23 Tanda Orang akan Meninggal Dunia di Primbon Jawa: Kelihatan dari H-3 Tahun!

23 Tanda Orang akan Meninggal Dunia di Primbon Jawa: Kelihatan dari H-3 Tahun!

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Sabtu, 11 Apr 2026 11:29 WIB
Jam pasir
Ilustrasi Tanda Kematian Primbon Jawa (Foto: Aron Visual/Unsplash)
Solo -

Memahami siklus hidup dan mati merupakan bagian mendalam dari kearifan lokal masyarakat Jawa. Dalam ajaran spiritualitas Nusantara, transisi menuju alam baka dipercaya tidak terjadi secara mendadak, melainkan melalui serangkaian tanda orang akan meninggal dunia yang halus namun pasti. Fenomena ini sering kali tertulis rapi dalam kitab-kitab kuno sebagai bentuk pengingat bagi manusia untuk mempersiapkan diri secara batiniah.

Menariknya, isyarat-isyarat gaib ini diklaim sudah kelihatan sejak H-3 tahun sebelum ajal menjemput. Menurut Kitab Primbon Betaljemur Adammakna karya Kangjeng Pangeran Harya Cakraningrat dan Kitab Primbon Lengkap karya Gusti Pangeran Harya Tjakraningrat dan R.Nugroho, tanda-tanda ini melibatkan perubahan pada panca indra, kondisi fisik, hingga pengalaman spiritual di alam bawah sadar. Bagi mereka yang peka, "bisikan" alam ini adalah kompas untuk segera berbenah, menyelesaikan urusan duniawi, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Berikut adalah rangkuman lengkap mengenai pertanda kematian yang terbagi menjadi tanda yang dirasakan secara personal dan tanda yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Dengan memahami 23 tanda orang akan meninggal dunia di Primbon Jawa, kita diajak untuk lebih bijak dalam memandang fananya kehidupan duniawi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Isyarat yang Dirasakan oleh Diri Sendiri (Internal)

Berdasarkan catatan Kanjeng Pangeran Harya Cakraningrat dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna dan Kitab Primbon Lengkap karya Gusti Pangeran Harya Tjakraningrat dan R.Nugroho, raga manusia yang terdiri dari elemen alam akan memberikan sinyal saat kontrak kehidupan mulai berakhir:

ADVERTISEMENT
  • 3 Tahun Sebelum Ajal: Seseorang akan sering merasa letih tanpa sebab yang jelas. Muncul rasa bosan yang mendalam terhadap kemewahan dunia dan sering bermimpi melakukan perjalanan panjang ke arah Utara (simbol keabadian/kematian).
  • 2 Tahun Sebelum Ajal: Muncul kerinduan yang sangat kuat kepada leluhur atau kerabat yang sudah wafat. Secara mistis, ia sering bermimpi sedang memperbaiki atau membetulkan rumah (simbol menyiapkan hunian di alam baka).
  • 1 Tahun Sebelum Ajal: Tabir gaib mulai terbuka sehingga ia sering melihat penampakan makhluk halus atau hal-hal yang tidak kasatmata bagi orang normal.
  • 9 Bulan Sebelum Ajal: Terjadi fenomena unik di mana seseorang sering melihat bayangan atau "sifat" matanya sendiri yang seolah keluar dari raga.
  • 6 Bulan Sebelum Ajal: Indra pendengaran mulai menangkap frekuensi aneh, seperti mendengar pembicaraan jin, setan, bahkan seolah-olah mengerti suara hewan.
  • 3 Bulan Sebelum Ajal: Sering mencium bau-bauan khas makhluk halus (lelembut), seperti aroma kemenyan terbakar yang bercampur dengan bau amis atau anyir.
  • 2 Bulan Sebelum Ajal: Penglihatan mulai mengalami distorsi elemen; air akan terlihat berwarna merah seperti darah, sementara api akan terlihat hitam legam.
  • 40 Hari Sebelum Ajal: Jika jari telunjuk dan jari manis ditekuk ke telapak tangan (epek-epek), jari manis masih bisa diangkat secara mandiri tanpa bantuan jari lain (tanda energi kehidupan mulai lepas).
  • 1 Bulan Sebelum Ajal: Saat menatap bagian tubuh sendiri, terutama pergelangan tangan, akan terlihat seolah-olah sudah terputus dari lengan.
  • 15 Hari Sebelum Ajal: Fenomena autoskopi terjadi, di mana seseorang sering melihat bayangan wajahnya sendiri berdiri tepat di hadapannya meski tanpa cermin.
  • 7 Hari Sebelum Ajal: Kondisi psikis berubah menjadi nglokro (putus asa), kehilangan keinginan untuk makan, mandi, bahkan enggan untuk tidur.
  • 3 Hari Sebelum Ajal: Mengalami kegelisahan luar biasa (gerah-uyang). Secara fisik, tubuh mengeluarkan kotoran sisa metabolisme terakhir yang disebut tinja kalong atau cacing gelang.
  • 2 Hari Sebelum Ajal: Sembilan lubang hawa di tubuh (babahan hawasanga) terasa mengeluarkan angin dingin dan muncul rasa haru atau iba yang sangat dalam pada dirinya sendiri.
  • 1 Hari Sebelum Ajal: Seluruh badan mengeluarkan keringat dingin secara terus-menerus seperti orang yang kelelahan hebat dan otot di pergelangan kaki mulai kendor.
  • Momen Perpisahan: Kulit sudah tidak terasa berdesir (kumrisik) saat disentuh, denyut nadi di pergelangan tangan (keteg) hilang, dan telinga tidak lagi mendengar suara berdengung dari dalam tubuh (gumrebeg).

Isyarat yang Dilihat oleh Orang Lain (Eksternal)

Sering kali, orang yang akan berpulang tidak menyadarinya, namun keluarga atau orang terdekat dapat melihat perubahan aura dan perilaku sebagai berikut:

  • Fase Linulu (3 Tahun): Hidupnya terlihat sangat mulus, semua urusan dimudahkan secara tidak wajar karena ia sedang "dimanjakan" oleh Tuhan sebelum dipanggil pulang.
  • Perubahan Gelagat (2 Tahun): Menunjukkan hobi atau kebiasaan yang sangat asing dan berbeda drastis dari karakter aslinya sehari-hari.
  • Gestur Baru (1 Tahun): Cara berjalan, duduk, atau gerak-gerik motoriknya terlihat berubah menjadi gaya baru yang tidak biasa.
  • Metamorfosis Karakter (6 Bulan): Perubahan watak yang ekstrem; orang yang semula pemarah bisa menjadi sangat pendiam, atau yang semula kikir menjadi sangat dermawan.
  • Kembali Fitrah (4 Bulan): Tingkah lakunya kembali seperti anak-anak, sangat manja, polos, dan butuh perhatian lebih dari orang di sekitarnya.
  • Pudarnya Binar Mata (1 Bulan): Sinar mata mulai meredup, kehilangan cahaya kehidupan, dan tatapannya tampak layu atau kusam.
  • Sinar Mata Condong (7 Hari): Fokus pandangan matanya sudah tidak lagi tegak lurus, namun terlihat miring atau condong ke satu sisi.
  • Tanda Fisik Akhir: Raut wajah berubah pucat pasi, daun telinga lemas (tidak tegak), cuping hidung merapat (mingkup), dan suhu tubuh terasa sangat dingin saat diraba.

Segala pertanda yang tertulis dalam Primbon Jawa ini sejatinya merupakan warisan budaya untuk memotivasi manusia agar selalu mawas diri (eling lan waspada). Meskipun maut adalah rahasia mutlak Tuhan, kearifan ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan yang memiliki titik henti, sehingga setiap detik yang dimiliki harus diisi dengan kebaikan dan amal ibadah yang tulus.

Memilih percaya atau tidak, tentu dikembalikan pada keyakinan masing-masing. Semoga menambah wawasan detikers seputar budaya Jawa, ya!

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads