Tragis Pasien di Karanganyar Meninggal gegara Ambulans Terhalang Konvoi Silat

Tragis Pasien di Karanganyar Meninggal gegara Ambulans Terhalang Konvoi Silat

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Senin, 22 Jun 2026 18:37 WIB
Ilustrasi ambulans.
Ilustrasi ambulans. Foto: Istock
Karanganyar -

Nasib tragis dialami Hadi Sukat (61) warga Dukuh Bulurejo, Desa/Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar. Dia meninggal dunia karena terlambat mendapatkan penanganan medis saat kondisinya kritis gegara ambulans terhalang konvoi pesilat.

Salah seorang relawan, Agung, mengatakan dia dibangunkan keluarga korban pada Minggu (21/6/2026) pukul 02.30 WIB. Saat itu kondisi korban sudah kritis di rumah.

"Saat saya lihat, kondisinya mendengkur, lemas, setengah sadar, dan keringat bercucuran. Sepertinya terkena serangan jantung, tapi dia memiliki riwayat gula. Sudah sering kontrol RS PKU (Karanganyar)," kata Agung saat dihubungi detikJateng, Senin (22/6).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Agung kemudian mencari ambulans di basecamp. Ternyata dua unit ambulans sedang keluar untuk membantu pengondisian di tempat lain.

ADVERTISEMENT

Dia menghubungi salah satu sopir ambulans untuk segera kembali. Namun dari sopir menyatakan masih terjebak konvoi salah satu perguruan silat di kawasan Tugu Ngipik, Karangpandan.

Ambulans yang hendak menuju lokasi pasien harus melewati sejumlah titik yang dipadati massa. Bahkan, kendaraan disebut sempat tertahan cukup lama di kawasan jembatan arah timur dan sekitar terminal Karangpandan.

"Saya menunggu ambulans ke basecamp cukup lama, kalau tidak terhalang mungkin 5 menit sudah sampai. Nunggunya sekitar setengah jam, kalau lalulintas normal paling 5 menitan," jelasnya.

Akhirnya ambulans datang. Sedianya pasien mau dibawa ke RS PKU Karanganyar, namun karena pasien sudah semakin kritis akhirnya dibawa ke Puskesmas Karangpandan.

Dalam perjalanan, ambulans sempat tertahan sebentar di simpang empat Karangpandan oleh konvoi salah satu perguruan silat tersebut.

"Dari rumah ke Puskesmas juga sempat terhambat sedikit oleh kerumunan massa, tapi tidak begitu lama. Ambulans diberi jalan, tapi ada satu dua motor yang nekat. Tapi ambulans tetap bisa jalan, meski kerumunan massanya banyak," terangnya.

Nahas, sesampainya di Puskesmas Karangpandan, pasien sudah dinyatakan meninggal dunia. Agung tidak bisa memastikan kapan pasien meninggal dunia, sebab dia fokus pada pengondisian pasien untuk segera dibawa ke Faskes.

"Saat saya bawa sudah tidak mendengkur, yang di belakang istrinya tapi nangis terus. Saat sampai Puskesmas, dicek sudah tidak ada," ujarnya.

Dalam kondisi seperti itu, kata Agung, ambulans yang melintas tanpa membawa pasien sering disalahpahami. Ambulans kosong bukan berarti tidak sedang menjalankan tugas, dan tetap harus diberi prioritas.

"Ambulans kosong sering dianggap tidak membawa pasien. Padahal bisa saja sedang menuju lokasi untuk menjemput pasien atau menjalankan tugas darurat lainnya," pungkasnya




(apl/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads