Jejak Kapitan Cina dan Penyelundupan Opium di Lawang Ombo Lasem

Jejak Kapitan Cina dan Penyelundupan Opium di Lawang Ombo Lasem

Mukhammad Fadlil - detikJateng
Selasa, 17 Feb 2026 09:28 WIB
Penampakan Omah Lawang Ombo, gudang penyelundupan opium era kolonial di Lasem, Rembang.
Penampakan Omah Lawang Ombo, gudang penyelundupan opium era kolonial di Lasem, Rembang. (Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng)
Rembang -

Di sudut Kampung Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, berdiri sebuah rumah tua berarsitektur Tionghoa dengan pintu-pintu besar menjulang. Lokasinya bertetangga dengan Kelenteng Cu An Kiong, Lasem, tepatnya di sebelah selatan kelenteng bersejarah ini.

Warga setempat mengenalnya sebagai Omah Lawang Ombo. Bangunan berusia ratusan tahun itu bukan sekadar hunian lama, melainkan menyimpan lapis-lapis kisah tentang perdagangan candu, jaringan kapitan Cina, hingga jejak Lasem sebagai kota niaga penting di pesisir utara Jawa.

Kompleks Lawang Ombo terdiri dari dua bangunan yang masih berdiri. Bangunan utama berada di bagian depan, menghadap ke halaman luas berpagar tembok tinggi. Pilar-pilar kayu penyangga teras masih tampak kuat, sementara lampion merah tergantung di serambi, memberi nuansa khas rumah peranakan Tionghoa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memasuki bagian dalam rumah utama, lantai tegel tua terlihat masih terawat. Di salah satu ruang, terdapat lubang menyerupai sumur berdiameter sekitar satu meter yang tertanam di lantai.

Penutup kayu diletakkan di sampingnya. Warga sekitar meyakini, dari titik inilah dahulu terdapat lorong misterius yang terhubung hingga ke Sungai Babagan di sisi barat rumah.

ADVERTISEMENT

Konon, lorong itu menjadi jalur penyelundupan opium dari sungai menuju rumah. Kisah ini sejalan dengan cerita lisan yang berkembang bahwa Lawang Ombo pernah menjadi bagian dari mata rantai perdagangan candu pada era kolonial.

Di belakang bangunan utama, berdiri rumah kedua yang posisinya lebih ke dalam kompleks. Struktur dinding dan atapnya masih relatif utuh. Di sisi selatan bangunan belakang ini, tampak sisa-sisa reruntuhan deretan kamar. Bata-bata lama berserakan, menyisakan puing dan fondasi yang tertutup lumut, menjadi penanda bahwa kompleks ini dahulu jauh lebih luas dan hidup.

Penampakan Omah Lawang Ombo, gudang penyelundupan opium era kolonial di Lasem, Rembang.Penampakan Omah Lawang Ombo, gudang penyelundupan opium era kolonial di Lasem, Rembang. Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Sinolog sekaligus periset budaya Tionghoa Lasem, Agni Malagina, menyebut Omah Lawang Ombo saat ini dimiliki Soebagio Soekidjan dan telah menjadi salah satu destinasi sejarah ikonik di Lasem. Rumah tersebut, kata dia, erat kaitannya dengan masa ketika Lasem dikenal sebagai 'corong candu'.

Istilah itu, lanjut Agni, merujuk pada sebutan opium funnel atau corong opium yang dicatat oleh James Rush dalam bukunya Opium to Java. Dalam catatan tersebut, Lasem digambarkan sebagai simpul penting distribusi candu pada era kolonial.

Menurut kisah lisan yang berkembang di masyarakat, Omah Lawang Ombo diduga pernah menjadi tempat penyimpanan opium yang diselundupkan melalui Sungai Babagan. Candu itu disebut-sebut masuk ke dalam rumah melalui sebuah sumur kecil yang berada di bagian dalam bangunan.

"Rumah Lawang Ombo ini mempunyai kisah-kisah, baik kisah lisan yang dipercaya warga sekitar, bahwa rumah candu ini salah satu yang dahulu menyimpan cerita tentang perdagangan candu atau opium. Opium yang diselundupkan dari Sungai Babagan kemudian masuk ke dalam rumah melalui salah satu sumur kecil yang ada di dalam rumah tersebut," ujar Agni kepada detikJateng.

Namun ia menegaskan, nilai penting Lawang Ombo tak berhenti pada cerita candu. Rumah ini juga menjadi titik lahirnya trah kapitan Tionghoa di Lasem.

Ia menjelaskan, dari rumah inilah muncul keturunan para kapitan Tionghoa yang memegang peran penting dalam struktur pemerintahan kolonial. Salah satu tokoh awalnya adalah Lim Ki Siong, yang tercatat dalam almanak Belanda sebagai kapitan Cina pertama di Lasem.

"Mulai dari Lim Ki Siong, itu tokoh pertama keluarga Lim yang tercatat dalam almanak Belanda menjadi kapitan dan kemudian dia menurunkan keluarga kapitan, setidaknya ada lima anggota keluarga Lim dari rumah Lawang Ombo yang menjadi kapitan," tutur Agni.

Lim Ki Siong menjabat sebagai kapitan Cina pada 1837 hingga 1855. Dari garis keluarga ini, setidaknya lima anggota keluarga Lim kemudian meneruskan posisi kapitan.

"Rumah candu ini menjadi salah satu rumah ikonik dan juga rumah pertama yang memunculkan keturunan para kapiten Tionghoa yang ada di Lasem dan ini menjadi bagian dari sejarah perjalanan Lasem sebagai kota metropolitan pada waktu itu," pungkas Agni.

Sebagian besar makam para kapitan keturunan keluarga Lim tersebut berada di Desa Tulis, Lasem, menjadi penanda jejak elite Tionghoa dalam lanskap sejarah kota pesisir ini.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads