- Larangan dalam Kehidupan Masyarakat Jawa 1. Larangan Makan di Depan Pintu 2. Larangan Berpindah Tempat saat Makan 3. Larangan Membuang Nasi Sisa Makan 4. Larangan Makan Mendahului Orang Tua 5. Larangan Bangun Kesiangan 6. Larangan Menduduki Bantal 7. Larangan Keluar Rumah Waktu Sore 8. Larangan Bersiul di dalam Rumah Waktu Malam 9. Larangan Menyabut Alis di Malam Jumat Kliwon 10. Larangan Memotong Kuku di Malam Hari 11. Larangan Membuka Payung di dalam Rumah 12. Larangan Menyapu di Malam Hari 13. Larangan Memotong Rambut di dalam Rumah Waktu Malam 14. Larangan Tidur dengan Arah Utara 15. Larangan Mengintip Orang Mandi
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jawa masih memegang berbagai larangan dari warisan orang zaman dahulu. Larangan-larangan tersebut tidak hanya menjadi mitos, tetapi juga mengandung pesan moral yang baik.
Dikutip dari publikasi ilmiah berjudul Mitos Larangan sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Jawa Di Banyuwangi (Kajian Etnolinguistik) oleh Moh. Syamsul Ma'arif dan Heru Kurniawan, larangan masyarakat Jawa dikenal juga dengan pamali.
Pamali atau larangan ini digunakan masyarakat Jawa sebagai peringatan kepada seseorang untuk tidak bertindak buruk. Apa saja larangan-larangan tersebut? Yuk, simak beberapa larangan dalam kehidupan masyarakat Jawa di bawah ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Larangan dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Larangan dalam kehidupan masyarakat Jawa biasanya berkaitan dengan unggah-ungguh atau sopan santun berperilaku. Larangan ini juga sering dikaitkan dengan mitos-mitos dalam budaya Jawa.
Dihimpun dari buku Asal-usul & Sejarah Orang Jawa karya Sri Wintala Achmad, berikut larangan yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat Jawa.
1. Larangan Makan di Depan Pintu
Pertama, ada larangan makan di depan pintu karena nanti akan susah mendapatkan jodoh. Larangan ini biasanya ditujukan untuk anak gadis. Di balik larangan ini terdapat nasihat agar anak gadis duduk pada tempatnya. Makan di depan pintu adalah tindakan tidak sopan dan menghalangi jalan orang.
2. Larangan Berpindah Tempat saat Makan
Selanjutnya ada larangan berpindah tempat saat makan karena kelak akan mendapatkan ibu tiri. Makna di balik larangan ini sebenarnya adalah tindakan berpindah tempat saat makan dianggap tidak sopan oleh masyarakat Jawa. Selain itu, makanan yang dibawa kemungkinan bisa tumpah dan mengenai orang.
3. Larangan Membuang Nasi Sisa Makan
Kemudian, larangan membuang nasi sisa makan yang dipercaya bisa menyebabkan perseteruan di dalam keluarga. Maknanya, seseorang anak yang makan sebaiknya tidak lebih dan tidak kurang.
Jika berlebihan akan ada sisa makanan yang dibuang yang berarti membuang sisa rezeki yang diberikan. Akibatnya, orang tua memarahi anak-anak mereka.
4. Larangan Makan Mendahului Orang Tua
Dalam masyarakat Jawa, makan mendahului orang tua akan menyebabkan susah mendapat rezeki. Pada dasarnya, makna larangan ini adalah agar anak muda berperilaku sopan kepada orang tua. Salah satunya adalah dengan mendahulukan orang tua makan, baru disusul yang muda.
5. Larangan Bangun Kesiangan
Jika larangan ini dilanggar, dipercaya rezeki mereka akan dipatok ayam. Namun, sebenarnya larangan ini adalah nasihat agar seseorang bangun lebih pagi. Dengan bangun pagi, badan menjadi sehat dan jiwa stabil. Oleh karenanya, rezeki akan mengalir jika bangun pagi.
6. Larangan Menduduki Bantal
Kata orang-orang Jawa dahulu, jika seseorang menduduki bantal, maka nanti akan bisulan. Namun, pada dasarnya larangan ini muncul karena duduk yang sopan adalah duduk di kursi. Sementara bantal digunakan untuk alas kepala. Oleh karena itu, duduk di bantal amat dilarang.
7. Larangan Keluar Rumah Waktu Sore
Anak-anak Jawa biasanya dilarang bermain atau keluar rumah waktu sore karena nanti bisa diculik wewe gombel. Sesungguhnya, bukan karena mereka akan benar-benar diculik. Melainkan karena sore hari adalah waktu berkumpul dengan keluarga, bukan untuk bermain.
8. Larangan Bersiul di dalam Rumah Waktu Malam
Jika seseorang bersiul di dalam rumah pada malam hari, diyakini akan mengundang makhluk halus berbuat jahat. Larangan ini digunakan masyarakat Jawa untuk menakut-nakuti anak mereka agar tidak bersiul. Hal ini karena bersiul di dalam rumah dianggap tidak sopan.
9. Larangan Menyabut Alis di Malam Jumat Kliwon
Menurut masyarakat Jawa, menyabut alis di malam Jumat Kliwon bisa mendatangkan tuyul. Namun, larangan ini bermula dari alasan bahwa menyabut alis itu adalah tindakan yang tidak baik. Mereka menggunakan malam Jumat Kliwon untuk menambah rasa takut.
10. Larangan Memotong Kuku di Malam Hari
Selanjutnya, larangan memotong kuku di malam hari yang dipercaya akan memperpendek usia hidup. Larangan ini muncul dari kondisi zaman dahulu, yakni kondisi malam hari yang kurang pencahayaan. Akibatnya, jika memotong kuku di waktu tersebut bisa mengakibatkan luka.
11. Larangan Membuka Payung di dalam Rumah
Larangan ini berkaitan dengan pamali bahwa membuka payung di dalam rumah akan menyebabkan hidup seseorang susah. Namun, terdapat nasihat yang baik dalam larangan ini.
Sejatinya, membuka payu di dalam rumah itu tidak sopan dan menghalangi orang. Jika membuka payung di dalam rumah, kemungkinan terjadi sesuatu yang buruk seperti terjatuh.
12. Larangan Menyapu di Malam Hari
Masyarakat Jawa juga melarang menyapu di malam hari karena akan sulit mendapat rezeki. Makna di balik larangan ini sebenarnya adalah nasihat menggunakan malam hari untuk beristirahat, bukan beraktivitas seperti menyapu.
13. Larangan Memotong Rambut di dalam Rumah Waktu Malam
Larangan ini muncul dari kepercayaan bahwa memotong rambu di dalam rumah pada malam hari bisa mendatangkan makhluk halus di dalam rumah. Namun, sebenarnya larangan ini bertujuan untuk mencegah seseorang agar tidak terluka saat memotong rambut. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu, cahaya di malam hari sangat kurang sehingga arah gunting mungkin melukai kepala.
14. Larangan Tidur dengan Arah Utara
Menurut kepercayaan orang Jawa, tidur menghadap utara akan mengakibatkan seseorang cepat meninggal. Hal ini dikarenakan arah utara segaris dengan energi magnetik. Oleh karena itu, tidur yang baik menurut orang Jawa adalah menghadap arah timur atau barat.
15. Larangan Mengintip Orang Mandi
Terakhir, ada larangan mengintip orang mandi. Dalam masyarakat Jawa, larangan ini dikaitkan dengan mata bintilen. Jika seseorang mengintip orang yang sedang mandi, maka mata mereka akan bintilen. Larangan ini digunakan sebagai nasihat agar anak-anak maupun orang dewasa tidak melakukan tindakan kejahatan, seperti mengintip orang mandi.
Itulah beberapa larangan dalam kehidupan masyarakat Jawa yang hingga kini masih dipercaya. Semoga bermanfaat, lur!
Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik.
(sto/aku)