Rapat Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bersama Pelaksana Pelindung Keraton Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, dan kubu Paku Buwono XIV Purbaya telah rampung. Rapat berlangsung selama satu jam di ruang Natapraja, Balai Kota Solo.
Kubu PB XIV Purbaya dihadiri oleh Putri Paku Buwono XIII, yakni GKR Panembahan Timoer Rumbay, GKR Devi Lelyana, dan GKR Dewi Ratih Widyasari. Selain itu, hadir pula putra-putri PB XII serta Kuasa Hukum PB XIV Purbaya, KPAA Ferry Firman Nurwahyu.
Kubu Paku Buwono XIV Mangkubumi diwakilkan oleh Ketua LDA GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, KPH Eddy Wirabhumi, GRAj Putri Purnaningrum, KGPH Puger, KGPH Madukusumo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Pemkot Solo hadir Sekretaris Daerah (Sekda), Budi Murtono, Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum Kota Solo, Aryo Widyandoko dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo, Maretha.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Budi Murtono, menjelaskan bahwa esensi dari pertemuan tersebut adalah untuk memberikan dukungan penuh dari pihak pengamanan dan pemerintah daerah agar seluruh rangkaian kegiatan keraton berjalan lancar.
"Intinya kan kita sudah menyampaikan kepada pihak keluarga besar Keraton Kasunanan, bahwa Pemkot sama dengan seluruh aparat keamanan, TNI, Polri tadi, terus juga ada Forkopimda yang lain, kita mendukung kegiatan itu agar bisa berjalan dengan baik dan lancar, agar bisa berjalan dengan baik dan lancar. Nah, tadi kan dari semua pihak yang ada di Keraton kan memaparkan ya, menyampaikan rencananya seperti ini, rencananya seperti ini. Nah, kita mensinkronkan itu aja," ujar Sekda saat ditemui usai pertemuan dengan Keraton Solo, Senin (15/6/2026).
Budi Murtono mengatakan bahwa, fokus utama Pemkot adalah menyelaraskan pelaksanaan di lapangan agar tidak terjadi gesekan.
"Oh, mungkin tidak menjadi satu, tapi pelaksanaannya agar biar berjalan dengan baik, bisa saling ada pemahaman dan saling bisa memberi ruang untuk pelaksanaan kegiatan di sana. Semakin kerja sama seperti itu," jelasnya.
Lebih lanjut, dirinya menyebut bahwa untuk rangkaian Kirab Pusaka Malam 1 Suro digelar di waktu yang bersamaan. Di mana, nanti ada satu pihak yang lebih dulu dan disusul pihak lainnya.
"Hampir sama, hampir sama. Cuma tadi intinya ada, ada pemahaman bahwa ketika ada satu yang sudah duluan, nanti yang satu akan mau mengalah di belakang, seperti itu tadi," ucapnya.
Budi sendiri enggan membocorkan pihak mana yang akan melakukan kirab terlebih dahulu.
"Nggak bisa ya (spil yang mana lebih dulu). Nanti saya tak lapor Pak Wali dulu hasil hari ini ya," ucapnya.
Tanggapan Kubu PB XIV Purbaya
Dari pihak PB XIV Purbaya sendiri enggan mengungkapkan hasil pertemuan dengan Tedjowulan dan Pemkot Solo. Kuasa hukum PB XIV Purbaya, KPAA Ferry Firman Nurwahyu mengatakan bahwa kirab Malam 1 Suro tetap akan digelar.
"Iya tetap digelar. (Kirab sendiri-sendiri?) Nggak. Di mana ada sendiri-sendiri, Rajanya kan cuma satu," katanya usai pertemuan dengan Tedjowulan dan Pemkot Solo, Senin (15/6/2026).
Dari keterangan tertulis yang dibagikan, Ferry mengatakan bahwa suksesi Keraton Solo berdasarkan paugeran, garis-garis keturunan (nasab), tradisi adat, legitimasi spiritual, dan hukum yang berlaku.
Ia mengatakan penegasan tersebut disampaikan melalui Sabda Sri Susuhunan SISKS Pakoe Boewono XIII Nomor 001 Tahun 2025, yang diterbitkan di Surakarta pada 25 Januari 2025 sebagai pedoman resmi tata pemerintahan Karaton sekaligus sebagai upaya mengakhiri konflik internal berkepanjangan yang telah menimbulkan dualisme kepemimpinan di lingkungan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
"Sabda tersebut menegaskan bahwa suksesi takhta Karaton merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip luhur kebudayaan Jawa yang diwariskan secara turun-temurun sejak masa Sri Susuhunan Pakoe Boewono II hingga Sri Susuhunan Pakoe Boewono XIII," terangnya.
"Dalam tradisi Karaton Jawa, pewarisan takhta pada prinsipnya dilakukan berdasarkan garis keturunan raja yang sah, penunjukan Putra Mahkota oleh raja yang berkuasa, kesiapan spiritual dan moral calon penerus, serta penghormatan terhadap paugeran yang telah menjadi landasan keberlangsungan institusi Karaton selama berabad-abad," bebernya.
LDA Keluarkan Pusaka dari Sasana Pustaka
Ketua LDA Kraton Surakarta, GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, mengungkapkan bahwa pihak LDA bersama Tedjowulan telah siap melaksanakan prosesi kirab yang dijadwalkan pada, Selasa (16/6) besok.
"Kami dari keraton dengan saya sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat, dengan Panembahan sudah siap melaksanakan," ujar Gusti Moeng saat ditemui wartawan.
Gusti Moeng menjelaskan, pihaknya akan mengeluarkan sejumlah pusaka dari Sasana Pustaka. Pusaka-pusaka tersebut tercatat sudah empat kali diikutsertakan dalam prosesi kirab sebelumnya.
"Pusaka kan keraton banyak dan pusaka yang akan kami kirab itu kan sudah empat kali ikut juga, untuk melengkapi yang dari Sasana Pustaka," jelasnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya penggabungan kirab dengan kubu PB XIV Purbaya, Gusti Moeng mengaku belum mengetahui secara pasti detail teknis dari pihak sebelah. Namun, berdasarkan informasi yang ia terima kubu PB XIV Purbaya kabarnya tidak akan mengeluarkan pusaka dari kamar pusaka utama.
"Saya enggak tahu, enggak begitu jelas. Hanya tadi pemahaman dari Pak Sekda dan yang ikut seperti Gusti Panembahan, menyampaikan kalau dia (Sasana Putra) akan melakukan kirab, tapi tidak mengeluarkan pusaka dari kamar pusaka," ungkap Gusti Moeng.
Ia juga mengaku tidak tahu-menahu apakah jam pelaksanaan kirab antar-kelompok tersebut akan bertabrakan atau tidak.
"Saya enggak tahu kalau dia mengadakan kirab itu akan jam berapa," imbuhnya. Meski demikian, untuk kirab dari pihak LDA dipastikan akan dimulai pukul 12.00 WIB seperti biasa.
Respons Tedjowulan Puas
Pelaksana Pelindung Keraton Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, mengatakan rapat berjalan lancar. Menurutnya, rapat tidak dihadiri oleh PB XIV Mangkubumi maupun PB XIV Purbaya.
"Baik kok tadi Alhamdulillah baik semua, saya bersyukur, Semua baik, iya puas. Hanya tadi Purboyo enggak ada, Mangkubumi juga enggak ada," ujarnya.
Gusti Tedjowulan menyebut bahwa kirab pusaka ini akan berjalan bersama-sama dalam satu kesatuan rute. Teknis iring-iringan dipastikan akan mengulang kesuksesan format kirab yang sudah berjalan pada tahun-tahun sebelumnya.
"Iya, menjadi satu. Menjadi satu, nggih," tegasnya.
Saat disinggung mengenai kabar bahwa pihak PB XIV Purbaya tidak akan mengeluarkan pusaka keraton dalam kirab Malam 1 Suro, Gusti Tedjowulan enggan memberikan komentar banyak dan meminta awak media untuk mengonfirmasi langsung ke pihak yang bersangkutan.
"Wah, enggak tahu saya. Tanya sana. (Mungkin tadi dari hasil rapatnya, nu, pusaka) pusaka parang koco kali ya," pungkasnya.
