Teka-teki Tulisan 'Palyangan' di Batu Lingga Gang Buntu Gumulan Klaten

Round-Up

Teka-teki Tulisan 'Palyangan' di Batu Lingga Gang Buntu Gumulan Klaten

Tim detikJateng - detikJateng
Senin, 15 Jun 2026 08:00 WIB
Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026).
Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Arti kata 'Palyangan' yang terpahat di batu lingga di Desa Gumulan, Klaten, masih menjadi teka-teki. Belakangan diketahui bahwa tulisan serupa juga terbaca dari dua prasasti yang ditemukan di Klaten pada masa kolonial Belanda.

Teronggok di Gang Buntu

Batu lingga beraksara itu ditemukan di gang buntu antara rumah warga dan area parkir Masjid Al-Muttaqien di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten.

Lingga dari batu andesit dalam kondisi utuh itu tergeletak alias sudah tidak tertanam. Kakinya berupa kotak segi empat tetapi kemudian berbentuk silinder sampai puncak. Aksara itu terpahat pada bagian atas lingga. Pahatannya mirip huruf Jawa kuno atau Sansekerta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekitar 50 meter dari lokasi, tepatnya di tepi jalan depan masjid, juga ditemukan batu kotak menyerupai yoni yang ditanam di tanah.

"Kita bersama teman-teman pegiat sejarah blusukan ke sini karena kemarin ada informasi di dekat masjid Al Muttaqien ada lingga. Setelah ada laporan hari ini kita tindak lanjuti," kata Analis Cagar Budaya dan Koleksi Museum Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Klaten, Wiyan Ari Tanjung, kepada detikJateng di lokasi, Sabtu (13/6/2026).

ADVERTISEMENT

Wiyan mengatakan, posisi lingga itu terguling dan tertutup beberapa kayu. Setelah diangkat dan dibersihkan, ternyata ada aksaranya. Lingga itu kemudian didokumentasikan dan diukur.

"Bagian atas berbentuk silinder dan di bawah berbentuk persegi, berbahan batu andesit. Di tepi jalan depan masjid ada yang diduga Yoni posisi terpendam," ujar dia.

"Kondisi tulisan atau aksara masih bagus dan terbaca. Namun untuk memastikan hurufnya jenis apa, tahunnya berapa, isinya prasasti, mantra atau apa kita akan berkoordinasi dengan epigraf," imbuhnya.

Penampakan batu lingga yang ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Klaten, Sabtu (13/6/2026).Penampakan batu lingga yang ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Klaten, Sabtu (13/6/2026). Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng

Temuan Yoni Tengkurap

Selain menemukan batu lingga bertulis itu, tim pegiat sejarah juga menemukan yoni.

"Di sekitar lokasi kita temukan diduga yoni rusak, atau kemungkinan knock down (terbalik). Ini di dekat jalan di depan masjid posisinya terpendam," kata pegiat sejarah Klaten, Yohanes Sudaryanto alias Yoan di lokasi, Sabtu (13/6).

Menurut Yoan, dua benda itu kemungkinan dari era Medang (Mataram kuno). Sedangkan jika dilihat dari bentuk aksaranya mirip era Medang Jawa Timur (Medang yang pindah ke Jatim).

"Cuma kita melihat bentuk aksaranya mungkin mirip era Jawa Timur. Tapi apakah penulisan aksara di era Medang juga menggunakan aksara yang sama khusus untuk angka tahun atau mungkin seperti aksara-aksara Kawi untuk hurufnya," jelas Yoan.

Wiyan menambahkan, yoni itu dalam posisi terpendam, hanya terlihat permukaan atasnya.

"Dimensi 45 x 45 sentimeter dan tinggi tampaknya hanya 19 sentimeter. Hanya tampak atas karena sebagian terpendam aspal, " ujar Wiyan.

Wiyan menambahkan, warga sekitar tidak banyak mengetahui soal yoni dan lingga tersebut. Oleh warga, dua batu itu disimpan di dekat masjid.

Berhuruf Jawa Abad 9 M

Menurut pakar epigraf, Goenawan A Sambodo, lingga itu diperkirakan dibuat pada abad 9 Masehi.

"Kisaran abad 9 Masehi kalau dari penglihatan saya berdasar bentuk aksaranya," kata Goenawan saat dimintai konfirmasi detikJateng, Minggu (14/6/2026).

Goenawan sudah mencoba membaca tulisan pada lingga tersebut. Tulisan dalam prasasti itu berbunyi 'Palyangan'.

"Untuk aksara Jawa kuno, terbaca sementara seperti yang sudah ditulis Mas Yoan (pegiat sejarah Klaten) di Facebooknya. Artinya belum pasti, masih dalam proses pencarian," ujar Goenawan.

Pegiat sejarah Klaten, Yohanes Sudaryanto alias Yoan, menyatakan tulisan pada prasasti itu sudah terbaca oleh pakar epigraf Goenawan A Sambodo. Tulisannya berbunyi 'Palyangan'.

"Palyangan, mungkin nama sebuah wilayah, mungkin ya," ungkap pria yang akrab disapa Yoan itu kepada detikJateng.

Menurut Yoan, lingga patok prasasti itu mungkin patok wilayah yang biasanya tidak hanya satu. Namun artinya apa juga belum bisa dipastikan

"Jadi belum bisa diartikan. Tapi saya sempat mencari tahu, secara harfiah dalam bahasa Sansekerta, kata Palyangan tidak ditemukan sebagai kosakata baku yang memiliki arti tunggal," terang Yoan.

Yoan menjelaskan Palyangan sering merujuk kosakata lokal atau serapan dalam budaya Jawa. Ada pula kemungkinan makna lainnya.

"Istilah ini lebih sering merujuk pada kosakata lokal atau serapan dalam budaya Jawa, nama wilayah atau prasasti dalam konteks sejarah, Palyangan dikenal sebagai nama sebuah desa dan nama sebuah prasasti dari abad IX-X Masehi (Prasasti Palyangan) di Jawa Tengah," sambung Yoan.

"Dalam sistem agraria tradisional di Jawa, istilah Playangan (atau Palyangan) merujuk pada jenis tanah pertanian komunal milik desa yang digarap oleh warga setempat secara bergilir atau tetap," imbuhnya.

Kesaksian Warga

Menurut warga setempat, batu prasasti itu sudah lama berada di lokasi dan tidak diketahui asalnya.

"Kata orang tua-tua, sebelum ada masjid sudah ada batu itu. Sudah lama di situ," kata warga sekitar, Ratno (52) kepada detikJateng, Minggu (14/6/2026).

Menurut Ratno, posisi batu itu tidak pernah dipindahkan warga atau pemilik rumah. Batu lingga tesebut juga tidak ada yang merawat secara khusus.

"Tidak ada yang merawat, ya cuma di situ. Tidak tahu batu apa," ungkap Ratno.

Ratno menceritakan Masjid Al Muttaqien di selatan lokasi batu lingga itu ditemukan juga merupakan masjid kuno. Masjid itu sudah ada sejak zaman dulu.

"Ya kuno, dulu tidak sebesar ini, dulu kecil, tanahnya tinggi. Pintu masuknya kecil dari kayu," ujar dia.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Sadimin (65). Dia menyebut bangunan kuno di area itu ada masjid dan makam.

"Ya masjid ini katanya kuno sama makam itu pertigaan ke kiri. Makam Wirobongso," katanya kepada detikJateng.

Mirip 2 Prasasti Temuan Belanda

Lingga prasasti itu ternyata memiliki kesamaan dengan dua prasasti lain yang ditemukan pada masa kolonial Belanda, yaitu prasasti yang ditemukan di Srago dan Mudal, Klaten.

Dukuh Srago saat ini masuk wilayah Kelurahan Mojayan, Klaten Tengah. Jaraknya hanya sekitar satu kilometer di barat Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Klaten Tengah.

Sedangkan Dukuh Mudal saat ini masuk wilayah Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, Klaten. Jarak Dukuh Mudal juga sekitar satu kilometer di utara Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah.

Dalam buku laporan Dr. J.L.A Brandes berjudul Oud- Javaansche Oorkonden (terbitan 1913) yang dilihat detikJateng, isi prasasti yang ditemukan di Srago dan Mudal ditulis jelas. Satu alenia tentang prasasti Mudal berbunyi:

"In de bestuurs-vergadering van het Bataviaasch Genootschap, van 4 September 1888 (zie de Notulen van dat jaar, pag. 154, VII, a) deelde Dr. J. L. A. Brandes schriftelijk het volgende meé: Door tussehenkomst van den heer G. P. Rouffaer, werd ik in kennis gesteld van het bestaan van een voor de helft verminkte lingga (2), in der tijdgevonden in een sawah van desa Moedal, op 1/ 2 paal ten N. 0. van Klaten. Deze lingga (?). die sedert eenigen tijd overgebracht is naar de van den heer van der Spek, administrateur der indigo-onderneming Jonggrangan, is in de richting der lengte-as in tweeën gespleten, en draagt eopsehritt, waarvan een gedeelte, met een stuk van den steen is verloren ge Uit een afschrift, dat de heer Rouffaer bij zijn bericht zond bljkt het opschrift luidde: Palyangan.

Terjemahan:
Pada rapat dewan Batavia Society tanggal 4 September 1888 (lihat Risalah tahun itu, halaman 154, VII, a), Dr. J. L. A. Brandes menyampaikan hal berikut secara tertulis: Bapak G. P. Rouffaer, saya diberitahu tentang keberadaan lingga (?) yang setengah rusak, yang ditemukan pada saat itu di sawah di desa Moedal, pada titik 1/2 di timur laut Klaten. Lingga (?) ini, yang beberapa waktu lalu dipindahkan ke tambang milik Bapak van der Spek, pengelola perkebunan indigo Jonggrangan, terbelah menjadi dua di sepanjang sumbu longitudinal, dan terdapat prasasti, yang sebagiannya telah hilang bersama dengan sebagian batunya. Berdasarkan salinan yang dikirim oleh Bapak Rouffaer bersama pesannya, tampaknya tulisan tersebut berbunyi: Palyangan.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi menjelaskan, merujuk laporan J.L.A Brandes, di Srago dan Mudal ditemukan lingga prasasti menyerupai prasasti Jogodayoh Lor. Prasasti Srago dan Mudal ditemukan berbeda tahun.

"Prasasti Srago ditemukan tahun 1886 dan prasasti Moedal tahun 1888. Untuk yang Mudal prasastinya hilang di Jonggrangan sebagaimana laporan Brandes itu," kata Hari kepada detikJateng, Minggu (14/6/2026) siang.

Menurut Hari, kedua prasasti itu sama dengan prasasti temuan di Jogodayoh Lor yang bertulisan kata palyangan. Dari sisi bentuk lingga dan aksara yang digunakan juga sama.

"Aksaranya sama (Jawa kuno) abad 9-10 Masehi, mirip Jawa Timur tapi cuma dibikin lebar, melesak ke bawah," ujar Hari.

Hari menjelaskan, temuan di Srago itu dilaporkan di rapat Batavia Society tanggal 7 September 1886 oleh Brandes yang menyatakan ditemukan tiang batu di perkebunan Srago dekat Klaten. Tiang itu berbentuk silinder pendek bagian atas kerucut, alas persegi, tinggi 75 sentimeter dan diameter 36 sentimeter.

"Berbentuk silinder pendek dengan bagian atas kerucut, alas persegi, tinggi 75 sentimeter dan diameter 36 sentimeter. Pada bagian samping tengah silinder juga tertulis tulisan Jawa kuno, berbunyi Palyangan," sebut Hari.

Hari mengatakan, prasasti Srago dibawa ke Batavia atau Jakarta dan disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.51 sampai sekarang. Sedang Prasasti Mudal hilang, sebagaimana laporan Brandes.

"Prasasti Mudal hilang saat dibawa administratur pabrik Jonggrangan, hilang tapi sudah dicatat Brandes. Bacaan aksaranya sama yaitu palyangan, bentuk aksaranya juga sama, bentuk fisiknya juga sama. Jadi ada kesinambungan dua prasasti tersebut dengan prasasti yang kemarin ditemukan di Dukuh Jogodayoh. Terlebih jarak Jogodayoh Lor, Srago, Mudal, itu tidak terlalu jauh," ungkap Hari.

"Secara fisik ukuran dan bentuk prasasti ketiganya hampir sama, Srago dan Mudal itu tinggi 75 sentimeter dan Jogodayoh Lor sekitar 80 sentimeter, bentuknya dwibagha juga, kubus di bawah dan atas silinder yang ada aksaranya tersebut," pungkas Hari.

Halaman 2 dari 2
(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads