Malam 1 Suro dan Segala Ritualnya di Tugu Soeharto Semarang

Malam 1 Suro dan Segala Ritualnya di Tugu Soeharto Semarang

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Selasa, 16 Jun 2026 08:30 WIB
Tugu Soeharto di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang, Jumat (12/6/2026).
Tugu Soeharto di Kelurahan Bendan Duwur, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang, Jumat (12/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Tugu Soeharto Semarang, sebuah monumen di Kecamatan Gajahmungkur yang lekat dengan perayaan 1 Muharram atau 1 Suro. Tempat yang seolah tidak dijamah ini mendadak bakal ramai orang-orang menjalani ritual berupa 'kungkum' atau berendam di malam hari.

Malam sebelum 1 Muharram atau malam 1 Suro, tugu yang terletak di Kelurahan Bendan Duwur ini didatangi karena dipercaya merupakan lokasi keramat. Hal itu karena berada tepat di tempuran kali, alias tempat pertemuan dua sungai yaitu aliran Kali Kreo dan Kali Garang.

Tugu setinggi kurang lebih 8 meter itu menjulang di tengah hamparan rerumputan tinggi. Di hari biasa, akan ada beberapa pemancing serta anak-anak berenang di sekitar sungai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana akan sangat berbeda ketika petang pada malam 1 Suro. Terlebih lagi kini warga sekitar seperti merayakan dan menyiapkan berbagai hiburan dan juga membuka stan UMKM.

ADVERTISEMENT

Salah satu warga yang telah puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut, Supriyanto (56), mengatakan orang-orang yang datang untuk ritual kungkum tak hanya warga Kota Semarang, tetapi ada juga dari warga luar Kota Semarang.

"Biasanya paling jam 00.00 WIB kungkum di bawah, cari tempat yang agak gelap, sama bawa kembang, jamas keris, cari wangsit. Tergantung orangnya ingin apa, misal ingin naik pangkat, rumah tangganya tentram," kata Supriyanto kepada detikJateng, Kamis (11/6/2026).

Karena sudah semakin banyak masyarakat yang mengetahui cerita keramat Tugu Soeharto, Supriyanto menyebut suasana di malam 1 Suro pun kini sudah lebih ramai. Oleh karenanya, warga luar kota yang hendak mencari wangsit baru akan mulai semedi sekitar pukul 01.00 WIB.

"Jadi kadang yang dari luar kota jam 01.00-02.00 WIB ke sininya, pas sepi. Nanti yang semedi ada dari Klaten, Sukoharjo, sampai pagi, kadang sampai jam 04.00 WIB, nyari wangsit," ucapnya.

Supriyanto mengaku selama 18 tahun tinggal di sekitar Tugu Soeharto, telah menyaksikan berbagai aktivitas spiritual di kawasan tersebut saat malam 1 Suro. Ia bahkan pernah menemani orang yang melakukan ritual kemudian tiba-tiba berlari untuk mendapatkan benda gaib.

"Ada yang cari akik. Kemarin ada yang semedi di atas jembatan, sama aku lagi berdiri. Tahu-tahu lari ke sungai, dapat liontin pink ada kembang-kembange, ada isinya yang gaib gitu," ucapnya.

Tugu ini dipercaya secara turun temurun merupakan tempat persembunyian dari Presiden ke-2 RI, Soeharto ketika masih bertugas di militer kemudian dikejar penjajah pada masa perang kemerdekaan. Belum ada catatan sejarah namun kisah itu tetap dijaga hingga sekarang.

Camat Gajahmungkur, Al Frida, mengatakan warga sekitar terutama di RW 4 menggelar pasar malam dengan diisi berbagai kegiatan seperti doa bersama dan pentas seni. Selain itu juga ada stan UMKM yang berjajar dari mulai SPBU Bendan Duwur hingga jembatan di atas Tugu Soeharto.

"Memperingati Malam 1 Suro, panitia RW 4 mengadakan budaya tahunan yaitu pasar malam, pengajian, doa bersama dan pentas seni," kata Camat Gajahmungkur, Al Frida, melalui pesan singkat kepada detikJateng.

Pakar sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dr. Tsabit Azinar Ahmad menjelaskan, ada dua faktor yang membuat Tugu Soeharto dianggap sakral oleh warga sekitar hingga penduduk luar Kota Semarang.

"Pertama, Tugu Soeharto itu sejarahnya berkaitan dengan tempat yang dulu pernah digunakan oleh Soeharto ketika dalam kejaran Belanda. Tetapi sumbernya masih cerita-cerita lisan yang berkembang di masyarakat," kata Tsabit.

"Ada yang bilang itu waktu Agresi Militer 1948. Bisa saja benar karena Pak Harto cukup lama bertugas di Jawa Tengah, tetapi secara sejarah ini masih perlu dibuktikan," sambungnya.

Tsabit menjelaskan pertemuan Kali Garang dan Kali Kreo dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai lokasi yang memiliki kekuatan spiritual sehingga kerap digunakan untuk ritual pembersihan diri, khususnya pada 1 Suro.

"Ketika ada dua aliran yang bertemu, itu dianggap tempat sakral. Karena itu banyak orang melakukan kungkum, terutama pada malam 1 Suro yang juga dianggap sebagai momen sakral," tuturnya.

"Ketika masyarakat meyakini pernah digunakan oleh tokoh besar dan kemudian tokoh itu selamat, maka tempat tersebut dianggap memiliki makna historis dan simbolis," lanjutnya.

Bagi dosen Fakultas Ilmu Sosial itu, fenomena tersebut menunjukkan bahwa Tugu Soeharto tidak hanya menyimpan cerita sejarah, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat memori.

"Kalau dilihat dari perspektif sejarah, ritual yang masih dilakukan di sana merupakan bentuk merawat memori. Orang masih mengingat nilai-nilai budaya Jawa sekaligus cerita yang melekat pada tempat itu," ujarnya.

"Kalau memiliki nilai penting bagi sejarah dan budaya masyarakat, sebenarnya bisa dikaji untuk diusulkan menjadi cagar budaya," sambungnya.




(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads