Untidar Akan Isi Kursi Kosong Buntut Calon Maba Mundur Lewat Jalur Mandiri

Untidar Akan Isi Kursi Kosong Buntut Calon Maba Mundur Lewat Jalur Mandiri

Tim detikJateng - detikJateng
Jumat, 26 Jun 2026 14:12 WIB
Kampus Untidar Magelang.
Kampus Untidar Magelang. Foto diambil Selasa (16/12/2025). Foto: dok. detikJateng
Solo -

Ratusan calon mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) Magelang, baik dari jalur prestasi SNBP maupun tulis SNBT, memutuskan mengundurkan diri. Pihak kampus menyatakan akan mengisi kursi yang kosong lewat jalur lain.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Untidar, Prof Suyitno, menjelaskan kursi yang kosong akan dimasukkan sebagai kuota tambahan jalur lainnya. Kekosongan dari jalur SNPB diberi ke jalur SNBT, sementara kekosongan di jalur tulis diberikan ke jalur mandiri.

"Jadi yang jalur tes, kita tambahin kuotanya untuk porsi yang kosong tadi. Lha yang SNBT ini juga ada yang tidak daftar ulang. Nah itu, kemudian yang tidak daftar itu yang kursi kosongnya kita geser ke (penerimaan jalur) mandiri," bebernya saat dihubungi detikJateng, Kamis (25/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk jalur mandiri di Untidar ada melalui jalur tulis, UTBK, prestasi dan kerja sama. Untuk jalur mandiri rencananya bakal diumumkan pada, Senin (30/6) mendatang.

ADVERTISEMENT

Sebut yang Mundur Sedikit

Suyitno melanjutkan, persentase calon mahasiswa yang tidak melakukan pendaftaran ulang terbilang kecil bila dibandingkan yang daftar ulang.

Ia menerangkan 60 dari 936 calon mahasiswa jalur SNBP yang mundur. Sementara di jalur SNBT ada 347 dari 2.418 peserta yang diterima memilih mundur.

"Yang tidak daftar ulang itu hanya 60 calon mahasiswa. Jadi hanya 6,4 persen, kan kecil banget itu," terang Suyuitno.

"SNBT (17.212 pendaftar), kita daya tampungannya 2.418. Yang daftar ulang 2.071. Yang tidak daftar ulangan 347, presentasenya 14,4 persen. Ya, jadi 14,4 persen," lanjutnya.

Suyitno berkata, Untidar tidak mengetahui alasan calon mahasiswa tidak melanjutkan pendaftaran. Sebab, peserta yang ingin mundur hanya perlu tidak melakukan daftar ulang tanpa memberi alasan.

"Kalau alasannya itu, saya tidak tahu pasti ya. Karena kita kan hanya dapat data dari mereka saja, mereka tidak datang ke sini ngomong. Tapi, tiap-tiap tahun ya kisarannya segitu-segitu aja (jumlah yang tidak daftar ulang)," kata Suyitno.

Suyitno menyebut ada beberapa hal yang biasanya menjadi alasan. Seperti diterima di sekolah kedinasan atau memilih perguruan tinggi lain.

"Yang mungkin pertimbangannya itu dulu milih itu, tapi kemudian setelah ketompo (diterima) pikir-pikir. Namanya orang sekitar seribuan itu kan ya nggak bisa, semuanya orang konsisten. Orang berubah pikiran dalam hitungan bulan atau kalau tidak mereka diterima di perguruan tinggi kedinasan," ujar Suyitno.

Tak Serta Merta Blacklist

Suyitno berkata Untidar tidak bisa langsung memasukkan ke dalam daftar hitam (blacklist) sekolah yang siswanya tidak daftar ulang usai dinyatakan lolos. Blacklist, kata dia, ditentukan panitia pusat.

"Sudah. Jadi kami dapat datanya kan dari pusat yang blacklist itu dan ya kami terapkan," imbuhnya.

Menurutnya, sepanjang tak ada hal menonjol terkait mundurnya calon mahasiswa itu, sekolah tidak akan kena blacklist.

"Nggak secara begitu ketat (blacklist tahun berikutnya), saklek itu tidak. Sepanjang tidak parah ya. Parah itu artinya seperti main-main. Tapi, selama ini yang daftar di Untidar itu tidak ada yang berpikirnya itu hanya coba-coba main-main," kata dia.

Dikutip dari detikEdu, belakangan beredar narasi bahwa terdapat 60 ribu calon mahasiswa jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) yang tidak mendaftar ulang. Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk melakukan penelusuran menyeluruh terkait hal ini.

"Apakah 60 ribu itu memilih jurusan yang salah atau memang diloloskan pada jurusan yang tidak dia berkenan? Yang kedua apakah dia diterima di perguruan tinggi negeri yang lain yang menurut yang bersangkutan lebih sesuai?" ujar Sofyan Tan, dikutip dari TVR Parlemen pada Rabu (24/6).

"Yang paling dikhawatirkan adalah yang ketiga bahwa yang lolos ini karena tidak bisa dibiayai lewat KIP Kuliah, maka mereka itu tidak melanjut. Nah, karena itu yang terakhir ini harus didalami dan disurvei untuk mencari apakah betul yang seperti ini yang dugaan banyak orang," imbuhnya.

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Prof Dr Ir Eduart Wolok, menegaskan narasi yang beredar bahwa 60 ribu siswa tidak daftar ulang SNBP itu tidak benar.

"60 ribuan itu (10% dari data total awal) yang tidak daftar ulang semua jalur (SNBP, SNBT, dan Mandiri) di SNPMB 2025," jelasnya melalui konfirmasi kepada detikEdu, Rabu (24/6).

"Untuk SNBP sendiri persentase daftar ulang dari yang diterima ada di angka 92%," kata Eduart lagi.

Di sisi lain, Sofyan Tan turut menggarisbawahi kekhawatiran bahwa siswa-siswi yang mundur dari SNBP sebagian karena tidak tertampung KIP Kuliah. Menurut Eduart, ketika ditanya soal apakah panitia SNPMB akan mengambil langkah tertentu terkait verifikasi lanjutan atas alasan calon mahasiswa mundur, ia mengatakan hal ini akan menjadi masukan pada pelaksanaan berikutnya.

"Menjadi masukan untuk pelaksanaan berikutnya, termasuk sosialisasi dan pemahaman akan pilihan yang diambil harus yang benar-benar diminati oleh peserta," ungkapnya.

Sebagai informasi, apabila siswa-siswi di suatu sekolah kerap tidak melakukan daftar ulang SNBP, maka PTN bisa saja mengurangi kuota penerimaan siswa asal sekolah tersebut ke depannya. Pada tahun lalu, Eduart sempat menjelaskan ketentuan ini sekaligus menjawab permintaan siswa dan orang tua dari siswa lain yang ingin kuota pada jalur SNBP ditingkatkan.

"Banyak siswa dari sekolah lain yang ingin, sangat ingin untuk mendapatkan kuota tersebut," ucapnya usai konferensi pers SNPMB 2026 di Gedung D Kemdiktisaintek, Selasa (16/9/2025) lalu.

"Kita mengurangi kuota sekolah itu ketika kuota sekolah itu yang kita berikan itu tidak diambil. Jadi kita tidak ingin memberikan kuota kepada sekolah yang nantinya tidak akan diambil juga oleh siswa yang lulus," kata Eduart.

Halaman 2 dari 2
(apu/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads