Aliansi mahasiswa Semarang menggelar aksi demonstrasi di halaman kompleks gubernuran, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Mereka membawa lima tuntutan, termasuk reformasi Prabowo-Gibran.
Pantauan detikJateng, Senin (15/6/2026), aksi dimulai pukul 16.30 WIB. Mereka membawa berbagai poster tuntutan seperti 'Reformasi Mati', hingga 'Saatnya Reformasi'.
Tampak aksi sore ini terbagi menjadi dua komando, yakni aliansi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang mengatasnamakan BEM Semarang Raya (Sera) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Semarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tampak mahasiswa HMI Semarang sempat membakar ban saat salah satu peserta aksi berorasi. Namun tak bertahan lama, ban yang dibakar dan menimbulkan asap hitam pekat itu langsung dipadamkan oleh polisi, sehingga kabut putih menutupi Jalan Pahlawan.
Saat kondisi kian tegang pada pukul 17.08 WIB, mahasiswa yang berada di bawah komando BEM Sera itu sempat membubarkan diri karena tak mau terlibat kericuhan. Namun pukul 17.18 WIB mahasiswa dan mobil komando mereka kembali mendatangi halaman Gubernuran.
Presiden BEM UNNES, Septia Linasari, mengatakan aksi hari ini bertajuk 'Panca Tuntutan Rakyat' alias Pantura. Ia menyebut, ada lima tuntutan yang dibawa mahasiawa.
"Tuntutan hari ini kita singkat jadi Pantura atau Panca Tuntutan Rakyat. Pertama, turunkan harga BBM dan stabilkan nilai rupiah. Kedua, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi yang sebenarnya. Ketiga, evaluasi total terkait MBG dan KDMP atau program-program yang populis," urainya.
Massa mahasiswa demo bakar ban di Jalan Pahlawan Semarang, Senin (15/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
"Tuntutan keempat adalah kembalikan tanah kepada rakyat, dan kelima adalah penghapusan atau pemberhentian KKN di pemerintahan Prabowo-Gibran. Tuntutannya ada lima itu," lanjutnya.
Selain diikuti mahasiswa Semarang Raya, kata Septi, aksi juga diikuti mahasiswa dari Banyumas Raya. Mereka membawa boneka jelangkung yang kepalanya dibakar dupa. Mereka terus menyerukan 'reformasi!'.
"Prosesi pembakaran ataupun yang lain menjadi simbol bahwasanya kita memang sedang marah. Kita kemarin mengonsolkan bahwa tidak ada satu aksi pun yang pada akhirnya ditemui," ucapnya.
"Walaupun ditemui, tapi tidak ada tindak lanjut secara konkret. Di sini kita hanya mencoba untuk menarik atensi masyarakat, bahwa Indonesia saat ini tidak baik-baik saja," lanjutnya.
Sebelumnya, mereka sempat berhenti di Tugu Muda dan Pertamina. Hal itu, kata Septia ditujukan untuk memantik perhatian masyarakat.
"Memantik masyarakat bahwa mereka tidak sendiri. Ketika memang pada akhirnya tercekik, sampaikan saja aspirasinya seperti apa," ucapnya.
(afn/ams)

