2 Kuintal Gunungan Getuk Ludes Diserbu Warga di Alun-alun Magelang

2 Kuintal Gunungan Getuk Ludes Diserbu Warga di Alun-alun Magelang

Eko Susanto - detikJateng
Minggu, 12 Apr 2026 14:26 WIB
Potret kemeriahan grebeg getuk yang berlangsung di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (12/4/2026).
Potret kemeriahan grebeg getuk yang berlangsung di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (12/4/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng.
Magelang -

Grebeg Gunungan Getuk HUT ke-1120 Kota Magelang yang berlangsung di Alun-alun Magelang disambut antusiasme warga. Dalam sekejap gunungan getung yang dibuat dari 2 kuintal ketela ludes diserbu warga.

PantauandetikJateng, prosesi rangkaian Grebeg Getuk yang diawali kirab Bregodo Mantyasih dari Meteseh menuju pendopo alun-alun. Kemudian dilanjutkan dari kirab Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, Wakil Wali Kota Sri Harso bersama Forkopimda dari Pendopo Alun-alun menuju alun-alun.

Yang seterusnya diikuti masing-masing kelurahan dengan membawa gunungan. Gunungan yang disajikan 17 kelurahan ini baik berupa hasil bumi maupun potensi yang ada di wilayah kelurahan setempat.

Gelaran dilanjutkan dengan sendratari kolosal Babad Mahardika. Sendratari ini menceritakan berdirinya Kota Magelang berdasarkan prasasti Mantyasih.

Usai sendratari, dua gunungan getuk baik gunungan lanang dan wadon memasuki alun-alun. Saat itu, Wali Kota Damar Prasetyo membacakan sabda dan memberikan aba-aba untuk berebut gunungan.

Potret kemeriahan grebeg getuk yang berlangsung di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (12/4/2026).Potret kemeriahan grebeg getuk yang berlangsung di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (12/4/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng



Secepat kilat warga langsung merangsek menuju gunungan. Mereka berebut gunungan getuk maupun gunungan hasil bumi serta gunungan berisi potensi UMKM dari masing-masing kelurahan.

"Saya kebetulan dapat lemparan dari atas (orang naik ke gunungan). Saya nggak sempat ambil langsung," kata Martutwuri Handayani (57), pengajar di SMPN 4 Magelang kepada wartawan di Alun-alun Magelang, Minggu (12/4/2026).

"Orang banyak banget, sangat meriah. Saya senang banget (bisa ikut memeriahkan) karena ini hari jadi Kota Magelang yang ke-1120. Semoga Magelang nanti lebih hebat, lebih bisa menyejahterakan masyarakatnya," sambungnya.

Sementara itu, Panitia Grebeg Getuk 2026, Nurwiyono Slamet Nugroho, mengatakan gunungan getuk ada dua terdiri gunungan lanang dan wadon.

"Itu diameternya 2,5 dan tingginya 3 meter. Itu dari 2 kuintal ketela yang dibuat menjadi getuk. Yang memberdayakan UMKM di Kota Magelang," kata Nurwiyono yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Sendratari Babad Mahardika, kata Nurwiyono, melibatkan 250 penari. Kemudian untuk yang di Mantyasih melibatkan sekitar 120 orang bregada.

"Pelaksanaan selalu kita evaluasi. Yang pertama efisiensi waktu, dulu ada prosesi upacara terlalu lama. Maka, prosesi upacara hanya di pendopo alun-alun," kata dia.

Grebeg getuk sendiri, katanya, sudah berlangsung sejak tahun 2006. Kemudian dilangsungkan hingga sekarang.

"Layout ada perubahan. Yang menari di panggung. Terus dulunya dipasang pagar besinya semua, terus sekarang di utara nggak ada besi," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Potret kemeriahan grebeg getuk yang berlangsung di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (12/4/2026).Potret kemeriahan grebeg getuk yang berlangsung di Alun-alun Kota Magelang, Minggu (12/4/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng



Sementara itu, Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, mengatakan Grebeg Getuk yang menampilkan berbagai macam budaya lokal khususnya di Magelang.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Kota Magelang, para seniman, budayawan yang luar biasa. Untuk perayaan grebeg getuk tahun 2026 luar biasa," kata Damar.

"Prosesi dari Mantyasih, kami terima di pendopo alun-alun dan rute perjalanan. Yang kemarin (dulu-dulu) dari kantor PDAM menggunakan delman, sekarang kita ubah rutenya kita berjalan kaki bersama. Dari pendopo alun-alun masuk ke alun-alun Kota Magelang," tegas Damar.

ADVERTISEMENT



Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPRD Kota Magelang Evin Septa Haryanto Kamil mengatakan, ini berlangsung meriah juga menjadi pestanya rakyat.

"Harapannya rakyat bisa ngumpul ini tidak hanya kumpul fisik, tapi kumpul secara rasa, secara pikir untuk gotong royong memajukan Kota Magelang. Kumpulnya, pestanya ini hanya simbol, tapi maknanya kumpul adalah untuk kumpul rasa, kumpul pikir, kumpul gerak. Bahwa kita menyukseskan Kota Magelang untuk lebih maju lagi," pungkasnya.





(apl/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads