Pusat Grosir Solo (PGS) resmi tutup permanen pada awal Agustus tahun ini. Sebelum resmi pailit, PGS sempat mengalami kejayaan hingga menjadi pusat reseller para penjual online di Soloraya.
Salah satu yang pernah menjadi reseller pedagang online yakni Sri Ningsih atau akrab disapa Naning. Ia memulai berjualan online pada tahun 2012 silam.
Ia mengatakan, jualan online awalnya sebagai tambahan pemasukan. Saat itu, dirinya hanya perlu membagikan katalog foto dan dijual melalui grup BlackBerry Messenger (BBM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu itu sistemnya reseller. Belum ada WA, masih pakai grup BBM (BlackBerry Messenger). Itu dulu tahun 2012 kalau tidak salah, sampai anak saya mulai besar sebelum keluar dari tempat kerja," katanya berbincang dengan detikJateng, Jumat (7/8/2026).
Naning menceritakan dirinya yang harus 'klesotan' di PGS untuk mengambil barang pesanan hingga packing di sana. Dirinya mengaku bisa menunggu dari jam 09.00 WIB hingga magrib.
"Jadi dulu itu kalau ramai itu merata ya. Jadi misalkan nggak hanya beberapa toko gitu, nek ramai siji (kalau ramai satu), ramai kabeh (ramai semua). Jadi misalkan lantai satu, dulu kan belum ada lantai dua. Lantai satu itu semua ramai sampai uyuk-uyukan gitu. Buka jam 9 itu dulu sudah pada nunggu ambil barang. Sampai biasanya nunggu barang datang sambil klesotan, truk datang kan sore, itu bisa ngantre sampai magrib, masih pada nunggu barang datang," jelasnya.
Mengenai sistem penjualan, Naning mengatakan mereka masuk ke dalam grup toko tersebut dan lalu membagikan ulang katalog ke BBM. Selain BBM, ia juga menjual baju-baju ke Facebook.
"Dulu kan ada keliling-keliling terus 'Mbak mau join grup?', nanti kita dikasih pin BBM-nya itu. Kalau kita sudah masuk di situ kan berarti banyak toko itu. Nah kita nge-share-nya tinggal sesuai dengan keinginan kita, mau dilihat dulu gambarnya, kalau apik (bagus) ya tak share kayak gitu," ungkapnya.
Dari penjualan itu, dirinya mengaku bisa mendapatkan keuntungan Rp 500 ribu per hari. Pendapatan itu, disebut lebih tinggi dari gaji hariannya.
"Ambil untung Rp 5.000 sampai Rp 10.000 saja per baju. Penjualan dulu deras banget, bisa sampai karungan. Sehari bisa dapat untung Rp 500 ribu itu pernah. Lumayan sekali dibandingkan gaji harian saat itu," urainya.
Meski hanya mengambil margin kecil, volume penjualan Naning kala itu sangat fantastis. Dalam sehari, minimal 50 potong pakaian laku terjual. Bahkan tak jarang, ia mengirimkan barang dalam satuan karung.
"Pelanggannya sebagian besar justru berasal dari luar Pulau Jawa seperti Riau, Sumatera, hingga Papua," katanya.
Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya tren belanja online di marketplace serta live streaming, kondisi di pasar fisik mulai berubah. Naning merasakan perbedaan mencolok antara sistem jualan dulu dan sekarang.
"Perbedaannya sekarang sama dulu itu jauh banget, hampir 100 persen beda. Dulu itu pedagang ramai satu, ramai semua, rezekinya rata. Kalau sekarang, yang mengikuti tren saja yang ramai. Kalau nggak ikut (tren digital), ya rezekinya tertinggal," tuturnya.
Ia juga kasihan terhadap pedagang-pedagang tua yang kesulitan beradaptasi dengan teknologi.
"Kasihan orang-orang tua kalau nggak ada tim (digital). Kalau masih konvensional sekarang ya mesakke (kasihan), nggak ada yang beli," tambahnya.
Terkait kabar sepinya PGS, Naning menyebut bahwa banyak pedagang langganannya yang sudah "curi start" untuk pindah sebelum kondisi semakin memburuk. Banyak dari mereka yang kini memindahkan stok barang ke rumah atau garasi untuk melayani pembeli secara mandiri.
"Sebelum PGS mulai sepi atau tutup, langganan saya sudah pindah ke rumah, jualan di garasi. Infonya sudah dari tahun lalu, jadi sudah diberi tahu kalau mau pindah," ucapnya.
Terpisah, Susanto (52) mengaku sedih mendengar kabar PGS tutup secara permanen. Dirinya pernah berkecimpung menjadi reseller di PGS.
"Sedih, meski saya bukan pemilik kios maupun pekerja di PGS tersebut. Tapi, setidaknya saya pernah punya kenangan yang mungkin tak bisa saya lupakan sampai sekarang," ungkapnya.
Dirinya mulai berjualan pada tahun 2014, saat teman-temannya juga berjualan online dengan reseller. Dari situ, dirinya mulai membuat akun Facebook untuk.jualan.
"Awalnya saat kerja lihat dari teman-teman kok datang ke kerjaan ada yang bawa tas kresek dan di dalamnya berisi pakaian batik. Saya pun penasaran tanya-tanya hingga awalnya saya coba-coba membuat akun Facebook dengan nama Batik Abyan Solo," bebernya.
"Saya minta foto dari teman terus saya upload di akun Facebook tersebut. Terus sedikit demi sedikit ada respons dari pengunjung Facebook. Di postingan itu saya sertakan foto, nama produk, ukuran, harga, nomor kontak serta PIN BB (BlackBerry). Dari itulah, saya akhirnya bisa blusak-blusuk di PGS dan mengenal hingga menjadi reseller pakaian," sambungnya.
Susanto mengaku saat itu hanya bermodal foto dan PIN BBM untuk diunggah. Dari jualan itu, ia bisa mengambil keuntungan Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per item.
"Saat itu hanya dengan bermodalkan foto dan PIN BB. Kemudian, saya bisa membuat grup, terus saya share ke beberapa teman-teman yang juga menjadi reseller mengambil barang dari saya. Dari itu, ya lumayan meski ambil untung Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu," pungkasnya.
