Aliansi Eks Karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) berdemo di PN Semarang lantaran pesangonnya tak kunjung cair. Mereka kini menganggur dan tak bisa mendaftar kerja karena sudah terlalu tua.
Salah satunya eks pekerja Sritex asal Sukoharjo, Agus Wicaksono (65). Ia bercerita sebelumnya bekerja di PT Sritex selama 15 tahun di bagian perpajakan.
"Sekarang saya nganggur, angon pitik (memelihara ayam) di rumah, ayam petelur," kata Agus kepada detikJateng di PN Semarang, Kecamatan Semarang Barat, Senin (12/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengaku sempat mendaftar untuk menjadi pengemudi ojek online. Namun, ia tak diterima karena sudah terlalu tua. Hal serupa juga dirasakan para buruh lainnya.
"Terhalang usia kebanyakan. Kita mau mendaftar nggak bisa. Saya mau nge-grab aja nggak bisa, karena usia," tuturnya.
Agus yang juga merupakan koordinator aksi hari itu menyebut, sebagian besar para eks karyawan Sritex tak bisa bekerja karena berusia tak produktif.
"Dari 8.475 ini memang sebagian sudah bekerja di usia produktif. Tapi kebanyakan yang usia nonproduktif, yang belum bekerja 50 persenan. Jadi benar-benar luntang-lantung," ujarnya.
Hal itu pun menyulitkan mereka. Terlebih, sejak terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), para pekerja itu juga belum mendapatkan pesangon.
"Andai satu keluarga itu ada beban tiga orang, kan sudah 15.000 sekian yang nganggur menunggu pesangon. Total pesangon sekitar Rp 380 miliar," ungkapnya.
Eks karyawan Sritex demo di Pengadilan Negeri Semarang, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Senin (12/1/2026). Mereka menuntut pesangon yang tak kunjung cair. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Salah satu pekerja asal Klaten, Dewi (58), mengaku sudah bekerja selama 33 tahun di PT Sritex. Sejak kerja pada 1991 dia bertugas sebagai operator mesin.
"Saya cuma nganggur. Lah mau ke mana? Nggak ada kerjaan. Jadi pendapatannya dari suami. Suami kerjanya cuma cari-cari, serabutan," ujar Dewi.
Dewi pun mempunyai dua anak yang belum bekerja. Menurutnya, pesangon yang seharusnya diterima para pekerja itu sangat penting bagi mereka.
"Resah banget pesangon belum cair. Buat makan sehari-hari, bayar BPJS Kesehatan, anak-anak juga belum kerja. Bingung untuk menghidupi keluarga," tuturnya.
"Pesangon sama THR belum kita terima. Nggak tahu nanti dapatnya berapa, belum ada perjanjian. Kalau THR satu kali gaji, gaji kita UMR," lanjut Dewi.
Ia menyebut, jika sudah mendapat pesangon dan THR, uangnya akan dipakai untuk mendirikan usaha sehingga bisa memperoleh pendapatan.
"Inginnya dagang, mau buka warung di rumah. Pokoknya saya ingin cepat cair pesangonnya sama THR-nya. Harapannya dibayarkan secepat mungkin, sebelum lebaran," ujar dia.
Hal senada disampaikan, Penny (56). Dia mengaku ingin mendirikan usaha berjualan es teh.
"Saya ingin bikin dapur untuk usaha, usaha jualan es teh. Sama itu buat anak mau masuk SMP tahun ini, kan masih butuh biaya," ujar Penny.
"Anak saya saya dua, yang satu sudah nikah, sudah kerja. Yang satu masih kecil, masih kelas 5. Selama setahun saya nggak bekerja," lanjutnya.
Sementara suami Penny sendiri bekerja sebagai bongkar muat barang di pasar yang jasanya dihargai Rp 60 ribu sekali bongkar muatan.
"Gaji dari Sritex itu sangat diandalkan, dibutuhkan sekali, pokok itu. Mau buat usaha juga belum ada modal. Mau kerja sudah nggak diterima, sudah tua," kata Penny.
(ams/apu)

