Dalam kepercayaan orang Jawa, hujan bisa dicegah agar tidak turun yang dikenal juga dengan istilah tolak hujan. Lantas, bagaimana cara mencegah hujan turun yang didasarkan pada kepercayaan di tengah-tengah masyarakat Jawa?
Apa itu tolak hujan? Seperti namanya, istilah tersebut merujuk pada sebuah ritual atau tindakan yang dilakukan guna 'menolak' agar hujan tidak turun. Sering kali ritual tolak hujan melibatkan jasa pawang hujan.
Ada berbagai alasan seseorang atau pihak tertentu menggunakan jasa pawang hujan agar dapat melakukan tolak hujan. Satu di antaranya yang kerap terjadi adalah mencegah hujan tidak turun di tengah-tengah acara penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk melakukan ritual tolak hujan terdapat banyak cara yang dilakukan oleh sebagian kalangan masyarakat. Misalnya saja dengan menyediakan uba rampe sampai menaruh benda-benda tertentu agar dapat menghalau hujan tidak jadi turun.
Poin Utamanya:
Dalam kepercayaan Jawa, mencegah hujan dilakukan melalui ritual dan uba rampe, seperti penggunaan sapu lidi, cabai, bawang, paku, garam, sesaji, serta pembacaan mantra oleh pawang hujan, terutama saat hajatan atau acara penting.
Secara ilmiah, hujan tidak bisa dicegah sepenuhnya, namun curah hujan dapat ditekan melalui teknologi modifikasi cuaca dengan metode penyemaian awan agar hujan turun di lokasi lain atau mengurangi intensitasnya.
Modifikasi cuaca di Indonesia merupakan teknologi resmi dan terukur, yang melibatkan BMKG, BPBD, dan TNI AU, serta diatur dalam regulasi pemerintah untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, bukan menghentikan hujan secara mutlak.
Cara Mencegah Hujan Menurut Kepercayaan Jawa
Salah satu cara yang cukup populer di kalangan masyarakat Jawa mengenai tolak hujan adalah dengan mempersiapkan uba rampe tertentu. Apa sih uba rampe itu? Singkatnya, uba rampe adalah perlengkapan tradisi. Biasanya melibatkan benda-benda tertentu dari yang mudah dijumpai dalam keseharian sampai yang tersulit sekali pun.
Mengutip dari buku 'Ada Apa dengan Fisika' karya Anggraeni Mashinta S, terdapat salah satu kisah tolak hujan yang melibatkan uba rampe ini. Konon, untuk mencegah datangnya hujan, seseorang dapat menyiapkan sapu lidi yang ditancapkan beberapa cabai sampai bawang jenis tertentu di bagian ujungnya.
Tidak hanya sampai di situ saja, sapu lidi yang sudah diberi tancapan cabai dan bawang tadi ditaruh dengan cara dibalik. Setelah membaca mantra tertentu, langit yang tadinya gelap dan gerimis sudah mulai datang, tiba-tiba berhenti begitu saja.
Hal senada juga dijelaskan dalam penelitian bertajuk 'Tradisi Menggunakan Jasa Pawang Hujan Ditinjau dari Aqidah Islam' tulisan Sapitri Yuliani, dalam acara hajatan sering kali melibatkan pawang hujan. Biasanya sang pawang hujan akan melakukan ritual pemindahan hujan.
Ada sejumlah barang yang perlu dipersiapkan sebelum memulai ritual. Misalnya cabai merah segar sebanyak 7 buah, 1 mangkuk kecil garam, dan juga 7 biji paku. Nantinya benda-benda tersebut akan ditaburkan di area sekitar acara hajatan tepat satu hari sebelum agenda tersebut dilangsungkan.
Tidak sampai di situ saja, pawang hujan juga akan melakukan ritual khusus selama pemindahan hujan. Salah satunya dengan menyiapkan bunga kemenyan yang dibakar, tidak makan dan minum di lokasi hajatan.
Serupa dengan apa yang dijelaskan dalam penelitian lain yang bertajuk 'Representasi Pawang Hujan dalam Film (Analisis Semiotika Pawang Hujan dalam Film Mitos Batu: Ritual Hujan G Rain)' yang disusun oleh M Thabrani, ritual menangkal hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa, biasanya melibatkan benda-benda tertentu. Misalnya saja sesaji.
Bukan hanya itu saja, ritual penangkal hujan juga turut menggunakan mantra-mantra tertentu. Uniknya, mantra penangkal hujan yang biasanya dibaca oleh pawang hujan memiliki perbedaan antara wilayah yang satu dengan wilayah lainnya. Bahkan ada kepercayaan yang menyebut keberhasilan pawang hujan dalam mencegah hujan tidak turun adalah seberapa besar keyakinan masyarakat yang ada di daerah tersebut.
Benarkah Hujan Bisa Dicegah Agar Tidak Turun?
Setelah memahami mitos tentang mencegah hujan dengan cara-cara tertentu, saatnya melihat aspek tersebut dari kacamata ilmiah. Apakah benar hujan bisa dicegah? Mengenai hal ini, sebenarnya sudah ada teknologi bernama modifikasi cuaca. Biasanya modifikasi cuaca dilakukan guna menambah curah hujan di tengah kekeringan yang melanda wilayah tertentu.
Namun, ternyata modifikasi cuaca juga bisa dilakukan agar mengurangi curah hujan, lo! Mengutip dari buku 'Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terintegrasi' karya Ussy Andawayanti, modifikasi cuaca adalah upaya yang dilakukan guna meminimalkan dampak bencana alam yang diakibatkan oleh iklim maupun cuaca.
Biasanya modifikasi cuaca dilakukan dengan memanfaatkan parameter cuaca itu sendiri atau kondisi iklim yang tengah berlangsung di lokasi tertentu. Bahkan teknologi ini bisa dibilang cukup lumrah dilakukan di wilayah Indonesia. Misalnya saja yang tengah dilakukan baru-baru ini.
Menurut laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada operasi modifikasi cuaca atau OMC yang diterapkan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Operasi ini berlangsung dari tanggal 16-22 Januari 2026.
Tak hanya melibatkan BMKG saja, tapi juga turut bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta dan juga TNI Angkatan Udara. Modifikasi cuaca yang dilakukan bertujuan untuk menekan potensi bencana hidrometeorologi. Terutama dalam mencegah adanya dampak dari curah hujan tinggi.
Cara yang dilakukan adalah penyemaian untuk menjatuhkan awan-awan hujan yang masih berada di lautan dan tengah bergerak ke wilayah tersebut. Dengan adanya penyemaian ini, dapat menghambat pertumbuhan awan-awan baru. Langkah ini penting untuk dilakukan agar awan baru tidak tumbuh dengan optimal nantinya di wilayah daratan.
Lebih lanjut, mengutip dari buku 'Why? Fine Dust - Debu Halus' oleh YeaRimDang, umumnya penyemaian awan dilakukan dengan melibatkan bahan-bahan tertentu. Sebut saja zat perak iodida, natrium klorida, es kering, kalium klorida, dan masih banyak lagi.
Penggunaan zat-zat tersebut diperuntukkan agar menurunkan hujan di daerah yang kekeringan. Sebaliknya, terdapat fungsi yang mampu menurunkan sedikit hujan di wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat agar banjir tidak terjadi.
Artinya, teknologi modifikasi cuaca ini bisa dilakukan untuk menurunkan atau menekan curah hujan. Bukan berarti, hujan tidak benar-benar bisa dihentikan begitu saja. Bahkan modifikasi cuaca di Indonesia sudah diatur secara resmi. Salah satunya melalui Peraturan BMKG Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Modifikasi Cuaca. Di dalam Pasal 9 tertulis:
"Penyelenggaraan Modifikasi Cuaca dilakukan dengan memasukkan bahan semai ke atmosfer untuk:
a. menambah curah hujan;
b. mengurangi curah hujan;
c. menipiskan polusi udara atau kabut asap; dan
d. interaksi atmosfer lainnya."
Dengan memahami kondisi hujan yang dicegah turun dalam kacamata mitos dan ilmiah diharapkan dapat memberikan gambaran bagi siapa saja yang penasaran mengenai hal tersebut. Semoga menjawab, ya!
(par/apl)