8 Pilar Kusam Pasar Johar Pengingat Tragedi Kebakaran 2015

8 Pilar Kusam Pasar Johar Pengingat Tragedi Kebakaran 2015

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Minggu, 05 Jul 2026 07:01 WIB
Kondisi delapan pilar di Pasar Johar yang dibiarkan pascakebakaran 2015 silam, Sabtu (4/7).
Kondisi pilar di Pasar Johar yang dibiarkan pascakebakaran 2015 silam, Sabtu (4/7). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Kebakaran hebat sempat melanda Pasar Johar di Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, pada 2015 silam. Kisah tersebut masih terekam di delapan pilar yang hingga kini masih menyimpan amukan si jago merah.

Pantauan detikJateng di lokasi pada Sabtu (4/7), tampak para pedagang tengah berniaga. Sementara, tiang-tiang bekas kebakaran pada 2015 silam masih tegak berdiri di keempat penjuru mata angin- barat, timur, selatan, utara.

Kedelapan "saksi bisu" itu berada di antara lapak-lapak pedagang di Pasar Johar Utara dan Tengah. Warnanya tampak berbeda dengan tiang lainnya yang dicat putih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka seakan bicara melalui warna kusam yang masih bertahan selama hampir 11 tahun itu. Betapa mengerikannya api melalap barang-barang milik 7.346 pedagang pada Mei 2015 malam.

Kekuningan hingga beberapa noda hitam masih bertahan di tubuh tiang. "Luka-luka" bopeng menegaskan kisah kelam yang disimpan penyangga pasar induk yang bertahan sejak 1930-an itu.

ADVERTISEMENT

Meski para penjual sibuk menata barang hingga melayani pembeli, mata mereka masih memancarkan kesedihan mendalam.

"Lihat tiang itu nggak bisa lupa kebakaran saat itu, Mas," ungkap perempuan bernama Ari (39) yang telah melapak di Pasar Johar sejak 1996 itu.

Ingatan Kelam Pedagang Pasar Johar tentang Kebakaran 2015

Lapak barang pecah belah di Pasar Johar Tengah yang dijalankan Ari bersama kakaknya Ruli (47) itu berada tepat di depan salah satu tiang yang tidak direvitalisasi usai kebakaran. Ari dan kakak perempuannya itu mesti melihat penyangga itu saban harinya.

"Kisahku iki akeh (banyak). Lahir di sini ya, Ri? Besar di sini, cilik (semasa kecil)di Johar, sekolah ning Johar, dodol (melapak) ning Johar, nikah ning Johar, balik meneh (kembali lagi) ning Johar" kata Ruli sembari menyapa adiknya.

Setali tiga uang, perjalanan hidup itu juga dialami Ari.

"Waktu SD dulu bantu mbah goreng-gorengi. Kan mbahku jualan kuliner," kisah perempuan kelahiran Klaten itu.

Mulanya, Ari dan Ruli menjual barang bekas atau second di Pasar Maling di Pasar Johar sebelum insiden kebakaran itu. 2015 menjadi tahun mencekam bagi mereka.

"Waktu kebakarannya malam, jadi sudah pulang. Itu kan mau lebaran ya jadi pada nyetok (barang dagangan). Malamnya kebakaran, habis semua," cerita Ari.

"Waktu itu malam minggu, aku masih ingat Sabtu siang belanja. Barang datang masuk banyak. Malam habis, laris manis (barang hangus terbakar)," lanjut Ari.

Ari tersedak saat menyebutkan modal yang dikeluarkan untuk belanja. Meski bekas, barang yang dijualnya diklaim asli.

"Yang terakhir (sebelum kebakaran) itu (modal belanja barang) Rp 250 juta. Kan ori-ori (asli) sport-sport (pakaian olahraga)," sebutnya dengan mata berkaca-kaca.

Api melalap tidak hanya barang yang baru saja dibeli. Stok milik Ari yang lain pun turut hangus.

"Kerugian sekitar Rp 1 M (miliar) karena ada stok lama, juga aset," katanya.

Kondisi delapan pilar di Pasar Johar yang dibiarkan pascakebakaran 2015 silam, Sabtu (4/7).Kondisi pilar di Pasar Johar yang dibiarkan pascakebakaran 2015 silam, Sabtu (4/7). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng

Kenangan pahit itu juga dirasakan Ruli. Dia menyebut kebakaran terjadi setelah Isya.

"Kejadinnya setelah Isya, ingat betul saya, setelah arisan bapak-bapak terus ditelepon 'Johar kobong'. Aku ke sini," tutur perempuan eks pegawai bank itu.

Pedagang di Pasar Johar Utara, Rose (48), juga mengalami kisah serupa. Penjual camilan sejak 1997 di pasar induk itu tidak mampu bercerita banyak.

"Wah kalau diceritakan malah terenyuh, malah keingat semua. Baru di rumah (saat kebakaran) barusan pulang dari pasar," kata Rose.

"Terus dengar-dengar kebakaran, habis sudah, gitu aja. Kalau diingat-ingat nanti malah nangis," imbuhnya.

Rose menyebut seluruh dangannya hangus terbakar. Dia menegaskan tidak satu pun tersisa.

"Kena semua, nggak ada satupun yang tersisa," ungkapnya.

Pilar Bekas Kebakaran Bagi Pedagang

Rose menyebut, pilar tersebut dulunya berwarna putih. Namun usai kebakaran melanda, tiang tersebut menjadi kusam.

"Catnya dulu sama, putih gini. Ada berapa cagak, buat tanda saja. Ada berapa yang hitam di sana, nggak dicat," sebutnya.

Rose menyebut pilar bekas kebakaran tidak dicat agar menjadi kenangan. Dia enggan mengingat memori pahitnya saat melihat cagak tersebut.

"Itu memang buat kenang-kenangan mungkin. Nggak tak ingat-ingat setelah kejadian itu. Diingat-ingat tidak bisa kembali, malah pingin nangis," tuturnya.

Bagi Ari, pilar itu adalah memori bisu insiden pada 2015 silam.

"Itu ada buat pengingat, ya. Itu buat cagar budaya saja, buat kenangan," katanya.

Sebelum terbakar, pilar-pilar dicat krem. Bopeng-bopeng pun ditembel.

"Sebelumnya warnanya krem. Itu kan ada bekas tembelan gitu. Aku masih merinding setelah cerita sama lihat pilar itu," pungkasnya.

Bakal Dijadikan Cagar Budaya

Sementara itu, Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro, mengatakan delapan pilar itu memang sengaja dibiarkan pascakebakaran 2015 silam.

"Betul (kedelapan pilar di Pasar Johar sengaja dibiarkan usai insiden kebakaran)," kata Bagas saat dihubungi detikJateng, Sabtu (4/7).

Tujuannya adalah agar pilar-pilar tersebut menjadi cagar budaya. Meski begitu, penetapan cagar budaya mesti menunggu selama 50 tahun sejak kejadian.

"Setelah kebakaran itu dari kita membentuk tim TACB. Dan itu menjadi cagar budaya di Pasar Johar. Memang sengaja tidak diapa-apakan lagi," jelasnya.

Bagas menyebut pada 2015 silam jumlah pedagang di Pasar Johar mencapai 7.346 orang. Semuanya terdampak kebakaran.

"Kalau pedagang kita pada waktu itu ada 7.346. Itu terdampak semua," sebutnya.

Untuk diketahui, dari catatan yang dihimpun detikJateng, Pasar Johar merupakan salah satu karya arsitek ahli bernama Ir Thomas Karsten dan diresmikan 9 Juni 1939. Pilar-pilar megah di sana menyangga atap dengan desain Cendawan.

Desain Karsten tidak hanya soal kemegahan dan kecantikan bangunan, namun juga fungsinya. Struktur cendawan itu ternyata memberi ruang sirkulasi udara di bangunan yang luas. Bahkan peninggi di atapnya membuat cahaya matahari bisa masuk sehingga bagian dalam pasar tidak gelap.

Kualitas beton bangunan Pasar Johar pun pernah diteliti oleh tim dari UNIKA Semarang tahun 2006. Hasilnya mutu beton yaitu K400 atau berkekuatan tekan 400kg/m2.

Beton itu melindungi pemuaian besi saat kebakaran. Oleh sebab itu ketika tragedi kebakaran hebat tahun 2015 dan melahap seisi pasar, struktur bangunan utama masih berdiri kokoh hingga sekarang.




(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads