Makna Tari Bedhaya Anglir Mendhung, Gambarkan Perjuangan Mangkunegara I

Makna Tari Bedhaya Anglir Mendhung, Gambarkan Perjuangan Mangkunegara I

Ulvia Nur Azizah - detikJateng
Selasa, 27 Jan 2026 15:35 WIB
Penampilan tarian Bedhaya Anglir Mendung saat Tingalan Jumenengan ke-4 Mangkunegara X, Selasa (27/1/2026).
Tari Bedhaya Anglir Mendhung. Foto: dok. Puro Mangkunegaran
Solo -

Tari Bedhaya Anglir Mendhung merupakan salah satu tarian pusaka terpenting milik Pura Mangkunegaran. Tarian sakral ini ditampilkan pada momentum besar seperti jumenengan dalem dan tingalan jumenengan dalem, sehingga menempati posisi istimewa dalam struktur budaya Kadipaten.

Makna tari ini berakar kuat pada perjalanan panjang KGPAA Mangkunegara I atau RM Said. Bedhaya Anglir Mendhung diciptakan sebagai karya monumental yang merekam perjuangannya melawan tekanan politik, perpecahan internal, hingga pergulatan spiritual pada masa awal berdirinya Mangkunegaran.

Untuk memahami lebih dalam makna, sejarah, dan simbolisme tarian sakral ini, yuk simak uraian lengkap di bawah ini, detikers!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin utamanya:

  • Bedhaya Anglir Mendhung adalah tarian sakral Mangkunegaran yang merekam perjuangan Mangkunegara I dan memiliki fungsi penting dalam upacara kerajaan.
  • Struktur tari, formasi tujuh penari, serta motif busana dan properti memuat simbol perjuangan, persahabatan, dan nilai religio-magis pendiri istana.
  • Tarian ini sempat hilang dari Mangkunegaran dan hidup kembali melalui rekonstruksi besar pada 1981 sebagai upaya memulihkan identitas budaya kadipaten.

ADVERTISEMENT

Makna Tari Bedhaya Anglir Mendhung

Berdasarkan artikel Bedhaya Anglirmendhung, a Sacred Dance at Mangkunegaran: The Study of Aesthetic Authority and Characteristics karya Sriyadi dkk serta Religio-Magis Srimpi Anglirmendhung di Keraton Surakarta karya Mt Supriyanto, berikut ini adalah makna mendalam di balik tari Bedhaya Anglir Mendung.

1. Asal-usul Nama Anglir Mendhung

Terdapat kisah unik di balik pemberian nama Anglir Mendhung yang berarti awan tebal. Nama ini lahir saat RM Said atau Mangkunegara I sedang beristirahat di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba awan mendung datang disertai angin kencang dan hujan yang sangat lebat. Anehnya, tubuh RM Said tetap kering dan tidak terkena air hujan sedikit pun. Peristiwa ajaib inilah yang mengilhami penciptaan tarian yang dipercaya bisa mendatangkan hujan.

Asal-usul nama ini membuat Bedhaya Anglir Mendhung dikeramatkan oleh Mangkunegaran. Konon, setiap tarian tersebut dipentaskan, selalu ada hujan yang menyertai.

2. Bercerita tentang Perjuangan RM Said

Tari Bedhaya Anglir Mendhung adalah pusaka penting di Pura Mangkunegaran. Tarian ini memuat jejak sejarah, nilai perjuangan, dan simbol kedekatan para pendiri istana. Maknanya tidak tunggal, tetapi saling terhubung dalam tiap bagian tarian.

Tari ini diciptakan pada masa Mangkunegara I. Nama aslinya adalah Raden Mas Said. Ia dikenal sebagai tokoh yang gigih melawan tekanan politik pada zamannya. Kisah perjuangannya menjadi dasar utama makna tarian ini.

Bedhaya Anglir Mendhung tidak berkaitan dengan mitos Ratu Kidul sebagaimana dua bedhaya lain, yaitu Ketawang dan Semang. Keduanya memuat tema penyatuan raja dengan penguasa Laut Selatan. Tema itu dipercaya memberi legitimasi spiritual bagi raja.

Bedhaya Anglir Mendhung justru berbeda, tarian ini memotret perjalanan RM Said saat berjuang di Ponorogo. Ia menghadapi konflik dengan Belanda dan Pangeran Mangkubumi. Ketegangan politik itu menjadi dasar gagasan tarian.

Tokoh penting lain juga hadir dalam makna tarian. RM Said memiliki dua sahabat dekat. Mereka adalah Rangga Panambang dan Patih Kudanawarsa. Ikatan mereka menjadi simbol kesetiaan dalam masa sulit.

Ikatan itu divisualkan dalam formasi tarian. Ada momen ketika tiga penari berdiri, dan lainnya duduk. Posisi ini disebut rakit gelar, rakit berarti formasi dan gelar berarti susunan yang dipresentasikan di depan tamu. Formasi itu melambangkan tiga sahabat yang saling menopang.

Simbol ini dipertegas dalam ritual Ruwahan Mangkunegaran. Dalam ritual itu ada gambar wong telu nunggang rembulan. Maknanya adalah tiga orang yang berjalan bersama. Simbol itu merujuk pada Said, Panambang, dan Kudanawarsa.

2. Makna Formasi dan Jumlah Penari

Tarian ini dibawakan oleh tujuh penari. Angka itu berbeda dari Bedhaya Ketawang dan Semang yang memakai sembilan penari. Perbedaan angka menciptakan bentuk formasi yang berbeda.

Bedhaya Anglir Mendhung tidak memakai rakit lajur. Formasi ini biasa dipakai dalam bedhaya istana besar. Tarian ini juga tidak memakai formasi tiga-tiga dengan susunan dua baris yang saling berhadapan.

Sebagai gantinya, formasi tarian lebih beragam. Polanya menyesuaikan jumlah penari. Karena itu, bentuk tariannya khas Mangkunegaran. Keragaman pola memberi ruang ekspresi atas tema perjuangan.

Dalam dua bedhaya lain, ada peran batak (akal) dan endhel (nafsu). Dua peran itu melambangkan penyatuan sifat manusia. Konsep itu tidak muncul dalam Bedhaya Anglir Mendhung karena fokusnya adalah kisah perjuangan, bukan tema universal.

3. Makna Busana dan Properti Tarian

Busana penari memakai dasar Bedhaya Ketawang. Namun ada perbedaan penting, yaitu penari tidak memakai paes ageng atau rias pengantin Jawa. Ketidakhadiran paes menunjukkan tarian ini bukan tarian penyatuan spiritual.

Perbedaan juga tampak pada kain kampuh atau kain panjang yang menutup tubuh penari. Ketawang memakai motif alas-alasan yang menggambarkan hutan dan kesuburan. Semang memakai motif semen yang mengandung unsur tumbuhan.

Sementara itu, Bedhaya Anglir Mendhung memakai motif alas-alasan atau rajah tumbal. Rajah tumbal adalah motif doa perlindungan yang terkait nilai religius pendiri Mangkunegaran. RM Said dikenal dekat dengan ajaran tasawuf yang menekankan penyucian diri dan kedekatan dengan Tuhan.

Pada masa rekonstruksi, tarian memakai busur dan panah. Properti ini mempertegas tema perjuangan. Busur dan panah menjadi simbol kesiapan menghadapi tekanan politik.

Bedhaya Anglir Mendhung Sempat 'Hilang' dari Mangkunegaran

Eksistensi Tari Bedhaya Anglir Mendhung di Pura Mangkunegaran ternyata sempat mengalami masa vakum. Sriyadi dkk dalam penelitian berjudul Bedhaya Anglirmendhung, a Sacred Dance at Mangkunegaran: The Study of Aesthetic Authority and Characteristics menyebut tarian ini pernah hilang dari lingkungan Kadipaten.

