Wisma Batari di Jalan Slamet Riyadi, Solo, menjadi salah satu saksi kejayaan industri batik di Kota Solo. Sebelum dikenal sebagai gedung untuk berbagai acara serta restoran, Wisma Batari dulunya adalah koperasi batik terbesar di Kota Solo.
Nama Batari merupakan kependekan dari Batik Timur Asli Republik Indonesia. Sebelum ada Batari, para pengusaha batik di Solo telah mendirikan Koperasi Persatuan Perusahaan Batik Bumiputera Surakarta (PPBBS) tahun 1937, yang dipelopori oleh H. Mufti, R. Ng. Kartohastono, dan B. H. Sofwan, di Laweyan. Lalu kantornya pindah ke Mangunjayan pada 1941 saat agresi militer Jepang, dan berganti nama menjadi Batik Kogyo Kumisi.
Koperasi Batari kemudian didirikan pada 1 Januari 1948, dan berkantor di Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, Kota Solo. Tujuannya untuk mencukupi kebutuhan bahan pokok hingga meningkatkan penjualan para anggotanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bendahara Wisma Batari, Sri Mayasari mengatakan Koperasi Batari awalnya terdiri dari 10 koperasi primer batik yang menjadi satu. Koperasi Batari memiliki induk organisasi bernama Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI).
"Awalnya dari gabungan pengusaha batik, dari skala besar, menengah, dan kecil, kita rangkul semua. Koperasi Batari itu bisnis awalnya terkait jual beli bahan dan alat batik, seperti kain mori, malam, dan alat-alatnya," kata Maya saat ditemui detikJateng, Rabu (10/6/2026).
"Khusus di Koperasi Batari, kita tidak mengarah ke simpan pinjam. Amanah dari sesepuh kita tidak diizinkan untuk merambah ke simpan pinjam, karena risikonya juga besar," imbuhnya.
Awalnya Koperasi Batari memiliki wilayah kerja di Karesidenan Solo Raya. Namun Batari kemudian dipecah pada tahun 1962 lewat Penpres nomor 60/1962. Koperasi Batari diharuskan melepas semua kabupaten, untuk dirikan koperasi sendiri. Sementara khusus di wilayah Solo, koperasi dipecah menjadi tiga yakni KPN di Semanggi, PPBS di Sondakan, dan Batari.
Wisma Batari, salah satu bangunan cagar budaya yang menjadi saksi perkembangan industri batik di Kota Solo. Foto diunggah Senin (29/6/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng |
"Anggota kita sekitar 220 yang memiliki usaha batik semua. Itu keanggotaannya bisa diturunkan ke anak cucunya," ujar Maya.
Namun kejayaan batik perlahan mulai memudar dengan masuknya cap atau printing dengan pola batik pada dekade 1980-an. Banyak pengusaha batik yang mulai banting setir karena tidak bisa bersaing dengan industri batik cap yang lebih murah.
"Waktu itu banyak yang beralih ke bisnis yang lain karena masuknya printing batik. Kalau printing itu bukan batik, itu cuma tekstil yang bermotif batik, karena prosesnya tidak menggunakan malam panas," jelas Maya.
"Jadi printing batik itu jadi saingan berat, karena harganya lebih murah. Sebab, tidak melewati proses canting, pewarnaan," sambungnya.
Meski banyak anggota Koperasi Batari yang bangkrut akibat kalah bersaing dengan printing batik, namun keanggotaannya masih tetap setia. Koperasi Batari pun beradaptasi dengan perkembangan zaman dengan membuka model bisnis lainnya.
Kini Wisma Batari tidak hanya digunakan sebagai koperasi saja, namun juga merembet ke industri lain seperti persewaan gedung pertemuan, dapur Batari, hingga resto Solo Bistro.
Maya mengatakan, persewaan gedung itu sudah dilakukan sekira tahun 1980-an. Lalu tahun 2011, Wisma Batari bekerja sama dengan Solo Bistro dengan sistem bagi hasil.
"Sekarang fokus utama di jasa persewaan gedung, lalu kerja sama dengan resto Solo Bistro, dan pengembangan bisnis model usaha kitchen hub. Koperasinya tetap, anggota tetap tidak berubah, 220 (orang," pungkasnya.
Bangunan Cagar Budaya
Wisma Batari ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) melalui SK Walikota Solo nomor 646/1-R/1/2013 pada tahun 2013. Plakat BCB itu dipasang pada bangunan depan gedung pertemuan.
Meski ditetapkan BCB, sebagian besar bangunan yang ada di Wisma Batari sudah melewati renovasi total. Hanya ada satu bangunan yang masih dibiarkan utuh untuk menjaga nilai sejarah.
Kepala Bidang PSPCB Dinas Kebudayaan Solo, Sukrisno, mengatakan bangunan bersejarah itu hanya bagian depan gedung pertemuan.
"Yang masih asli itu istilahnya topengannya saja. Wajah yang di belakang kanopi, ada plakat BCB. Sekitarnya sudah banyak perubahan, dan sebelahnya itu memang bangunan baru," kata Sukrisno.
Dengan status BCB ini, renovasi hingga perawatannya harus melalui komunikasi dengan Dinas Kebudayaan Solo untuk kajian sejarahnya. Selain itu, pemugarannya juga mendapatkan insentif dari Pemkot Solo.
Sukrisno mengatakan, meski berstatus BCB, Wisma Batari menjadi pusat ekonomi, seperti untuk gedung pertemuan dan ada resto. Dia menilai hal itu sah saja, yang terpenting tidak merusak bangunan BCB.
"Saya rasa itu sah ya, silakan, kan ada pengelola. Jadi ada konsep pengembangan cagar budaya, dan pemanfaatan cagar budaya. Artinya pengembangan bisa melalui pengembangan fisik, pemanfaatannya bisa melalui digunakan untuk apa. Dalam hal pemanfaatan, itu kewenangan pengelola selama tidak merusak cagar budaya," pungkasnya.

