48 SD Negeri di Boyolali Diregrouping Jadi 24, Ini Sebabnya

48 SD Negeri di Boyolali Diregrouping Jadi 24, Ini Sebabnya

Jarmaji - detikJateng
Kamis, 25 Jun 2026 16:26 WIB
Ilustrasi Pelajar SD, Ilustrasi sekolah dasar, ilustrasi pelajar
Ilustrasi sekolah dasar. Foto: Pradita Utama
Boyolali -

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali resmi melakukan regrouping Sekolah Dasar Negeri (SDN) dalam tahun ajaran baru 2026/2027. Ada 48 sekolah yang digabung menjadi 24 SD.

Kepala Disdikbud Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, mengatakan regrouping 48 SD tersebut telah melalui kajian tim verifikasi. Penggabungan dilakukan untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, mutu, dan keberlangsungan layanan pendidikan dasar tersebut kepada masyarakat.

Selain itu juga bertujuan mewujudkan pemerataan akses pendidikan di Kabupaten Boyolali. Ada kriteria sekolah yang digabung tersebut didasarkan pada tiga pertimbangan, yakni jumlah siswa, kondisi sarana dan prasarana serta letak geografis sekolah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penggabungan sekolah ini kami lakukan semata-mata untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih baik kepada masyarakat," ujar Dwi Hari Kuncoro kepada wartawan, Kamis (25/6/2026).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan hasil kajian tim verifikasi penggabungan SDN Kabupaten Boyolali, sejumlah sekolah itu belum memenuhi standar minimal, baik dari sisi jumlah peserta didik maupun sarana dan prasarana. Oleh karena itu, perlu dilakukan penataan melalui penggabungan sekolah.

"Kajian mencakup sejumlah aspek, seperti jumlah siswa, letak geografis sekolah, dan kondisi sarana prasarana di masing-masing sekolah. Semua sudah kami petakan," jelasnya.

Menurut Kuncoro, secara ideal dalam satu SD tersedia 6 guru kelas, satu guru olahraga, satu guru agama, dan satu kepala sekolah. Mengacu pada jumlah SD di Boyolali dan formasi ideal tersebut, ada kekurangan guru sekitar 1.299.

Setelah melakukan kajian yang mendalam, akhirnya diputuskan saat ini ada 48 SD yang di-regrouping menjadi 24. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di 8 kecamatan, yakni Kecamatan Teras, Sambi, Simo, Nogosari, Mojosongo, Banyudono, Sawit, dan Cepogo.

Antara lain di Kecamatan Teras, SD Negeri Tawengan dan SD Negeri Doplang di Kecamatan Teras yang digabung menjadi SD Negeri Doplang. Kemudian SD Negeri 2 Bangsalan digabung ke SD Negeri 1 Bangsalan, serta SD Negeri 2 Gumukrejo digabung ke SD Negeri 1 Gumukrejo.

Di Kecamatan Simo, SD Negeri Teter digabung dengan SD Negeri Lemahbang dan menggunakan nama SD Negeri Lemahbang. Lalu, di Kecamatan Cepogo, ada SD Negeri 4 Tumang digabung dengan SD Negeri 1 Tumang dan menggunakan nama SD Negeri 1 Tumang.

Sekolah yang digabung ini, pada tahun ajaran baru ini sudah tidak menerima siswa baru. Muridnya akan dipindahkan ke sekolah induk hasil penggabungan.

"Untuk para guru dan tenaga pendidik juga sudah kita tata. Kita tempatkan ke sekolah induk dan mutasi ke sekolah lain yang kekurangan guru," tegasnya.

Terkait dengan aset sekolah yang sudah tidak digunakan, Kuncoro, mengatakan juga sudah selesai diinventarisasi. Untuk tanahnya milik desa, sedangkan bangunan dan lainnya milik Pemkab.

"Kalau dari pihak desa membutuhkan aset tersebut bisa mengajukan permohonan ke Bupati," pungkas dia.




(apu/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads