Kubu PB XIV Purbaya Gelar Grebeg Besar, Warga Berebut Gunungan

Kubu PB XIV Purbaya Gelar Grebeg Besar, Warga Berebut Gunungan

Tara Wahyu NV - detikJateng
Rabu, 27 Mei 2026 12:42 WIB
Suasana grebeg besar yang digelar Paku Buwono XIV Purbaya, Rabu (27/5/2026)
Suasana grebeg besar yang digelar Paku Buwono XIV Purbaya, Rabu (27/5/2026) (Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng)
Solo -

Kubu Paku Buwono (PB) XIV Purbaya menggelar Grebeg Besar Hari Raya Idul Adha 1447 H. Grebeg Besar dimulai dari dalam Keraton Solo menuju ke Masjid Agung Solo.

Dari pantauan detikJateng, iring-iringan Grebeg Besar dimulai sekira pukul 10.30 WIB. Di barisan pertama dimulai dengan prajurit keraton, abdi dalem, gunungan, dan gamelan.

Iring-iringan prajurit dipimpin oleh KRMT Pustokoningrat. Sedangkan Paku Buwono XIV Purbaya tidak terlihat dalam rombongan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rute iring-iringan dimulai dari dalam Keraton Solo melewati Kori Kamandungan, Sitihinggil, Pagelaran, Alun-alun Utara, dan Masjid Agung Solo. Tiba di Masjid Agung, diterima oleh pihak masjid yang dipimpin oleh Penghulu Tafsir Anom, Muhtarom.

Masyarakat baik muda maupun tua sudah menunggu di halaman Masjid untuk menunggu rebutan gunungan. Salah satu warga yang ikut berebut yakni Yanti.

ADVERTISEMENT

Yanti tampak semringah membawa pulang seikat hasil bumi berupa kacang panjang, cabai merah, hingga sebuah bendera merah putih berukuran kecil. Bagi Yanti, hasil gunungan yang didapatkannya bukan sekadar sayuran biasa, melainkan sarana untuk 'ngalap berkah'.

"Ini setiap tahun saya ikut merebut (gunungan) karena biar berkah, biar sehat," ujar Yanti saat ditemui di halaman keraton, Rabu (27/5/2026).

Ia mengatakan hasil bumi yang ia dapatkan kali ini akan langsung dimanfaatkan untuk mendukung usaha kulinernya. Yanti mengungkapkan bahwa dirinya sehari-hari mengais rezeki dengan berjualan nasi berkat, kuliner khas legendaris di Pasar Gede Solo.

"Ya nanti cabainya ini mau tak pakai jualan, jualan nasi berkat. Saya asli Wonogiri, jualan nasi berkat di Pasar Gede Solo," tuturnya.

Suasana grebeg besar yang digelar Paku Buwono XIV Purbaya, Rabu (27/5/2026)Suasana grebeg besar yang digelar Paku Buwono XIV Purbaya, Rabu (27/5/2026) Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

Sementara untuk kacang panjang yang jumlahnya cukup banyak, ia berencana memasaknya sebagai hidangan keluarga atau kudangan. Tak ketinggalan, sebuah bendera kecil yang berhasil ia amankan juga akan disimpan baik-baik di rumahnya sebagai kenang-kenangan.

"Benderanya ini mau tak simpen, buat simbol setiap tahunnya saya dapat," imbuh Yanti.

Yanti mengaku dirinya hampir tidak pernah melewatkan momentum Grebeg Keraton Solo. Beruntung, setiap kali ikut berdesakan dengan ribuan warga lainnya, ia selalu berhasil membawa pulang bagian dari gunungan tersebut.

Saat ditanya mengenai harapan besarnya dalam tradisi tahunan ini, Yanti hanya berharap kehidupan dan usahanya bisa berjalan lebih baik dan dipenuhi berkah.

"Ya biar berkah," tuturnya.

Di kesempatan yang sama Penghulu Tafsir Anom, Muhtarom mengatakan bahwa prosesi Grebeg merupakan ritual tahunan yang diadakan sebanyak tiga kali dalam kalender Jawa, yaitu Grebeg Sekaten (Rabiul Awal), Grebeg Poso (Syawal), dan Grebeg Besar (Zulhijah).

"Ini dalam rangka wujud syukurnya raja dan Keraton Surakarta bahwa telah menyelesaikan puasa Arafah dan Idul Adha ini. Sebagai wujud syukurnya dari Keraton Surakarta serta masyarakat kawula dalem Keraton Surakarta Hadiningrat," ujarnya.

Grebeg Besar, kata dia, memiliki kesamaan dengan dua grebeg lainnya. Namun yang membedakan adalah makna simbolis di balik komponen pembentuk Gunungan Jalu dan Gunungan Pawestri yang diarak menuju Masjid Agung.

Gunungan Jalu, yang didominasi oleh hasil bumi mentah, melambangkan peran seorang kepala rumah tangga. Hasil bumi tersebut terdiri dari tiga jenis polo, yakni polo pendem (pala kependam), polo kesampar (pala kesampar), dan polo kagantung (pala menggantung).

"Itu namanya gunungan jalu. Terdiri dari tiga polo, ini simbol seorang laki-laki itu harus mencari nafkah untuk keluarganya. Makanya wujudnya adalah makanan-makanan mentah," jelasnya.

Sebaliknya, Gunungan Pawestri yang berisi makanan siap saji atau jajanan pasar siap santap merupakan simbol dari peran seorang istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

"Itu melambangkan seorang wanita harus mampu mengelola penghasilan suami untuk kemudian diolah untuk kebutuhan keluarga, anak-anak, dan keluarganya," pungkasnya.

Sebelumnya, pihak Paku Buwono XIV Purbaya bakal menggelar Grebeg Besar pada tahun ini. Meskipun, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sudah mewanti-wanti agar Grebeg Besar dilaksanakan sekali.

Pangarsa Sasana Wilapa versi PB XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbay mengatakan Grebeg Besar bakal dilaksanakan pada hari H Idul Adha atau tanggal 27 Mei 2026. Rangkaian acara Grebeg Besar sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

"Ya kalau kegiatannya kan sudah seperti biasa nggih, kalau di Keraton Grebeg Idul Adha itu seperti biasa gunungan, kemudian dibawa ke Masjid Besar, didoakan baru kemudian dibagikan. Nah, hanya ini kan kebetulan yang mengadakan pertama kali diadakan pada masa takhtanya Paku Buwono XIV, Grebeg digelar pada tanggal 27 Mei nanti," kata Rumbay ditemui di Kori Talang Paten, Keraton Solo, Selasa (19/5).

Disinggung mengenai pemilihan tanggal, Rumbay menyebut sudah sesuai perhitungan penanggalan Jawa dan Keraton. Ia mengatakan pemilihan tanggal tersebut tidak ada kaitannya dengan gelaran Grebeg Besar yang akan digelar oleh Tedjowulan.

"Oh, Gusti Tedjo mau buat," ucap Rumbay.

"Gini, tadi kan sudah diatur, sudah dijelaskan oleh Gusti Dipo bahwa acara-acara Grebeg, Gunungan, Suro, itu adalah acara yang cara keraton yang itu adalah perintah Raja. Dhawuh Dalem kan begitu tadi ngendika-nya, perintah, apa mau ya, acara dhawuh Dalem. Nah, dhawuh Dalem-nya itu dari Raja. Makanya saya malah bingung, kalau Gusti Tejo bikin itu terus rajane sapa (siapa)? Kan Gusti Tejo bukan Raja," sambung Rumbay.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads