Warga Semarang Kaget Pertamax Naik, Bakal Beralih ke Pertalite

Warga Semarang Kaget Pertamax Naik, Bakal Beralih ke Pertalite

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Rabu, 10 Jun 2026 12:23 WIB
Suasana pengisian BBM di SPBU Veteran, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (10/6/2026).
Suasana pengisian BBM di SPBU Veteran, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (10/6/2026). (Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng)
Semarang -

Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter menuai keluhan dari sejumlah konsumen di Kota Semarang. Mereka mengaku keberatan hingga sebagian memutuskan bakal pindah ke Pertalite.

Pantauan detikJateng di SPBU Veteran, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Rabu (10/6/2026), tampak antrean di Pertalite mengular, sementara di Pertamax hanya ada satu-dua konsumen yang mengantre.

Salah satu pengguna Pertamax, Radit (46), mengaku baru mengisi Rp 30 ribu. Ia terkejut karena biasanya mengisi Rp 30 ribu sudah full tank, tetapi hari ini ia mengisi belum sampai penuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Belum (penuh tangkinya) karena hari ini kan naik jadi Rp 16.250, yang biasanya kita bisa ngisi full, sekarang nggak," kata Radit kepada detikJateng di SPBU Veteran, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, kenaikan itu sangat tinggi, terlebih di saat harga barang-barang lainnya pun tengah mengalami kenaikan. Ia mengaku harus mengubah alokasi anggaran setiap harinya.

ADVERTISEMENT

"Setiap hari kita kan harus budget-in duit misal untuk BBM berapa, ini kenaikannya sangat tinggi kalau buat kita," ucapnya.

"Saya baru tahu pagi ini ada kenaikan harga Pertamax, tentunya sangat mengecewakan apalagi kondisi sekarang kita lagi susah," lanjutnya.

Menurutnya, kenaikan BBM sangat berdampak karena kenaikannya yang signifikan. Ia menilai seharusnya ada beberapa program pemerintah yang dihapus agar BBM masih bisa disubsidi.

"Program memberatkan kayak MBG, KDMP itu dihapus saja. Lebih baik untuk subsidi yang lebih signifikan, misalnya infrastruktur, energi, pendidikan," tuturnya.

Ia pun khawatir kenaikan ini berdampak pada kenaikan barang-barang lainnya. Ke depan, Radit mengaku akan beralih menggunakan Pertalite.

"Mungkin nanti saya akan downgrade, pindah Pertalite untuk menghemat pos BBM," ucapnya.

Pengguna Pertamax lainnya asal Pudak Payung, Edi Parusid (61), juga mengaku terkejut saat mengisi BBM senilai Rp 20 ribu. Menurutnya, jumlah BBM yang diperoleh jauh lebih sedikit dibanding biasanya.

"Tadi kan biasanya kalau saya isi Rp 20 ribu itu dapat satu strip lebih sedikit. Sekarang kok nggak. Saya mikir kok kurang ya. Baru tahu kalau ternyata naik," kata Edi.

Meski harga Pertamax naik, Edi sendiri mengaku tetap akan menggunakan BBM tersebut dan tidak berniat beralih ke jenis lain.

"Kalau saya sudah pakai Pertamax ya tetap Pertamax. Walaupun mahal nggak masalah, saya tetap pakai," ujarnya.

Kendati demikian, Edi juga mengaku khawatir kenaikan harga BBM akan semakin menekan daya beli masyarakat karena harga kebutuhan pokok juga sudah tinggi.

"Kalau kekhawatiran pasti ada, terutama bahan pokok. Sekarang ke pasar bawa Rp 50 ribu itu nggak dapat apa-apa. Cuma tempe, tahu, sama sayur saja. Kalau ikan susah sekali," ungkapnya.

Hal senada dikatakan warga asal Pudak Payung, Dodi (59). Ia mengatakan baru mengisi Pertamax Rp 30 ribu tanpa mengetahui ada kenaikan harga Pertamax sebelumnya.

"Baru tadi dikasih tahu pegawainya di sini kalau Pertamax naik. Biasanya Rp 30 ribu hampir 3 liter, sekarang kan 2 liter kurang sedikit. Pemerintah e mumet (pusing) opo rakyat sing mumet ya?," ujarnya.

"Saya jelas keberatan, cuma piye meneh wong urip neng (gimana lagi soalnya hidup di) Indonesia. Kalau saya sudah berumur, tapi kasihan sama anak muda," lanjutnya.

Sementara warga lainnya, Alvin (26) mengatakan, dirinya akan berpindah ke Pertalite karena adanya kenaikan Pertamax. Ia menilai, kenaikan Pertamax itu sangat berlebihan bagi pengguna.

"Saya kaget, yang kemarin masih Rp 12 ribu sekian, sekarang sudah naik itu menurut saya agak berlebihan di pemerintah, kasihan untuk rakyat-rakyat yang menengah ke bawah, apalagi makan aja susah," ucapnya.

"BBM naik itu menurut itu sangat tidak worth it. Saya memang selalu pakai Pertamax karena mesin saya sudah di-upgrade. Mungkin ke depannya saya turunin ke Pertalite," lanjutnya.

Ia pun mengaku khawatir dengan BBM non-subsidi naik, barang-barang lainnya juga naik sehingga ekonomi masyarakat menjadi tidak terkendali.

"Takutnya lebih parah apalagi kan masih ada perang di Iran, menurut saya mungkin ke depannya tidak terkendali situasinya. Pemerintah seharusnya mengkalkulasi dan bisa lebih bijak lagi dalam menerapkan kebijakan untuk rakyat," harapnya.

Saat dimintai konfirmasi, Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, menjelaskan penyesuaian harga memang terjadi. Namun hal itu diklaim hanya terjadi pada sebagian kecil konsumsi masyarakat.

"Produk-produk yang mengalami penyesuaian harga, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, hanya mencakup sekitar 1,7 persen dari total konsumsi BBM di wilayah Jawa Bagian Tengah," ucapnya melalui pesan singkat kepada detikJateng.

"Sementara lebih dari 98 persen konsumsi BBM masyarakat berasal dari produk yang tidak mengalami penyesuaian harga, sehingga dampaknya terhadap masyarakat secara luas relatif sangat terbatas," lanjutnya.

Ia menyebut Pertamina sebagai operator menjalankan penyesuaian harga BBM non-subsidi sesuai ketentuan pemerintah dan mekanisme yang berlaku, dengan tetap memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi energi bagi seluruh masyarakat.

Adapun, berikut daftar harga BBM retail nonsubsidi melalui SPBU per 10 Juni 2026:

Pertamax Series

* Pertamax (RON 92): dari Rp. 12.300/liter menjadi Rp. 16.250/liter
* Pertamax Green 95 (RON 95): dari Rp. 12.900/liter menjadi Rp. 17.000/liter.
* Pertamax Turbo (RON 98): Rp. 20.750/liter (tetap).

Dex Series

• Dexlite (CN 51): Rp. 23.000/liter. (tetap)
* Pertamina Dex (CN 53): Rp. 24.800/liter. (tetap)




(aku/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads