Tradisi 'Kasur Raga' Usungan Jenazah Sekali Pakai di Kalitanjung Banyumas

Tradisi 'Kasur Raga' Usungan Jenazah Sekali Pakai di Kalitanjung Banyumas

Anang Firmansyah - detikJateng
Senin, 25 Mei 2026 07:28 WIB
Ilustrasi makam
Ilustrasi makam. Foto: Getty Images/iStockphoto/HAYKIRDI
Banyumas -

Masyarakat di Grumbul Kalitanjung, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Banyumas, mempunyai tradisi pemakaman warisan leluhur yang sudah berusia ratusan tahun. Diyakini, tradisi sudah ada sejak tahun 1503 silam.

Tradisi itu dikenal dengan penggunaan 'kasur raga', sebuah usungan jenazah berbahan bambu yang dibuat khusus setiap kali ada warga meninggal dunia. Bagi masyarakat Kalitanjung, kasur raga bukan sekadar alat pengantar jenazah ke pemakaman, melainkan simbol perjalanan terakhir manusia menuju alam keabadian.

Juri bicara masyarakat adat Kasepuhan Kalitanjung, Darmadi, mengatakan hampir seluruh warga Kalitanjung masih menggunakan tradisi tersebut hingga sekarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau Kalitanjung itu hampir semua pakai tradisi orang meninggal menggunakan kasur raga. Bahannya menggunakan bambu," kata Darmadi saat dihubungi detikJateng, Rabu (20/5/2026).

Kasur raga dibuat secara khusus ketika ada warga meninggal. Tidak ada kasur raga yang disimpan atau digunakan ulang. Menurut kepercayaan warga setempat, alat pengantar jenazah tidak boleh bekas digunakan orang lain.

ADVERTISEMENT

"Itu ibaratnya kereta menuju ke sana, untuk membawa orang meninggal ke kuburan. Menurut kepercayaan orang Kalitanjung jangan bekas orang," ujarnya.

Tak hanya itu, pembuatan kasur raga juga memiliki aturan dan hitungan tersendiri yang diwariskan turun-temurun. Ukuran hingga jumlah bambu yang digunakan tidak boleh sembarangan.

"Ada ukuran-ukurannya sendiri, ada hitungannya juga seperti orang Jawa pada umumnya," katanya.

Dalam proses pembuatannya, bagian alas atau tatakan dibuat menggunakan tujuh potong kayu, sedangkan bagian lengkung atap menggunakan lima potong bambu.

"Ada kayu jumlahnya tujuh potong. Yang mengkelung, yang buat atap jumlahnya lima potong. Hitungannya selalu seperti itu," jelas Darmadi.

Angka tujuh sendiri memiliki makna filosofis bagi masyarakat Kalitanjung. Darmadi menyebut ikatan pada jenazah juga dibuat tujuh simpul.

"Orang meninggal itu ikatannya ada tujuh. Kalau yang lebih mendetail lagi, di dalam tubuh manusia juga ada tujuh bagian tertentu menurut hitungan leluhur," ucapnya.

Setelah digunakan mengantar jenazah ke makam, kasur raga tidak ikut dikuburkan. Benda itu hanya diletakkan di atas makam hingga lapuk dimakan usia.

"Kasur raga itu ditaruh di atas makam, tidak ikut dikuburkan, sampai rusak sendiri," katanya.

Tradisi kematian di Kalitanjung tidak berhenti pada prosesi penguburan. Saat malam hari sebelum pemakaman, warga juga menggelar pembacaan "Serat Menyuri", semacam kidung atau tembang khusus yang dibacakan semalam suntuk oleh para sesepuh adat.

"Kalau meninggalnya sore, biasanya dikuburkan besoknya. Malamnya dibacakan Serat Menyuri. Semacam kidungan, tapi ada bukunya sendiri. Yang membaca sesepuh sini, tidak semua orang bisa ngidung," ujar Darmadi.

Prosesi memandikan jenazah pun masih dilakukan dengan tata cara tradisional. Para perempuan lanjut usia bertugas memandikan jenazah, sementara kaum laki-laki membantu menuangkan air menggunakan tempurung kelapa.

"Yang memandikan nenek-nenek. Yang laki-laki memberi air pakai tempurung kelapa," katanya.

Setelah prosesi pemandian selesai, tokoh agama atau kayim kemudian masuk untuk memberikan air wudu kepada jenazah sebelum dikafani menggunakan kain berbahan kapas.

Menurut Darmadi, tradisi yang masih dijaga masyarakat Kalitanjung itu merupakan warisan dari para leluhur Kesepuhan Kalitanjung yang berkaitan erat dengan sejarah Kadipaten Pasirluhur dan sosok Adipati Bonjok atau Adipati Mertanegara.

"Kesepuhan itu sudah ada sejak 1503, setelah Babad Kamandaka. Dulu ada Kerajaan Pasirluhur, lalu ada peninggalan dari Adipati Bonjok, akhirnya menjadi Paguyuban Kesepuhan Kalitanjung," terangnya.

Hingga kini, ribuan warga di Grumbul Kalitanjung disebut masih memegang teguh tradisi tersebut. Bahkan Desa Tambaknegara dikenal sebagai satu-satunya desa yang dikelilingi makam leluhur di setiap sudut wilayahnya.

"Satu-satunya desa yang dikelilingi makam leluhur itu ya Tambaknegara. Masing-masing ada makam di pojok empat desa," pungkas Darmadi.




(apu/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads