Warga RT 06 RW 05, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, mengeluhkan kondisi rumah yang retak sejak adanya pembangunan mal. Warga pun meminta ganti untung dengan bentuk rumahnya dibeli dengan harga tiga kali lipat.
Pantauan detikJateng sekitar Jumat (7/8/2026) pukul 21.00 WIB, di turunan Gombel yang kini ditutup itu, tampak sejumlah ekskavator tengah beraktivitas di pembangunan mal.
Beberapa warga tengah berkumpul di pos solidaritas warga. Tampak terdapat poster berisi foto rumah-rumah warga yang mengalami keretakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang warga, Imam Sutono (66), mengatakan keretakan pada rumah warga sebenarnya sudah ada sebelum proyek memasuki fase pengeboran. Namun, kondisinya masih sebatas retak rambut dan tidak terlalu mengkhawatirkan.
"Dulu-dulu nggak ada masalah. Paling ada retakan seperti retak rambut. Setelah ada pengeboran, dampaknya luar biasa, 4 bulanan ini kurang lebih," kata Imam di pos solidaritas warga Gombel, Jumat (7/8) malam.
Imam menyebut getaran dari aktivitas pengeboran terasa hingga ke rumah-rumah warga. Ia bahkan mengibaratkan getarannya seperti gempa.
"Kalau ngebor kena batu, getarannya sampai ke rumah. Kaca bisa bergetar, gelas dikasih air juga kelihatan goyang. Rasanya seperti gempa," ujarnya.
Tak hanya dinding yang retak, sejumlah bagian rumah warga nuga mengalami perubahan posisi. Imam mengatakan kusen rumah menjadi miring, dan celah retakan pada dinding bahkan bisa dimasuki tangan.
"Tanahnya ambles. Terus kusen-kusen itu kadang jadi miring, tidak presisi. Sampai tangan kita itu dimasukin ke tembok yang retak itu muat," ungkapnya.
Ia juga mengkhawatirkan kondisi rumah akan semakin parah ketika memasuki musim hujan. Mereka menilai, pergerakan tanah yang sudah terjadi dapat meningkatkan risiko kerusakan apabila air masuk ke dalam tanah.
"Kalau hujannya lebat bisa sampai merosot rumahnya, longsor, makanya kami sangat khawatir," ucap Imam.
Penampakan rumah warga Gombel, Semarang, terdampak proyek mal, Jumat (7/8/2026) malam. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Imam mengatakan warga sebenarnya telah beberapa kali didata dan rumah-rumah yang mengalami keretakan juga telah difoto. Namun, ia mempertanyakan proses pendataan tersebut, karena pada survei berikutnya disebut berbeda karena ada beberapa foto tak tersedia.
"Selama Pakuwon ini dibangun, mungkin ada dua kali survei, dari BBPJN dan mal juga membawa pemborong yang mau membangun. Tapi mungkin ada kelicikan," ucapnya.
"Karena foto pertama rumah saya difoto lebih dari 20 kali. Setelah survei kedua yang rusak mau dibenahi, ternyata banyak foto hilang. Saya tanyakan, katanya mungkin terhapus dan nanti difoto lagi," katanya.
Menurutnya, hal itu menimbulkan kecurigaan bagi warga. Karena hilangnya beberapa foto itu membuat keretakan yang ada tak bisa diklaim untuk dibenahi.
"Itu kan sudah permainan. Makanya warga sini nggak setuju kalau diperbaiki saja. Percuma, wong pembangunan ini jangka panjang, kalau dibenahi paling 1-2 bulan retak lagi. Makanya warga sini mintanya ganti untung," ujarnya.
Minta Bangunan-Tanah Dibeli Pihak Mal
Menurut Imam, warga berharap rumah mereka bisa dibeli sekalian oleh pihak yang melakukan pembangunan. Dengan begitu, warga tidak lagi khawatir dengan dampak pekerjaan proyek.
"Kalau dibeli sekalian, warga lebih tenang. Mau bangun sampai berapa jam, misalnya 24 jam, nggak masalah. Sudah nggak ada kaitannya dengan warga," katanya.
Imam menyebut, sedikitnya 19 warga telah mengirimkan dokumentasi rumah yang mengalami kerusakan. Jumlah tersebut menurutnya masih mungkin bertambah karena aktivitas pengeboran disebut mulai meluas ke RT-RW lain.
"Sementara yang kemarin mengirim foto-foto di RT ada 19 warga. Mungkin nanti bertambah karena di depan golf ke sana juga ada pengeboran," jelasnya.
Terkait nilai ganti untung, Imam mengatakan sebagian warga menginginkan nilai sekitar tiga kali lipat dari nilai rumah dan tanah mereka. Namun ada juga bebrrapa warga yang meminta harga lebih tinggi.
"Kalau nilainya Rp 1 miliar, ya Rp 3 miliar, bangunan sama tanah. NJOP-nya sini rata-rata itu sekitar Rp 7,45 juta, tinggi banget. Masalahnya di sini setiap tahunnya naik terus pajaknya," katanya.
Sementara itu, di rumah warga bernama Misiati (62), tampak kerusakan tak hanya terlihat di dinding yapi juga terlihat pada bagian lantai rumah. Sejumlah ubin tampak retak dan terangkat sehingga membentuk celah cukup lebar di lantai. Atap kamar mandinya pun runtuh, disebut gegara pengeboran.
Misiati mengeluhkan keretakan itu yang disebutnya semakin melebar sejak proyek berlangsung. Ia mengatakan, kondisi rumahnya sebelumnya memang sudah memiliki retakan halus, tetapi tidak separah sekarang.
"Semuanya retak, makanya saya tutupi karpet karena bahaya ada anak kecil. Kamar mandinya lebih parah sampai atapnya roboh," keluh Misiati.
"Ambles semua lantainya. Plafon-plafon pada jatuh, sebelumnya memang sudah retak, tapi tidak terlalu. Berhubung ada pakubumi, melebar," lanjutnya.
Misiati mengaku aktivitas proyek turut mengganggu kenyamanan warga karena suara pekerjaan terdengar hingga malam hari. Kondisi tersebut semakin mengganggu, apalagi di rumahnya terdapat tiga bayi di bawah lima tahun (balita).
"Siang terganggu, malam juga terganggu. Apalagi ada anak balita. Tidurnya tetap terganggu. Kita juga bingung mau tidur di mana. Ada balita tiga, di rumah saya ini gabungan sama rumah depan ada 11 orang," katanya.
"Kalau memang mau, ya diganti untung. Daripada setiap malam, setiap hari seperti ini. Kita juga waswas. Mungkin yang lain nego 3 kali, kalau saya 5 kali," sambungnya.
Hal senada disampaikan Pardjana (71), warga yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak 1985. Di rumahnya, tampak retakan semakin melebar hingga tangannya bisa masuk di sela-sela retakan.
Retakan di rumahnya terlihat memanjang dari bawah hingga mendekati kusen jendela dan melebar di sejumlah titik. Dinding dekat plafon terlihat retak dan mengelupas hingga bata di baliknya muncul.
"Pas pembangunan awal cuma mletek-mletek, seperti retak rambut. Lama-lama semakin besar selama ada pengeboran," kata Parjana.
Ia mengaku kerap merasakan rumahnya yang berada tepat di depan pembangunan mal itu bergetar ketika alat berat bekerja. Suara dan getaran tersebut bahkan membuatnya merasa tidak nyaman saat beristirahat.
"Kalau malam suaranya seperti gempa. Grek-grek-grek, rumah terasa goyang. Jadi tidur juga was-was," ujarnya.
Pardjana mengatakan, warga berharap ada solusi yang jelas terhadap kondisi rumah mereka. Salah satu pilihan yang diharapkan warga adalah ganti untung.
"Ya sama (dengan warga lainnya), warga maunya ganti untung," katanya.
Simak Video "Serunya Bermain Ski Ban di Kopeng Adventure Park, Semarang"
[Gambas:Video 20detik] (azu/ams)

