mengajarkan muhasabah. Muhasabah adalah evaluasi diri yang jujur dan mendalam.

Allah SWT berfirman: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura [42]: 30).

Ayat ini mengajak kita untuk melakukan muhasabah, evaluasi diri yang jujur dan mendalam. Seorang Muslim tidak boleh hanya menyalahkan keadaan, tetapi harus bertanya: sejauh mana iman, syukur, dan sabar telah kita jalankan.

Rasulullah Saw. bersabda bahwa seluruh urusan orang beriman adalah kebaikan. Saat memperoleh nikmat ia bersyukur, dan saat ditimpa musibah ia bersabar.

Dua sikap ini merupakan standar keimanan yang harus terus kita jaga, terutama ketika Allah mengingatkan kita melalui bencana dan pergantian waktu. Akhir tahun menjadi momentum untuk mengevaluasi kualitas ibadah, akhlak, dan tanggung jawab sosial kita sebelum kelak dihisab oleh Allah SWT.

Kedua, musibah menumbuhkan solidaritas dan kepedulian sosial.

Islam adalah agama rahmatan lil 'alamin. Musibah yang menimpa sebagian masyarakat adalah panggilan bagi yang lain untuk hadir membantu. Kepedulian terhadap korban bencana, baik melalui doa, infak, tenaga, maupun dukungan moral, adalah wujud nyata dari iman dan akhlak Islam.

Kita perlu menyadari bahwa keselamatan yang kita rasakan hari ini bukan jaminan untuk esok hari. Oleh karena itu, kepekaan sosial dan semangat ta'awun harus terus kita hidupkan.

Rasulullah Saw. bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh." (HR. Bukhari dan Muslim). Seorang Muslim tidak boleh merasa aman dan acuh ketika saudara-saudaranya sedang diuji.

Ketiga, musibah dan akhir tahun mendorong mujahadah dan perencanaan hidup. Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr [59]: 18).

Ayat ini menegaskan bahwa muhasabah harus ditindaklanjuti dengan mujahadah, kesungguhan untuk memperbaiki keadaan. Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, tetapi awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Muhasabah harus ditindaklanjuti dengan mujahadah, yaitu kesungguhan untuk memperbaiki keadaan. Tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, tetapi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih bertakwa.

Rasulullah Saw. mengingatkan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Maka setiap Muslim dituntut untuk memiliki perencanaan hidup yang jelas, baik dalam ibadah, pendidikan, ekonomi, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Perubahan tidak lahir dari niat semata, tetapi dari perencanaan yang matang dan kerja yang konsisten, sebagaimana dicontohkan Rasulullah Saw. dalam seluruh aspek kehidupannya.

Keempat, musibah mengingatkan bahwa hidup ini sementara dan nasib berputar. Bencana mengajarkan kepada kita bahwa hidup di dunia tidak abadi. Umur bertambah berarti jarak dengan kematian semakin dekat. Allah SWT berfirman: "Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Ali 'Imran [3]: 140).

Musibah menyadarkan kita bahwa dunia tidak kekal. Keselamatan dan kelapangan hidup bisa berubah kapan saja. Kesadaran ini menumbuhkan sikap tawadhu', kesederhanaan, serta kesiapan untuk beramal dan menolong sesama.

Allah SWT menggilir keadaan manusia agar kita tidak sombong saat lapang dan tidak putus asa saat sempit. Kesadaran ini harus melahirkan sikap tawadhu', kesederhanaan, serta kesiapan untuk berbagi dan menolong sesama. Inilah karakter Muslim yang beriman, berilmu, dan beramal.

Jama'ah Jum'at yang dimuliakan Allah

Semoga akhir tahun ini menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, dan meningkatkan kualitas amal shalih, sehingga kehadiran kita benar-benar membawa kemanfaatan bagi umat dan bangsa.

Khutbah Jumat #5: Evaluasi Akhir Tahun Hijriah

(sumber: NU Banten)

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah

Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan syukur kepada Allah dengan senantiasa istikamah dalam bertakwa, senantiasa melaksanakan segala perintah Allah dan sunah-sunah Nabi, serta menjauhi segala larangan-Nya dan yang tidak disukai Nabi Muhammad saw.

Kaum Muslimin rahimakumullah

Saat ini kita berada pada pengujung tahun hijriah 1445. Tak lama lagi kita akan memasuki tahun baru 1446 H. Untuk itu seyogianya kita lakukan kalkulasi serta evaluasi diri, tentang amal apa yang telah kita lakukan pada masa yang telah lewat.

Perhitungan semacam ini sering disebut muhasabatunnafsi. Ketika kita temukan perbuatan dosa dan durhaka pada Allah, hendaknya segera kita bertobat dan kita benahi dengan amal yang baik.

Dan manakala kita dapati amal yang baik, peribadatan dan ketaatan yang sesuai dengan syariat Islam, kita upayakan istikamah dan ditingkatkan kualitasnya. Allah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

''Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.'' (QS Al-Hasyr: 18)

Untuk itu mumpung masih ada kesempatan bagi kita, seyogianya melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, sebelum dihitung di yaumil hisab kelak. Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata:

حاسِبُوا أنفُسَكمْ قَبْلَ أنْ تُحاسَبوْا

"Hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung (oleh Allah)."

Kaum Muslimin rahimakumullah

Semakin tambah usia kita, artinya semakin berkurang sisa umur kita. Hendaknya bersyukur, kita masih mendapat kesempatan berbenah dan memperbaiki yang masih buruk dan meningkatkan amal baik kita. Jangan sampai kita menunda dan menyia-nyiakan waktu.

"Apabila kamu berada di sore hari janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi hari (datang). Apabila kamu berada di pagi hari jangankah menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore (datang). Gunakan waktu waktu hidupmu untuk menghadapi matimu, dan waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu." (HR Bukhari)

Oleh karena itu, mempersiapkan bekal menghadap Allah kelak, hanyalah dengan iman dan amal saleh, serta meningkatkan taat dan takwa kepada Allah taala. Tiada sesuatu yang lebih baik sebagai bekal kecuali takwa kepada Allah, sebagaimana firman Allah:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

''...Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.'' (QS Al Baqarah: 197)

Kaum Muslimin rahimakumullah

Semoga Allah karuniakan kekuatan lahir dan batin pada kita semua, istikamah dalam beribadah, dan akhirnya mendapatkan anugerah keselamatan dan kebahagiaan sejak hidup di dunia sampai kelak di alam akhirat. Allahumma amin.

Khutbah Jumat #6: Muhasabah dan Perbaikan Diri Sambut Pergantian Tahun

(sumber: MUI Digital)

"Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur."

(QS Al-Furqan: 62)

Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala..

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena hanya dengan rahmat dan kasih sayang-Nya kita masih diberi kesempatan hidup, beribadah, dan memperbaiki diri hingga saat ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Dalam kesempatan ini khatib berwasiat kepada hadirin sekalian wabilkhusus bagi diri sendiri marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan senantiasa melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhkan diri kita dari semua yang dilarang oleh-Nya. Dengan demikian mudah-mudahan kita sampai kepada derajat yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. " ( QS. Al Hujuraat [ 49 ] ayat 13 )

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah...

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan kini kita telah sampai di penghujung tahun 2025. Tidak lama lagi kita akan memasuki tahun baru 2026, sebuah momentum yang patut kita sambut bukan dengan pesta dan hura-hura, tetapi dengan muhasabah, introspeksi diri, dan tekad untuk memperbaiki amal serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena sesungguhnya pergantian waktu adalah tanda kekuasaan Allah dan pengingat bahwa umur kita semakin berkurang. Allah berfirman dalam Alquran:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

"Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran atau ingin bersyukur." (QS Al-Furqan: 62)

Setiap kali tahun berganti, sejatinya kita sedang mendekat kepada akhir kehidupan, bukan menjauh darinya. sejatinya bukan usia kita yang bertambah, tetapi berkurang. Bertambahnya tahun berarti berkurangnya jatah hidup di dunia.

Maka, tahun baru seharusnya menjadi waktu merenungi amal, bukan bersenang-senang tanpa arah. Setiap kali tahun berganti, Maka, yang paling bijak adalah menjadikan pergantian tahun sebagai pengingat untuk memperbanyak amal saleh dan meninggalkan dosa.

Rasulullah saw bersabda:

اَلكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللّٰهِ الأَمَانِيَّ

"Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah." (HR Tirmidzi)

Jamaah yang dirahmati Allah..

Mari kita jadikan momen pergantian tahun sebagai waktu untuk muhasabah. Sudahkah shalat kita lebih khusyuk? Sudahkah kita lebih jujur dalam bekerja? Sudahkah kita lebih taat kepada orang tua dan lebih banyak menolong sesama?

Pergantian tahun seharusnya juga menjadi momentum muhasabah - introspeksi diri atas perjalanan hidup yang telah kita lalui, sekaligus kesempatan untuk menyiapkan bekal bagi perjalanan panjang menuju akhirat. Allah SWT mengingatkan dalam Alquran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللّٰهَ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin yang cerdas adalah yang selalu memperhatikan amalnya, menimbang apa yang telah ia persiapkan untuk kehidupan setelah kematian. Sebab dunia ini hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah tempat tinggal yang kekal.

Jika 2025 yang akan kita lalui masih banyak kesalahan dan kelalaian, maka tahun 2026 yang akan datang harus kita isi dengan tekad dan amal saleh yang lebih baik. Sebab, Allah mencintai orang-orang yang senantiasa memperbaiki diri.

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri." (QS Al-Baqarah: 222)

Oleh karena itu, kaum Muslimin yang berbahagia...

Mari kita sambut tahun baru ini dengan taubat, niat yang ikhlas, dan semangat memperbaiki amal. Jangan sia-siakan waktu yang Allah berikan. Waktu adalah amanah, dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah saw pernah bersabda yang artinya :

"Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya untuk apa diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan." (HR Tirmidzi)

Hadits ini mengajarkan kita agar tidak terlena oleh kesenangan dunia. Jangan sampai pergantian tahun hanya diisi dengan pesta, hura-hura, dan kemaksiatan. Sebaliknya, jadikanlah ia sebagai malam renungan dan tobat, malam untuk memohon ampun atas dosa-dosa yang telah lalu.

kaum Muslimin yang berbahagia,

Lalu, apa saja bekal yang seharusnya kita siapkan di pergantian tahun ini?

1. Bekal Iman dan Takwa

Inilah bekal utama yang paling berharga. Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

"Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS Al-Baqarah: 197). Takwa adalah menjaga diri dari murka Allah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

2. Bekal Amal Saleh

Setiap amal yang kita lakukan, sekecil apapun, akan kembali kepada kita.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barang siapa berbuat kebaikan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya); dan barang siapa berbuat kejahatan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya)."

(QS Az-Zalzalah: 7-8)

3. Bekal Taubat dan Istighfar

Tidak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi Allah Maha Pengampun bagi mereka yang bertaubat.

Rasulullah saw bersabda:

كُلُّ بَنِيْ آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُ ون" Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR Tirmidzi)

Maka, jadikan pergantian tahun sebagai saat terbaik untuk memohon ampun dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih.

Jamaah rahimakumullah...

Waktu adalah amanah yang sangat berharga. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Rasulullah saw bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang sering dilalaikan oleh banyak manusia: nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari)

Maka, sebelum tahun ini berakhir, marilah kita gunakan sisa waktu untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, menolong sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga tahun yang akan datang menjadi tahun penuh keberkahan, ketakwaan, dan kebaikan bagi kita semua.

Khutbah Jumat #7: Muhasabah Akhir Tahun Hijriyah

(sumber: Pondok Pesantren Lirboyo)

Ma'asyiral Muslimin yang berbahagia

Alhamdulillah sebentar lagi kita akan memasuki bulan Muharram. Bulan pertama Hijriyyah. Sebagai umat Islam, kita haruslah bersyukur dengan meningkatkan ketaqwan kita kepada Allah Swt, lebih giat beribadah dan beramal saleh.

Dengan datangnya tahun baru ini, marilah kita perbaharui taubat kita, mengoreksi diri kita masing-masing, seberapa banyak kesalahan yang kita perbuat, seberapa besar perbuatan zalim kepada diri sendiri? Sudahkah kita memperbaikinya, beristighfar keharibaan Ilahi Rabbi?

Akankah kita bisa memperbaikinya di tahun mendatang? Karena bukan seorang Mukmin yang sempurna jika hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, apalagi sampai mengalami penurunan.

Kaum Muslimin rahimakumullah
Kita perbaiki apa yang masih kurang pada diri kita, dan kita tingkatkan apa yang baik. Sebab bagaimanapun, diri kita sendirilah yang lebih mengetahuinya. Segala macam kesalahan yang diperbuat tidak akan bisa ditutupi, karena manusia itu sendiri yang akan menjadi saksi atas perbuatannya. Oleh karena itu Allah berfirman dalam surat Al-Qiyamah ayat 14 dan 15:

بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَة، وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَه

"Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya."

Dari sini, sebelum kita dihisab oleh Allah nanti di hari kiamat, kita teliti diri kita masing-masing. Di sana (ketika amal kita dihisab pada hari kiamat) semua perbuatan kita terbeber secara jelas. Dan diri kitalah yang akan menjadi saksi atas semua itu.

Tangan, kaki, mulut dan seluruh anggota badan kita akan menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan seperti tersebut dalam surat an-Nur ayat 24:

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."

Kaum Muslimin yang berbahagia
Pada dasarnya manusia mendapatkan perintah untuk muhasabah, mengoreksi dan meneliti pribadinya setiap saat. Sebabbarang siapa meneliti pribadinya sendiri, menghitung amal perbuatannya di dunia, niscaya perhitungan amalnya akan mudah di akhirat.

Dan manusia yang bertaqwa adalah mereka yang beramal untuk masa depan yang abadi, yaitu kebahagiaan di akhirat yang mendapatkan ridla dari Allah Swt. Sebaliknya, orang yang durhaka ialah mereka yang hanya selalu menuruti hawa nafsunya, akan tetapi dia mengharapkan kenikmatan dan anugerah di kemudian hari.

Betapa nistanya orang tersebut, mengharap buah dari apa yang tidak ia tanam. Ketakwaan seorang hamba tidak akan sempurna sampai ia mau bermuhasabah terhadap pribadinya sendiri. Sebagaimana dalam sebuah petuah dari Maimun bin Mahran:

لَا يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ

"Seseorang tidak akan bertakwa hingga ia mengoreksi pribadinya sebagaimana ia mengoreksi orang lain, dari mana ia mendapatkan makan dan pakaiannya?"

Kaum muslimin yang berbahagia
Muhasabah bukan berarti 'ujub, bukan menganggap diri paling benar. Sebab yang merasa pribadinya benar, walaupun ia benar, maka ia lebih jelek dari orang yang salah, namun ia merasa pribadinya salah. Yang tak habis pikir orang yang salah tapi merasa benar.

Oleh karena itu, kita haruslah menanam benih-benih kebaikan agar nantinya kita bisa menuai dan memetik buahnya. Muhasabah adalah sebuah anjuran dan perintah yang harus kita jalani sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Secara tersirat ayat tersebut merupakan anjuran muhasabah terhadap amal yang telah kita lakukan. Dari sini sahabat Umar bin Khattab RA berkata:

وَيُرْوَى عَن عُمَرَبنِ الخَطَّابِ قَالَ: حَاسِبُوا أَنفُسَكُم قَبلَ أَن تُحَاسَبُوا وَزِنُوهَا قَبلَ أَن تُوزَنُوا وَإِنَّما يَخِفُّ الحِسَابُ يَومَ القِيَامَةِ عَلَى مَن حَاسَبَ نَفسَهُ فِي الدُّنيَا

"Hitunglah amalmu sendiri sebelum kalian dihisab (di hari kiamat), dan timbanglah (amal) kalian sebelum (amal) kalian ditimbang (di hari kiamat). Dan pada hari kiamat hisab akan ringan hanya atas orang yang pada saat di dunia dia menghitung amalnya."Khutbah Jumat Dzulhijah

Kaum Muslimin yang berbahagia
Akhir taun ini adalah momen yang tepat untuk mengkoreksi segala aktivitas kita, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Namun yang terpenting adalah kehidupan masa depan kita, yaitu kehidupan kekal di akhirat yang mendapatkan ridha dari Allah. Marilah kita ayunkan langkah kita untuk menggapai cita-cita dan meraih segala impian kita.

Nah, itulah 7 khutbah Jumat terakhir Dzulhijjah 1447 H dengan topik muhasabah dan tobat. Semoga bermanfaat!




(num/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads