Unnes Tepis Maba PTS Turun gegara Seleksi PTN: Banyak Lulusan SMA Tak Kuliah

Unnes Tepis Maba PTS Turun gegara Seleksi PTN: Banyak Lulusan SMA Tak Kuliah

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 10 Jun 2026 18:44 WIB
Universitas Negeri Semarang (Unnes)
Universitas Negeri Semarang (Unnes). Foto: Laman Universitas Negeri Semarang
Semarang -

Universitas Negeri Semarang (Unnes) buka suara soal banyaknya jalur penerimaan mahasiswa baru yang disorot perguruan tinggi swasta (PTS). Unnes menyebut ada faktor banyak lulusan SMA yang tak lanjut kuliah.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor I Bidang Akademik UNNES, Zaenuri. Ia menilai, fenomena itu tidak semata-mata disebabkan panjangnya proses seleksi masuk PTN, melainkan ada faktor lain yang perlu ditelusuri.

"Kalau proses seleksi terlalu panjang, itu kami mengikuti regulasi. (Proses penerimaan) Sampai 31 Juli itu tidak hanya tahun ini, dari tahun ke tahun juga seperti itu. Jadi tidak ada perubahan dan itu bukan atas permintaan PTN," kata Zaenuri saat dihubungi detikJateng, Rabu (10/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan persoalan utama justru perlu dicari pada lulusan SMA yang tidak diterima di PTN tetapi juga tidak melanjutkan pendidikan ke PTS. Menurutnya, hal itu jadi salah satu faktor jumlah camaba di PTS menurun.

ADVERTISEMENT

"Yang perlu ditelusuri sebenarnya kenapa lulusan SMA yang tidak diterima di PTN itu belum tentu meneruskan ke PTS. Apakah mereka memilih berwirausaha atau kegiatan lain, itu yang belum kita tahu," ujarnya.

Zaenuri mengatakan secara hitungan sederhana, jumlah lulusan SMA seharusnya masih menyisakan pasar yang besar bagi PTS setelah sebagian terserap di PTN, jika lulusan SMA itu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Nah kalau ternyata jumlah yang masuk PTS tidak sebesar selisih itu, berarti ada faktor lain yang harus dicari," jelasnya.

Menurutnya, penurunan calon maba PTS bisa dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari peningkatan kuota PTN hingga keputusan para lulusan SMA tersebut yang memilih tidak melanjutkan pendidikan tinggi.

"Apakah karena kuota PTN meningkat atau memang mereka tidak meneruskan ke PTS dengan berbagai alasan, itu yang perlu ditelusuri," cetusnya.

Terkait usulan agar kuota PTN dikurangi, Zaenuri menegaskan penetapan kuota sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah melalui Kemdiktisaintek. Setiap tahun PTN diminta mengusulkan kuota penerimaan mahasiswa, tapi keputusan akhir berada di tangan kementerian.

"Kami hanya menyampaikan usulan kuota. Kemudian kementerian yang mengatur kuota masing-masing PTN, lalu kami menjalankan sesuai keputusan yang ditetapkan," ujarnya.

Zaenuri juga menegaskan proporsi penerimaan mahasiswa melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dan jalur mandiri telah diatur dalam regulasi pemerintah.

"Sudah ada regulasi kalau PTN BLU untuk SNBP minimum 20 persen, SNBT 40 persen minimum dan mandirinya maksimum 30 persen. Kemudian PTNBH SNBP minimum 20 persen, SNBT minimum 30 persen, SM maksimum 50 persen. Kuotanya sudah diatur," urainya.

Selain faktor minat lulusan SMA, Zaenuri menilai banyaknya jumlah PTS juga dapat memengaruhi distribusi calon mahasiswa. Menurutnya, hampir setiap kabupaten dan kota memiliki sejumlah PTS yang terus bertambah sehingga persaingan memperebutkan mahasiswa baru semakin ketat.

"PTS tumbuh dan berkembang cukup banyak. Di hampir setiap kabupaten dan kota ada PTS. Itu juga bisa menjadi salah satu faktor karena distribusi mahasiswa menjadi terbagi ke banyak kampus," jelasnya.

Zaenuri menambahkan, PTN dan PTS memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Sehingga perlu dikaji yakni faktor yang melatarbelakangi banyaknya lulusan yang memilih tak lanjut berkuliah.

"Kita sama-sama punya ikhtiar untuk ikut mencerdaskan bangsa. Yang perlu dicari sekarang adalah penyebab kenapa banyak lulusan yang tidak diterima di SNPMB kemudian tidak meneruskan ke PTS. Itu PR kita bersama agar angka partisipasi pendidikan tinggi bisa meningkat," pungkasnya.




(ams/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads