Misteri Tugu Soeharto, Monumen Keramat di Pinggir Tempuran Kali Semarang

Misteri Tugu Soeharto, Monumen Keramat di Pinggir Tempuran Kali Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 16 Jun 2026 07:30 WIB
Tugu Soeharto di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang, Jumat (12/6/2026).
Tugu Soeharto di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang, Jumat (12/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Kota Semarang memiliki sebuah tugu bersejarah yang misterius dan dikeramatkan oleh sejumlah orang. Berada di pertemuan dua aliran sungai, Tugu Soeharto memiliki cerita mistis yang beredar turun-temurun.

Pantauan detikJateng, Kamis (11/6/2026), Tugu Soeharto terletak di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur. Tepat di samping tugu, terdapat sungai yang menjadi pertemuan aliran Kali Kreo dan Kali Garang, sehingga dikenal dengan istilah 'tempuran'.

Tugu setinggi kurang lebih 8 meter itu menjulang di tengah semak belukar yang jarang terjamah warga. Meski di aliran sungai itu juga terkadang tampak ada beberapa pemancing serta anak-anak yang berenang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlihat di bagian bawah tugu tertulis waktu didirikannya tugu misterius itu, yakni 'Djumat Legi 30-9-1965/1-10-1965'. Tertulis juga huruf Aksara Jawa berbunyi 'Sa Sa Sa', berarti 'sabar, sareh, saleh'. Sareh sendiri memiliki arti tidak gegabah atau hati-hati.

ADVERTISEMENT

Sesuai dengan namanya, Tugu Soeharto dikenal sebagai lokasi yang diyakini berkaitan dengan kisah Presiden ke-2 RI, Soeharto, saat masih bertugas di Kodam IV Diponegoro. Pakar sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Tsabit Azinar Ahmad mengatakan ada cerita turun temurun yang menyebut tugu tersebut dibangun oleh tokoh spiritual yang dekat dengan Soeharto.

"Katanya didirikan oleh tokoh spiritual yang dekat dengan Pak Harto. Tetapi ini juga masih berdasarkan sumber lisan," jelas Tsabit kepada detikJateng.

Selain dikenal karena kisahnya terkait Soeharto, tambahnya, lokasi tugu yang berada di pertemuan dua sungai itu turut membuat kawasan itu dianggap sakral oleh sebagian masyarakat Jawa.

"Dalam pemahaman orang Jawa, sungai merupakan tempat pembersihan. Apalagi tempuran, yaitu titik pertemuan dua aliran sungai. Nilai sakralnya menjadi lebih besar," ujar Tsabit.

Bagi dosen Fakultas Ilmu Sosial itu, fenomena tersebut menunjukkan bahwa Tugu Soeharto tidak hanya menyimpan cerita sejarah, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat memori.

"Kalau dilihat dari perspektif sejarah, ritual yang masih dilakukan di sana merupakan bentuk merawat memori. Orang masih mengingat nilai-nilai budaya Jawa sekaligus cerita yang melekat pada tempat itu," ujarnya.

"Kalau memiliki nilai penting bagi sejarah dan budaya masyarakat, sebenarnya bisa dikaji untuk diusulkan menjadi cagar budaya," sambungnya.

Sejarah Tugu Soeharto memang masih banyak menyimpan misteri termasuk kapan pastinya monumen itu dibangun. Bahkan tanggal yang tertera yaitu 'Djumat Legi 30-9-1965/1-10-1965' masih belum bisa dipastikan apakah berhubungan dengan peristiwa G 30S PKI.

"Saya kira kok tidak ada kaitannya ya. Saya belum riset tentang itu," jelasnya.

Tugu Soeharto di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang, Jumat (12/6/2026).Tugu Soeharto di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang, Jumat (12/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Salah seorang warga sekitar, Supriyanto (56), mengatakan secara turun-temurun lokasi itu memang dikenal keramat terutama di malam 1 suro. Kegiatan klenik cukup beragam dilakukan oleh masyarakat yang datang.

"Biasanya paling jam 00.00 WIB kungkum di bawah, cari tempat yang agak gelap, sama bawa kembang, jamas keris, cari wangsit. Tergantung orangnya ingin apa, misal ingin naik pangkat, rumah tangganya tentram," kata Supriyanto.

Cerita-cerita mistis pun sudah tak lagi menyeramkan bagi warga sekitar. Mereka telah terbiasa mendengar cerita mistis, bahkan Supriyanto mengaku pernah melihat sendiri hal-hal gaib di sungai tersebut.

"Di pojokan tembok itu ada buaya putih, terus ada buto. Sempat pas itu terlalu meriah, ada pesta, wayang kulit. Mungkin karena terlalu bising, yang gaib ndak terima," ucapnya.

"Jadi ada yang kesurupan, kesannya kayak disuruh berhenti. Kembang apinya ndak boleh, soalnya terlalu ramai. Dia (hal gaib) ndak senang," lanjutnya.




(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads