Pusat Grosir Solo (PGS) tutup permanen sejak Senin (3/8). Perjalanan PGS sebagai Tenabang di Kota Solo berakhir di usia 21 tahun.
PGS resmi tutup menyusul putusan pailit dari Pengadilan Niaga Semarang Nomor: 6/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN pada 2024 lalu. Putusan pailit itu disebut berawal dari masalah investasi.
"PGS ini kan dipailitkan, berarti ada keputusan Pengadilan Niaga. Kalau di situ, berarti ada permasalahan bisnis, kita bicara investasi. Ada investasi yang mungkin kurang sukses yang mengakibatkan PGS ini dipailitkan. Setahu kami Februari dari Pengadilan Niaga Semarang sudah memutuskan bahwa PGS dalam kondisi pailit," ujar perwakilan manajemen PGS yang masih di bawah kurator, Bachtiar Ibnu Fadzil, saat ditemui di PGS, Pasar Kliwon, Rabu (5/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak berdiri tahun 2005, ada 1.200 tenant yang berdagang di PGS. Bachtiar menyebut memang dalam berjalannya waktu, pedagang ada yang sudah mulai pindah.
"Terakhir ada 60 pedagang yang kontraknya habis pada bulan Juli lalu," ucapnya.
PGS Jadi 'Tenabang' di Kota Solo
PGS memang seperti Pasar Tanah Abang di Kota Solo. Sebagai pusat grosir tekstil, PGS sudah menemani pengusaha hingga pembeli memulai era perdagangan online seperti hari ini.
Misalnya sekitar tahun 2012 lalu ketika jual beli online masih menggeliat di BlackBerry Messenger (BBM).
Salah yang mengandalkan PGS untuk memasok barang yakni Sri Ningsih atau akrab disapa Naning. Ia memulai berjualan online pada tahun 2012 silam.
"Dulu itu sistemnya reseller. Belum ada WA, masih pakai grup BBM (BlackBerry Messenger). Itu dulu tahun 2012 kalau tidak salah, sampai anak saya mulai besar sebelum keluar dari tempat kerja," katanya berbincang dengan detikJateng, Jumat (7/8/2026).
Naning menceritakan dirinya yang harus 'klesotan' di PGS untuk mengambil barang pesanan hingga packing di sana. Dirinya mengaku bisa menunggu dari jam 09.00 WIB hingga magrib.
Pedagang Pusat Grosir Solo (PGS) berkemas untuk.pindah ke lokasi yang baru, Rabu (5/8/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng |
"Jadi dulu itu kalau ramai itu merata ya. Jadi misalkan nggak hanya beberapa toko gitu, nek ramai siji (kalau ramai satu), ramai kabeh (ramai semua). Jadi misalkan lantai satu, dulu kan belum ada lantai dua. Lantai satu itu semua ramai sampai uyuk-uyukan gitu. Buka jam 9 itu dulu sudah pada nunggu ambil barang. Sampai biasanya nunggu barang datang sambil klesotan, truk datang kan sore, itu bisa ngantre sampai magrib, masih pada nunggu barang datang," jelasnya.
Mengenai sistem penjualan, Naning mengatakan mereka masuk ke dalam grup toko tersebut dan lalu membagikan ulang katalog ke BBM. Selain BBM, ia juga menjual baju-baju ke Facebook.
"Ambil untung Rp 5.000 sampai Rp 10.000 saja per baju. Penjualan dulu deras banget, bisa sampai karungan. Sehari bisa dapat untung Rp 500 ribu itu pernah. Lumayan sekali dibandingkan gaji harian saat itu," urainya.
Volume penjualan Naning kala itu bisa dibilang fantastis. Dalam sehari, minimal 50 potong pakaian laku terjual. Kebanyakan pembeli juga berasal dari luar Pulau Jawa.
"Perbedaannya sekarang sama dulu itu jauh banget, hampir 100 persen beda. Dulu itu pedagang ramai satu, ramai semua, rezekinya rata. Kalau sekarang, yang mengikuti tren saja yang ramai. Kalau nggak ikut (tren digital), ya rezekinya tertinggal," tuturnya.
Jadi Andalan Pedagang Online
Terpisah, Susanto (52) mengaku sedih mendengar kabar PGS tutup secara permanen. Dirinya pernah berkecimpung menjadi reseller di PGS.
"Sedih, meski saya bukan pemilik kios maupun pekerja di PGS tersebut. Tapi, setidaknya saya pernah punya kenangan yang mungkin tak bisa saya lupakan sampai sekarang," ungkapnya.
Dirinya mulai berjualan pada tahun 2014, saat teman-temannya juga berjualan online dengan reseller. Dari situ, dirinya mulai membuat akun Facebook untuk.jualan.
"Awalnya saat kerja lihat dari teman-teman kok datang ke kerjaan ada yang bawa tas kresek dan di dalamnya berisi pakaian batik. Saya pun penasaran tanya-tanya hingga awalnya saya coba-coba membuat akun Facebook dengan nama Batik Abyan Solo," bebernya.
"Saya minta foto dari teman terus saya upload di akun Facebook tersebut. Terus sedikit demi sedikit ada respons dari pengunjung Facebook. Di postingan itu saya sertakan foto, nama produk, ukuran, harga, nomor kontak serta PIN BB (BlackBerry). Dari itulah, saya akhirnya bisa blusak-blusuk di PGS dan mengenal hingga menjadi reseller pakaian," sambungnya.
Susanto mengaku saat itu hanya bermodal foto dan PIN BBM untuk diunggah. Dari jualan itu, ia bisa mengambil keuntungan Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per item.
"Saat itu hanya dengan bermodalkan foto dan PIN BB. Kemudian, saya bisa membuat grup, terus saya share ke beberapa teman-teman yang juga menjadi reseller mengambil barang dari saya. Dari itu, ya lumayan meski ambil untung Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu," pungkasnya.
Walkot Solo Tawarkan Lokasi
Wali Kota Solo, Respati Ardi menawarkan para pedagang PGS untuk mengisi stan-stan atau kios milik pemerintah yang saat ini masih kosong.
"Saya hari ini akan mengajak dan mengundang rekan-rekan yang berjualan di PGS dengan jenis perdagangan kami untuk mempromosikan pasar-pasar kami, los-los kami, kios-kios kami yang masih kosong," kata Respati, Rabu (5/8/2026).
"Ada di Pasar Klewer dan pasar-pasar yang lain yang sesuai dengan market mereka," terangnya.
Selain nasib pedagang, pihaknya juga akan mengambil langkah bila ada terjadi PHK. Respati berupaya mencari cara agar mereka tetap bisa bekerja di pasar.
"Iya, maka dari itu kami mengundang, kami lagi mengoordinasikan pekerja-pekerja yang ada di sana untuk kita kerja samakan di pasar-pasar kita. Kita ada Pasar Klewer, Pasar Singosaren, dan pasar-pasar yang lain," jelas Respati.
Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"
[Gambas:Video 20detik] (afn/afn)

