- Sejarah dan Isi Serat Wulangreh
- Tembang-tembang Serat Wulangreh
- Contoh Tembang dalam Serat Wulangreh 1. Tembang Maskumambang 2. Tembang Mijil 3. Tembang Kinanti 4. Tembang Sinom 5. Tembang Asmarandana 6. Tembang Gambuh 7. Tembang Dhandhanggula 8. Tembang Durma 9. Tembang Pangkur 10. Tembang Megatruh 11. Tembang Pocung
Budaya Jawa tidak hanya menyimpan tradisi unik saja, tetapi juga karya sastra yang indah dan menarik untuk ditelusuri. Salah satu karya sastra Jawa yang terkenal adalah Serat Wulangreh, tulisan raja Kasunanan Surakarta, yakni Sri Susuhunan Pakubuwana IV atau biasa dikenal sebagai PB IV.
PB IV merupakan seorang pemimpin dari Kasunanan Surakarta yang terkenal dengan karya-karya sastranya. Serat Wulangreh merupakan salah satu karya sastra yang dibuat oleh raja dengan nama kecil Raden Mas Gusti Sumbadya tersebut. Karya satu ini berisi petuah-petuah kehidupan bagi masyarakat Jawa kala itu.
Lantas, apa sebenarnya isi dari Serat Wulangreh? Untuk mengetahuinya, mari berkenalan dengan karya sastra Jawa satu ini melalui uraian berikut!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah dan Isi Serat Wulangreh
Serat Wulangreh merupakan sebuah karya sastra berbentuk tembang Jawa yang ditulis oleh Pakubuwana IV. Karya ini menjadi bukti kecintaan Pakubuwana IV terhadap budayanya.
Dikutip dari buku berjudul Serat Wulangreh: Akulturasi Agama dengan Budaya Lokal yang disusun oleh Dr H Mustopo, MAg, naskah Serat Wulangreh ini disimpan dalam perpustakaan Rekso Pustoko Kraton Mangkunegara Surakarta. Naskah karya sastra ini juga tersimpan di Perpustakaan Leiden Belanda.
Serat Wulangreh tidak hanya berisikan tembang Jawa penuh nasihat umum saja, tetapi juga atas keadaan ekonomi dan politik masa itu. Dalam sumber yang sama, diuraikan bahwa Serat Wulangreh maupun naskah sastra lain yang ditulis PB IV dan pujangga istana digunakan untuk memberi nasihat atas keadaan ekonomi dan politik yang terjadi pada masa itu.
Pada masa pemerintahan PB IV terjadi intervensi dari pemerintah Belanda yang memunculkan perpecahan. Kala itu, terjadi perseteruan antara PB IV dengan Mangkunegara I yang kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial untuk memecah belah keduanya. Pada akhirnya, pada November tahun 1790 keduanya berpisah dengan wilayah kekuasaan masing-masing.
Keadaan tersebut membawa pengaruh ekonomi dan sosial, terutama mengenai pengaruh kebudayaan kolonial yang kembali merasuk dalam nadi-nadi kerajaan. Tidaklah buruk pula jika kebudayaan tersebut bisa membantu dan bermanfaat, tetapi terkikisnya nilai-nilai budaya lokal tentu perlu dicegah. Maka dari itu, PB IV memberikan peringatan dan nasihat melalui tembang-tembang yang ia tulis, salah satunya Serat Wulangreh ini.
Disadur dari buku berjudul Wulangreh: Petuah Leluhur Budaya Jawa oleh Ishmah Istiqomah, Serat Wulangreh menyimpan beberapa nasihat, yakni:
- Nasihat tentang kepemimpinan
- Nasihat tentang nilai-nilai moral
- Nasihat tentang kesempurnaan hidup
- Nasihat tentang ketuhanan
Tembang-tembang Serat Wulangreh
Serat Wulangreh ditulis pada hari Minggu Kliwon 19 besar tahun 1768-1820 di Keraton Kasunanan Surakarta. Selayaknya sebuah tembang Jawa, Serat Wulangreh mengikuti kaidah tembang Macapat, mulai dari dhandhanggula sampai pocung. Namun, Serat Wulangreh memiliki 13 pupuh, ditambah tembang Girisa dan Wirangrong.
Secara rinci, sebagaimana dijelaskan dua sumber sebelumnya, Serat Wulangreh tersusun dari 13 pupuh dengan tema yang berbeda-beda, yakni:
- Dhandhanggula, sebanyak 12 bait dengan tema "Tiyang gesang kedah ngudi kawruh (Orang hidup haruslah mencari ilmu)"
- Kinanthi, sebanyak 16 bait dengan tema "Lampah dateng saening tumindak (Langkah menuju perbuatan yang baik)"
- Gambuh, sebanyak 17 bait dengan tema "Pepacuh nindaaken piawon (Larangan bertindak buruk)"
- Pangkur, sebanyak 17 bait dengan tema "Awon saening lelampahan punika sampun katitik wonten tumindakipun (Baik buruknya perjalanan hidup itu terbukti dari tindakannya)"
- Maskumambang, sebanyak 34 bait dengan tema "Sesembahan ingkang wajib sinembah (Tuhan yang patut disembah)"
- Megatruh, sebanyak 17 bait dengan tema "Kautamaning tiyang ngawula (Kemuliaan seseorang yang mengabdi)"
- Durma, sebanyak 12 bait dengan tema "Pepacuh sampun ngantos maoni tuwin ndumuk piawoning sanes (Larangan mencela dan mengungkit-ungkit keburukan orang lain)"
- Wirangrong, sebanyak 27 bait dengan tema "Pangatos-atos ing pangandikan tuwin pawong mitra (Berhati-hati dalam berucap dan bertindak)"
- Pocung, sebanyak 23 bait dengan tema "Pepenget tumrap tuminak rukuning pasedherekan (Pengingat untuk bertindak baik dan menjaga persaudaraan)"
- Mijil, sebanyak 26 bait dengan tema "Awon saening narimah utawi mboten narimah (Buruk baiknya menerima atau tidak menerima)"
- Asmarandana, sebanyak 28 bait dengan tema "Wewarah tumindakipun punggawaning praja (Pedoman dalam bertindak bagi para pegawai negara)"
- Sinom, sebanyak 33 bait dengan tema "Tuladhane gegayuhan (Contohnya Impian atau cita-cita)"
- Girisa, sebanyak 25 bait dengan tema "Wawaler tuwin pandonga dhateng para putra (Larangan dan doa bagi anak-anak)"
Contoh Tembang dalam Serat Wulangreh
Berdasarkan sumber-sumber yang sama, berikut ini 11 contoh tembang dalam Serat Wulangreh beserta maknanya.
1. Tembang Maskumambang
Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi
(Orang yang tidak patuh nasihat orang tua juga)
Pan nemu duraka
(berarti durhaka)
Ing dunya tumekeng akir
(baik di dunia sampai akhirat)
Tan wurung kasurang-surang
(tak lain sengsara hidupnya)
2. Tembang Mijil
Poma kaki padha dipun eling
(wahai anakku ingatlah selalu)
Ing pitutur ingong
(atas nasihat dariku)
Sira uga satriya arane
(dirimu disebut juga sebagai satria)
Kudu anteng jetmika ing budi
(harus tenang dan baik budi pekertinya)
Ruruh sarwa wasis
(sabar serta ahli)
Samubarangipun
(atas segala hal)
3. Tembang Kinanti
Padha gulangen ing kalbu
(mari latih dan pahami hati)
Ing sasmita amrih lantip
(agar perasaan bisa lebih tajam)
Aja pijer mangan nendra
(jangan hanya makan dan tidur)
Ing kaprawiran den kesthi
(watak kesatria harus dipelajari)
Pesunen sariranira
(latih badan dan tubuhmu)
Cegahen dhahar lan guling
(kurangi makan dan minum)
4. Tembang Sinom
Ambeke kang wus utama
(tabiat mereka yang sempurna)
Tan ngendhak gunaning janmi
(tak menyepelekkan kepandaian orang)
Amiguna inga guna
(berguna bagi siapa saja)
Sasolahe kudu bathi
(setiap perbuatannya menguntungkan orang lain)
Pintere den alingi
(kepandaiannya ditutupi)
Bodhone dinekek ngayun
(kebodohannya diletakkan di muka)
Pamrihe den inaa
(dengan harapan agar diremehkan)
Mring padha-padhaning janmi
(jangan sampai ada yang mengira bahwa dirinya pandai)
Sika bungah den ina sapadha-padha
(Ikhlas ketika dihina oleh sesamanya)
5. Tembang Asmarandana
Wiwitana badan iki
(asal mula raga ini)
Iya teka ing sarengat
(juga berasal dari syariat)
Ananing manungsa kiye
(adanya manusia ini)
Rukun islam kang lelima
(adalah rukun Islam yang lima)
Nora kena tininggal
(tidak boleh ditinggalkan)
Iku parabot linuhung
(itu pedoman yang luhur)
Mungguh wong urip neng dunya
(bagi orang hidup di dunia)
6. Tembang Gambuh
Aja nganti kabanjur
(janganlah sampai terlanjur)
Sabarang polah kang nora jujur
(semua perbuatan yang tidak jujur)
Yen kabanjur sayekti kojur tan becik
(jika terlanjur pasti hancur dan tidak baik)
Becik ngupayaa iku
(lebih baik coba penuhi)
Pitutur ingkang sayektos
(nasihat yang baik-baik)
7. Tembang Dhandhanggula
Nanging yen sira geguru kaki
(namun apabila engkau ingin bergurau)
Amiliha manungsa kang nyata
(pilihlah manusia yang nyata)
Ingkang becik martabate
(yang bermatabat baik)
Sarta kang wruh ing khukum
(dan yang mengerti hukum)
Kang ngibadah lan kang wirangi
(yang beribadah dan sederhana)
Sokur oleh wong tapa
(syukur dapat pertapa)
Ingkang wus amungkul
(yang telah lebih [ilmunya])
Tan mikir pawewehing iyan
(tak lagi memikirkan pemberian orang)
Iku pantes sira guronana kaki
(itu pantas engkau jadikan guru)
Sartane kawruhana
(dan diminta pentujuknya)
8. Tembang Durma
Bener luput ala becik lawan begja
(benar salah buruk baik ataupun kebahagiaan)
Cilaka mapan saking
(celaka adalah berasal)
Ing badan priyongga
(dari diri pribadi)
Dudu saking wong liya
(bukan karena perbuatan orang-orang)
Pramila den ngati-ati
(sehingga berhati-hatilah)
Sakeh drigama
(semua penghalang)
Singgahana den eling
(simpan di hati dan ingatlah)
9. Tembang Pangkur
Deduga lawan prayoga
(pertimbangan untuk kebaikan)
Myang watara reringa ayya lali
(kecurigaan jangan sampai lupa)
Iku parabot satuhu
(itu adalah alat yang perlu)
Ten kena tininggala
(jangan sampai ditinggalkan)
Tangi lungguh angadeg tuwin lumaku
(saat bangun, duduk , berdiri, dan saat berjalan)
Angucap meneng anendra
(ketika berkata, diam dan tidur)
Duga-duga nora kari
(pertimbangan jangan sampai tertinggal)
10. Tembang Megatruh
Wong ngawula ing ratu luwih pakewuh
(mengabdi kepada raja sangatlah susah)
Nora kena minggrang-minggring
(tidak boleh ragu-ragu)
Kudu mantep sartanipun
(harus disertai dengan kemantapan)
Setyatuhu maring gusti
(selalu setia dan patuh kepada raja)
Dipun miturut sapakon
(mematuhi apa yang menjadi perintahnya)
11. Tembang Pocung
Lamun bener lan pinter pamomongipun
(jika benar dan pandai menjaganya)
Kang ginawe tuwa
(yang dianggap tua)
Aja nganggo abot sisih
(jangan berat sebelah)
Dipun padha pamengkune mring sentana
(bertindak adillah kepada para kerabat)
Demikian itulah uraian tentang Serat Wulangreh, mulai dari sejarah singkat hingga contoh tembangnya. Semoga menambah wawasan kebudayaan kalian ya, Lur!
Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(num/apu)