Peristiwa tersebut bermula saat masa pemerintahan Mangkunegara III yang menjabat sebagai penguasa. Pada periode itu, tarian pusaka ini dipersembahkan kepada Sunan Paku Buwana IV. Penyerahan dilakukan karena Mangkunegara III diambil menjadi menantu oleh raja Keraton Solo.

Akibat penyerahan tersebut, Bedhaya Anglir Mendhung tidak lagi ditarikan di lingkungan Pura Mangkunegaran. Tarian ini kemudian bertransformasi menjadi Srimpi Anglirmendhung di dalam tradisi Keraton Solo. Mt Supriyanto dalam artikel Religio-Magis Srimpi Anglirmendhung di Keraton Surakarta menyebutkan bahwa Anglirmendhung merupakan 'adik' dari tari sakral Bedhaya Ketawang. Keduanya memiliki kesamaan prinsip pada sebutan nama, bentuk, hingga penggunaan iringan kemanak.

Menurut catatan sejarah, akar tarian ini diduga sudah ada sejak zaman Kartasura. Serat Wedhapradangga menjelaskan bahwa musik iringannya mengacu pada karya agung Sultan Agung Mataram.

Mangkunegara I kemudian memprakarsai tarian ini yang awalnya hanya ditarikan tiga orang. Jumlah penari baru diubah menjadi tujuh orang pada masa pemerintahan Mangkunegara II. Hal ini sesuai aturan bahwa kadipaten hanya boleh menampilkan bedhaya dengan tujuh penari. Sementara bedhaya dengan sembilan penari hanya boleh ditampilkan di Keraton.

Setelah puluhan tahun hilang, upaya untuk menghidupkan kembali tarian ini akhirnya dilakukan. Rekonstruksi besar-besaran dimulai pada tahun 1981 saat masa kepemimpinan Mangkunegara VIII. Proses ini melibatkan tokoh seni seperti Moelyono Sastranaryatmo dan RAy Praptini Partaningrat. Langkah berani ini diambil untuk memulihkan identitas budaya asli milik Pura Mangkunegaran. Kini, tarian tersebut telah kembali dan diakui sebagai pusaka keramat oleh keluarga kerajaan.

Bedhaya Anglir Mendhung menjadi saksi perjalanan politik dan spiritual Mangkunegara I yang diwariskan lewat bahasa tari. Semoga bermanfaat, detikers!

FAQ

Apa makna utama Tari Bedhaya Anglir Mendhung?

Bedhaya Anglir Mendhung memuat kisah perjuangan Mangkunegara I (RM Said) dalam pendirian Mangkunegaran. Tarian ini menggambarkan tekanan politik yang ia hadapi, kesetiaan tiga sahabat dalam masa sulit, serta perlindungan spiritual yang dipercaya menaungi sang pemimpin. Tidak seperti Bedhaya Ketawang dan Semang, tarian ini tidak mengusung tema penyatuan raja dengan Ratu Kidul. Fokusnya lebih pada perjalanan historis dan religio-magis pendiri kadipaten.

Mengapa tarian ini memakai tujuh penari, bukan sembilan seperti bedhaya lain?

Jumlah tujuh penari berkaitan dengan aturan kadipaten: Mangkunegaran hanya boleh mementaskan bedhaya dengan tujuh penari, sedangkan formasi sembilan khusus untuk Keraton Solo.

Benarkah Bedhaya Anglir Mendhung sempat hilang dari Mangkunegaran?

Ya. Pada masa Mangkunegara III, tarian ini dipersembahkan kepada Sunan Paku Buwana IV sehingga tidak lagi dipentaskan di Pura Mangkunegaran. Di lingkungan Keraton Solo, tarian tersebut berkembang menjadi Srimpi Anglirmendhung. Barulah pada tahun 1981, di masa Mangkunegara VIII, tarian ini direkonstruksi secara besar-besaran oleh para maestro tari untuk mengembalikan identitas budayanya. Kini, Bedhaya Anglir Mendhung kembali menjadi pusaka keramat Mangkunegaran.




(par/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads