Di sudut kawasan Taman Kartini Rembang, berdiri sebuah bangunan tua, bercat kuning pucat dengan pilar-pilar tinggi menjulang yang dulu dikenal sebagai Perpustakaan Daerah (Perpusda). Tak banyak yang tahu, gedung itu diyakini sebagai salah satu bangunan peninggalan Eropa tertua yang masih bertahan di Kota Garam.
Pantauan BeritaKlik di lokasi, bangunan tersebut tampak tak lagi terawat. Cat dinding mengelupas di sejumlah bagian, retakan terlihat di sisi tembok, dan halaman depan dipenuhi daun-daun kering yang berserakan.
Area sekitar gedung tampak kusam, dengan rumput liar tumbuh tak beraturan. Secara arsitektur, bangunan berbentuk simetris dengan atap limasan besar dan sebuah kubah kecil di bagian puncak. Empat pilar bergaya klasik menopang teras depan, lengkap dengan tambahan kuncungan di atas pintu utama. Jendela-jendela tinggi berbentuk lengkung dengan kaca patri masih terpasang, meski beberapa bagiannya tampak berbeda dibanding dokumentasi foto lama yang beredar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memasuki bagian dalam, kondisi gedung tak kalah memprihatinkan. Plafon di sejumlah titik terlihat jebol dan menganga, memperlihatkan rangka atap. Lantai dipenuhi debu dan kotoran. Sekat-sekat partisi bekas rak atau ruang baca masih berdiri, menyisakan jejak fungsi terakhirnya sebagai perpustakaan. Cahaya masuk samar melalui jendela kaca patri bermotif bunga, memberi kesan muram pada ruangan yang kini kosong tak berpenghuni.
Pemerhati sejarah Rembang yang juga akademisi UIN Raden Mas Said Surakarta, Muhammad Nabil Fahmi, menyebut bangunan tersebut awalnya merupakan gereja Protestan yang dibangun pada masa awal kedatangan bangsa Eropa.
"Lain ceritanya dengan gereja kuno itu. Bangunan eks Perpusda ini mungkin salah satu sisa-sisa bangunan Eropa tertua yang dibangun dan tetap bertahan sampai sekarang. Dibangun sebagai gereja Protestan, bangunan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan permukiman awal Eropa di Rembang, saat VOC mulai membangun pos dagang dan kemudian benteng di kota ini sejak akhir abad ke-17," ujar Nabil.
Menurutnya, keberadaan gereja itu tak lepas dari aktivitas VOC yang mulai membangun pos dagang di Rembang pada akhir 1600-an. Mayoritas orang Belanda saat itu beragama Protestan, sehingga keberadaan gereja menjadi kebutuhan utama dalam permukiman mereka.
Potret gereja bergaya Eropa tertua di Rembang kini tak terawat, Sabtu (14/2/2026). Foto: Mukhammad Fadlil/detikjateng |
Nabil menuturkan, pada awal masa kemerdekaan Indonesia, bangunan tersebut masih difungsikan sebagai gereja lokal. Namun memasuki tahun 2000-an, Pemerintah Daerah mengalihfungsikannya menjadi Perpustakaan Daerah hingga beberapa waktu terakhir.
Meski bangunannya masih berdiri, kondisinya dinilai memprihatinkan. Nabil menyayangkan sejumlah perubahan fisik yang justru mengurangi nilai keaslian atau otentisitas bangunan.
"Secara pribadi saya prihatin atas bangunan ini. Ini jelas-jelas bangunan cagar budaya. Selain pemilihan cat yang kurang enak dipandang, sejumlah tambahan elemen seperti kuncungan di pintu masuk utama justru mengurangi otentisitas bangunan tersebut. Belum lagi sejumlah kaca patri yang sudah banyak berubah jika dibandingkan foto-foto lama," ungkapnya.
Ia juga menyoroti perubahan lingkungan sekitar bangunan. Jika dulu gedung tersebut tidak berpagar dan dikelilingi taman serta pepohonan rindang, kini kondisinya dinilai kotor dan tidak terawat. Hal itu, kata dia, sejalan dengan semakin tidak terurusnya kawasan Taman Kartini.
Lebih jauh, Nabil menyebut ketiadaan plang cagar budaya dan minimnya literasi sejarah membuat generasi muda Rembang berpotensi kehilangan jejak sejarah kota mereka sendiri.
"Tidak ada plang cagar budaya, dan tanpa ada literasi sejarah, generasi muda Rembang mungkin hanya sekadar mengingat bangunan tersebut sebagai eks-Perpusda yang minimalis pada masanya," katanya.
Padahal, menurut dia, potensi pengembangan bangunan tersebut sangat besar. Dengan tetap mempertahankan statusnya sebagai bangunan bersejarah, pemerintah daerah dinilai bisa menyulapnya menjadi galeri seni atau bahkan museum kota.
"Dengan tetap mempertahankan statusnya sebagai bangunan bersejarah, Pemda sebenarnya bisa menyulapnya menjadi galeri seni atau syukur-syukur museum kota, yang menampilkan galeri minimalis sejarah Kota dan Kabupaten Rembang secara umum," pungkasnya.
(ams/ams)

