24 Pohon Keramat dalam Budaya jawa, Ada yang Bisa Mengalahkan Orang Kebal!

24 Pohon Keramat dalam Budaya jawa, Ada yang Bisa Mengalahkan Orang Kebal!

Mardliyyah Hidayati - detikJateng
Selasa, 28 Apr 2026 12:55 WIB
Ilustrasi Pohon Keramat
Ilustrasi Pohon Keramat Budaya Jawa (Foto: Pagie Page/Unsplash)
Solo -

Dalam budaya Jawa, alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan juga bagian dari sistem kepercayaan yang sarat makna simbolik. Salah satu wujudnya adalah kepercayaan terhadap pohon-pohon keramat. Kepercayaan ini diwariskan secara turun-temurun dan masih hidup hingga kini.

Dalam buku Praktik-Praktik Konversi Lingkungan secara Tradisional di Jawa oleh Purnomo, disebutkan bahwa masyarakat Jawa memandang pohon-pohon tertentu sebagai sesuatu yang keramat. Pohon-pohon tertentu dipercaya memiliki "tuah" atau energi khusus yang dapat membawa keberuntungan, perlindungan, bahkan menjadi perantara pesan dari dunia tak kasat mata. Tak jarang, keberadaannya dijaga dengan penuh penghormatan dan menjadi bagian dari tradisi lokal.

Menariknya, setiap jenis pohon memiliki makna dan cerita yang berbeda-beda. Lantas, apa saja pohon yang dianggap keramat dalam budaya Jawa dan apa makna di baliknya? Mulai dari pohon aren sampai beringin, berikut 24 pohon keramat dalam budaya Jawa yang akan kita kulik bersama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

24 Pohon Keramat dalam Budaya Jawa

Pohon-pohon yang dianggap keramat oleh masyarakat Jawa umumnya memiliki makna filosofis dengan simbol yang melekat padanya. Berdasarkan buku Tanaman Kultural dalam Perspektif Adat Jawa oleh Purnomo, pohon-pohon yang demikian ini tak pernah lepas dari tradisi lokal, seperti tempat ritual, sesaji, atau sekadar dihormati dengan tidak sembarangan ditebang.

ADVERTISEMENT

Berikut ini 24 pohon keramat dalam budaya Jawa, mulai dari pohon aren sampai beringin yang menarik untuk diselami.

1. Pohon Aren

Pohon aren merupakan tanaman jenis palem asli dari Indonesia. Tanaman dengan nama ilmiah Arenga pinnata Merr. Pohon ini dianggap sebagai pohon keramat oleh masyarakat Jawa. Tanaman yang biasa digunakan dalam bahan baku gula ini dipercaya sebagai pohon yang dapat berkomunikasi dengan manusia dan representasi seorang wanita. Jadi, ketika seseorang akan mengambil air niranya atau menyadap, harus melaksanakan ritual pernikahan untuk mendapat izin.

Lidi dari daun aren dapat digunakan sebagai sapu. Lidi dari tanaman aren disebut sebagai sodo aren yang dipercaya dapat mengusir makhluk halus jahat dan hama pertanian. Aren yang dikenal sebagai kawung, buahnya telah menginspirasi masyarakat Jawa untuk menciptakan motif batik yaitu motif kawung. Motif kawung merupakan motif batik tertua.

2. Pohon Asem

Pohon asem merupakan salah satu tanaman yang menjadi unsur elemen taman di Keraton Yogyakarta. Pasalnya, tanaman dengan nama ilmiah Tamarindus indica L. ini dianggap dapat mewakili salah satu simbol siklus hidup manusia, yaitu ketika manusia masih muda atau enom. Istilah enom ini hampir sama dengan nama daun asam, yakni sinom.

Kayu asam yang berwarna hitam dipercaya dapat mengeluarkan aura kedamaian, dan memiliki getaran halus. Oleh karena itu, makhluk halus suka dengannya, sehingga sering digunakan sebagai tempat penyimpanan mereka yang jahat. Selain itu, bijinya konon memiliki mustika yang dapat mendatangkan kebahagiaan.

3. Pohon Kalimasada

Pohon kalimasada merupakan salah satu tanaman yang dianggap keramat oleh masyarakat Jawa, khususnya di Karimun Jawa. Tanaman dengan nama ilmiah Cordia subcordata Lam. ini dianggap memiliki kaitan sejarah dengan wilayah tersebut. Tanaman ini memiliki aura untuk meningkatkan spiritualitas seseorang agar selalu ingat kepada Tuhan.

Kayu dari tanaman yang rindang nan hijau ini dapat dibuat tasbih. Dari benda itulah seseorang dapat mengingat Tuhan melalui dzikir. Dalam kepercayaan Jawa, tasbih yang dibuat dengan kayu tersebut dapat meningkatkan energi spiritualitas dan menyimpan energi yang dibaca.

4. Pohon Dadap Srep

Pohon dadap srep merupakan tanaman yang menyimbolkan kesejukan atau dalam bahasa Jawa disebut keasrepan, kedamaian, dan ketenangan. Tidak heran jika namanya pun srep yang mirip dengan asrep yang bermakna sejuk. Sebagai simbol kesejukan, tanaman satu ini kerap dijadikan obat sakit demam atau panas oleh masyarakat Jawa.

Tanaman dengan nama ilmiah Erythrina lithospermus Miq ini menjadi salah satu tanaman yang penting dalam berbagai upacara adat di Jawa. Misalnya, dalam upacara pernikahan, dadap srep digunakan sebagai bagian dari hiasan kembar mayang dan siraman. Daun dadap srep juga digunakan dalam Menyusun ubo rampe dalam upacara membangun rumah.

5. Pohon Gayam

Pohon gayam merupakan salah satu tanaman yang penting dalam unsur taman Keraton Yogyakarta. Konon, pohon yang kini jarang ditemui ini dipercaya sebagai jelmaan seorang yang bijaksana dan sakti. Oleh karena itu, Sultan Yogyakarta menanamnya di lingkungan keraton sebagai lambang jiwa yang suci.

Pohon dengan nama ilmiah Inocarpus edulis Forst. ini juga dianggap sebagai simbol kedamaian atau ketenangan. Kedamaian itu muncul dari rasa buahnya yang manis. Gayam juga memiliki filosofi nama, yakni ga atau gayuh dengan makna berusaha dan yem atau ayem yang artinya damai. Dengan demikian, gayam ini menjadi simbol bahwa manusia harus berupaya agar mencapai sesuatu yang luhur, sehingga hidupnya tenang dan damai.

6. Pohon Jambu Arum

Pohon jambu arum merupakan jenis jambu yang dianggap sebagai tanaman keramat oleh masyakat Jawa. Pohon satu ini juga masuk dalam daftar pohon yang ditanam di Keraton Yogyakarta, tepatnya di dekat sitihinggil atau singgasana. Oleh karena itu, tanaman satu ini kerap dikenal sebagai jamu Keraton.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, tanaman jambu satu ini dapat mendatangkan keharuman atau kebaikan, seperti namanya. Kemudian, tanaman ini juga menjadi simbolisasi manusia yang baik, yaitu manusia yang selalu berbicara harum atau baik.

7. Pohon Jambu Darsono

Tanaman jambu lainnya yang dianggap keramat oleh masyarakat Jawa adalah jambu darsono. Tanaman satu ini menjadi simbol kebaikan. Secara linguistik, nama jambu darsono dimaknai dengan kata kadarsih ing sasomo atau cinta kasih kepada sesama. Tidak heran jika tanaman jambu ini menjadi simbol bahwa manusia hidup harus senantiasa berbuat baik kepada sesama.

Tak ketinggalan, pohon jambu darsono juga ditanam di dalam Keraton Yogyakarta bagian taman. Pohon ini adalah lambang siklus hidup manusia yang terjadi karena kasih sayang antara kedua orang tua. Oleh masyarakat, pohon ini ditanam di pekarangan rumah agar sang pemilik mendapat pepeling atau teladan luhur. Tanaman ini juga dipercaya membawa keberuntungan bagi si empunya.

8. Pohon Jati

Pohon jati merupakan tanaman keramat yang tak kalah familiar di kalangan masyarakat umum, selain asem dan aren. Tanaman yang banyak digunakan di Indonesia ini dianggap sakral, sampai-sampai dalam proses penebangannya memerlukan upacara tertentu. Masyarakat Jawa melakukan upacara tersebut untuk meminta izin.

Kesakralan pohon ini merujuk pada manfaatnya yang sangat banyak, utamanya bagi masyarakat Jawa. Kayunya yang kokoh menjadi bahan utama pembuatan rumah tradisional di Jawa. Sepenting itu pohon satu ini, sehingga namanya jati yang dalam bahasa Jawa berarti benar atau tiada duanya.

9. Pohon Kantil

Kantil bukan hanya bunga, tetapi juga pohon keramat dalam budaya Jawa. Berdasarkan namanya, kantil ini dimaknai sebagai kanti laku kon kumanthil yang artinya dengan usaha dan berserah diri. Pada intinya, pohon ini memiliki makna filosofis bahwa manusia harus berusaha dan berserah diri kepada Tuhan untuk dapat mencapai keinginannya.

Bagi kaum bangsawan Keraton, bunga kantil kerap menjadi hiasan. Bunga ini melambangkan keeratan hubungan persaudaraan keluarga. Dalam hal ini, kantil dimaknai sebagai gegantilaning ati atau sesuatu yang selalu melekat di hati. Bahkan, bunga kantil juga menjadi lambang ungkapan kesetiaan, cinta, dan kemesraan lo, detikers.

10. Pohon Keben

Keben merupakan tanaman yang masuk dalam daftar pohon di taman Keraton Yogyakarta. Hal tersebut dikarenakan oleh filosofi bahwa manusia yang telanjang harus menutupi aurat yang dipercaya masyarakat Jawa atas pohon ini. Bahkan, Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan makna pohon satu ini sebagai lambang eksistensi negara besar dan bersih.

Saking istimewanya Keben bagi Yogyakarta, tanaman satu ini digambarkan dalam gapura masuk kotanya. Terlebih, pohon satu ini juga memiliki makna hangkurebi jejering bebener yang artinya merangkul kebenaran.

11. Pohon Kelapa

Kelapa dikenal sebagai tanaman serbaguna, termasuk dalam berbagai ritual adat di Jawa. Hal ini disebabkan oleh filosofi-filosofi yang terkandung di dalamnya. Buah kelapa yang disebut cangkir gading misalnya, oleh masyarakat Jawa dimaknai sebagai kecenging pikir yang artinya kecakapan berpikir. Makna tersebut membuat pohon satu ini kerap ada dalam acara siraman, mitoni, dan lain sebagainya.

Daun kelapa juga tak kalah filosofis. Masyarakat Jawa menyebut daun yang muda dengan janur kuning dari kata Jannah dalam bahasa Arab yang berarti surga, nur artinya cahaya, dan wening yang artinya suci. Dengan demikian, makna filosofisnya adalah bahwa manusia dalam menggapai cita-cita harus diniatkan karena Allah. Oleh karena itu, penggunaannya dalam upacara pernikahan menjadi simbol harapan akan rumah tangga yang indah nantinya.

12. Pohon Kelor

Kelor merupakan pohon keramat dalam budaya Jawa. Pohon kelor dipercaya sebagai penangkal bahaya atau tolak balak dan ilmu sihir. Tidak heran jika banyak dari masyarakat Jawa yang menggunakannya untuk melindungi diri dari perbuatan jahat orang lain, seperti santet dan sebagainya.

Ranting daun kelor juga tak kalah keramat, detikers. Masyarakat Jawa percaya bagian dari kelor itu dapat digunakan untuk mengalahkan orang yang memiliki ilmu kebal. Dari situlah mengapa tanaman satu ini kerap digunakan sebagai bahan untuk memandikan jenazah.

13. Pohon Keluwih

Keluwih merupakan tanaman yang menyimbolkan keluwihan atau keunggulan. Oleh karena itu tanaman ini sering digunakan sebagai simbol harapan masyarakat agar senantiasa diberi kelebihan oleh Tuhan. Tidak heran jika keluwih tak absen dalam sajian tumpeng di upacara mitoni dan tradisi lainnya.

Keluwih menjadi tanaman yang penting dalam upacara adat sebagai bahan makanannya. Dalam tradisi mitoni, misalnya, tanaman ini menjadi simbol harapan supaya bayi yang lahir memiliki kelebihan-kelebihan seperti kepandaian, rezeki, dan lain sebagainya. Tak berbeda dalam tradisi selametan pindah rumah, keluwih menjadi simbolisasi harapan agar senantiasa diberi kelebihan.

14. Pohon Kenanga

Pohon kenanga menjadi salah satu pohon keramat dalam budaya masyarakat Jawa. Kenanga sendiri merupakan bunga yang penting dalam ritual-ritual Jawa. Ia menjadi salah satu bahan penyusun bunga tabur pada saat pemakaman maupun ziarah kubur. Bahkan kenanga juga termasuk bunga telon atau tiga macam bunga dan bunga setaman atau tujuh macam bunga yang sering ada dalam tradisi-tradisi di Jawa.

Dalam tradisi Jawa, bunga ini melambangkan doa para peziarah agar dapat dikabulkan. Dalam Keraton, kenanga digunakan sebagai simbol bahwa manusia harus saling tolong-menolong. Simbolisasi tersebut merujuk pada makna kenanga sebagai tumengo atau yang berarti menolong antarsesama.

15. Pohon Kepel

Pohon kepel merupakan tanaman yang menjadi identitas kaum bangsawan dalam budaya Jawa. Di Keraton Yogyakarta, tumbuhan ini menjadi salah satu unsur taman yang menyimbolkan asal terjadinya manusia. Hal tersebut berkaitan dengan makna kepel sebagai kempel yang artinya menyatu. Makna tersebut dikaitkan dengan menyatunya kasih sayang antara orang tua laki-laki dan perempuan.

Pohon ini juga menjadi simbol watak pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik ini merujuk pada pemimpin yang mampu membangun masyarakatnya baik lahir maupun batin. Tanaman ini juga melambangkan kekuatan pemimpin dalam memegang kekuasaannya, layaknya bentuk buah kepel yang mirip kepalan tangan.

16. Pohon Mangga

Dalam masyarakat Jawa, pohon mangga juga dianggap keramat dan memiliki nilai filosofisnya sendiri. Pohon ini juga masuk jajaran tanaman yang ada di Taman Keraton Yogyakarta. Melalui tanaman ini, simbol manusia yang masuk tahap kehidupan dewasa dilambangkan. Kata pelem sebagai sebutan mangga oleh orang Jawa dikaitkan dengan gelem yang artinya mau yang dalam konteks ini adalah untuk mengiyakan pernikahan.

Pada zaman kerajaan Hindu-Buddha, pohon ini menjadi salah satu tanaman sakral yang dihormati oleh masyarakat. Hal ini disebabkan oleh kepercayaan orang pada masa itu terhadap pohon mangga sebagai perwujudan Dewa Prajapati.

17. Pohon Nagasari

Nagasari ini bukanlah makanan, tetapi pohon keramat dalam budaya Jawa. Tanaman satu ini tak jarang muncul dalam cerita-cerita pewayangan dan naskah kuno. Salah satunya adalah dalam cerita Ramayana ketika Hanoman melompat ke negeri Alengka dari pohon tersebut. Terlebih lagi, masyarakat Jawa juga percaya bahwa pohon ini dapat mencegah datangnya pengaruh Jawa. Oleh karena itu, nagasari dipercaya sebagai pohon keramat oleh orang Jawa.

18. Pohon Pakel

Pohon pakel merupakan tanaman pilihan yang sengaja ditanam di taman keraton Yogyakarta. Pohon satu ini dipilih karena dianggap sebagai tanaman yang menjadi simbol siklus kehidupan manusia yang disebut pakel atau akil baliq. Pada masa kehidupan tersebut, manusia sudah dewasa dan berani untuk menikah.

19. Pohon Randu Alas

Randu alas juga dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai pohon keramat. Masyarakat Jawa menganggap pohon ini sebagai tempat makhluk halus dan biasanya diberi sesaji. Tak hanya keramat, tanaman satu ini juga memiliki manfaat yang penting, terutama kayunya. Pada masa kerajaan Mataram Islam, kayu pohon randu alas digunakan sebagai penanda batas desa. Sebenarnya tanaman ini juga memiliki 'kapuk' sebagai bahan isian kasur dan bantal, tetapi tidak digunakan karena kepercayaan akan kesakralannya tersebut.

20. Pohon Sawo Kecik

Sawo memang buah yang lezat dan manis, tetapi sawo kecik juga memiliki nilai kesakralannya sendiri. Sawo kecik dalam masyarakat Jawa dimaknai sebagai sarwo becik atau berarti serba baik. Makna tersebut muncul sebagai kepercayaan bahwa tanaman tersebut memiliki aura untuk mendatangkan kebaikan.

Sawo becik juga kerap dikaitkan dengan kata nandur kabecikan yang berarti menanam kebaikan. Dari sanalah, tanaman ini mengandung filosofi agar manusia dapat memberikan kesejukan kepada manusia lainnya. Bahkan, tanaman ini juga menjadi pengingat bahwa manusia harus selalu berbuat baik.

21. Pohon Kembang Gading atau Tanjung

Pohon tanjung atau kembang gading adalah tumbuhan yang pernah disebutkan dalam Kitab Negara Kertagama. Dalam kitab tersebut, pohon keramat ini ditanam di pusat kerajaan Jawa, yakni Kerajaan Majapahit. Tak sampai di situ, hingga saat ini pohon tanjung juga menjadi salah satu elemen dalam Taman Keraton Yogyakarta. Ia menjadi simbol siklus kehidupan manusia dari anak-anak menuju remaja yang digambarkan suka disanjung.

22. Pohon Timaha

Meski tak banyak yang mengetahuinya, timaha juga dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai pohon keramat, detikers. Pohon ini dipercaya sebagai tempat makhluk halus yang membawa keselamatan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, potongan kayu dari pohon ini dianggap sebagai pusaka, bahkan digunakan sebagai gagang tombak.

23. Pohon Wijaya Kusuma

Wijaya Kusuma merupakan salah satu pohon keramat dalam budaya Jawa. Dalam masyarakat Jawa, tanaman satu ini dipercaya sebagai senjata yang dapat menghidupkan kembali manusia yang telah meninggal tetapi belum waktunya meninggal. Tanaman ini juga kerap digunakan sebagai syarat dalam sesaji upacara-upacara besar Kesultanan Solo.

Bunga Wijaya Kusuma sendiri memiliki peran penting dalam penobatan raja baru. Bunga ini menjadi simbol harapan akan pemerintahan yang bahagia dengan hadirnya raja baru. Bunga ini juga dikonsumsi oleh permaisuri yang tengah mengandung sebagai rujak dengan harapan anaknya seperti bunga ini. Anak yang sopan santun dan Wijaya atau bahagia, serta Kusuma yang artinya dari keturunan penguasa.

24. Pohon Beringin

Terakhir, beringin yang sangat umum dianggap sebagai pohon keramat, bahkan di luar masyarakat Jawa. Tanaman dengan nama ilmiah Ficus benjamina L. ini menjadi pohon yang paling dihormati oleh masyarakat Jawa. Setiap Jumat, banyak dari mereka mengadakan persembahan di pohon yang suci dan sakral ini.

Saking sakralnya, pohon ini memiliki sebutannya sendiri, mulai dari pohon dewa, pohon hayat (pohon kehidupan), dan masih banyak lagi. Pada masa Hindu-Buddha bahkan pohon ini dihormati selayaknya candi atau tempat dewa. Kini, pohon ini pun masih sangat penting, sehingga menjadi tanaman yang pasti ada di alun-alun Keraton Yogyakarta maupun Surakarta.

Itulah 24 pohon keramat dalam budaya Jawa yang penuh makna filosofis, mulai dari aren sampai beringin. Semoga menambah wawasan budaya Jawa ya, Lur!

Artikel ini ditulis oleh Mardliyyah Hidayati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads