Artis Terlibat Jaringan Scammer di Solo Baru Berwajah Bule, Punya Tato di Leher

Artis Terlibat Jaringan Scammer di Solo Baru Berwajah Bule, Punya Tato di Leher

Tim detikJateng - detikJateng
Selasa, 02 Jun 2026 10:03 WIB
F, mantan artis yang jadi model dalam komplotan scammer jaringan internasional bermarkas di Solo Baru, Sukoharjo. Diunggah Senin (1/6/2026).
F, mantan artis yang jadi model dalam komplotan scammer jaringan internasional bermarkas di Solo Baru, Sukoharjo. Diunggah Senin (1/6/2026). Foto: Dok. Polda Jateng
Semarang -

Kasus penipuan online atau scamming jaringan internasional yang bermarkas di Solo Baru, Sukoharjo turut melibatkan seorang wanita yang juga mantan artis. Wanita berinisial F yang juga ditetapkan tersangka tersebut berperan sebagai model yang melayani video call sesuai kehendak para korban.

"Jadi model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang dikehendaki korban," kata Direktur Direktorat Reserse Siber (Dit Ressiber) Polda Jawa Tengah (Jateng), Kombes Himawan Susanto Saragih, dalam konferensi pers di Mapolda Jateng, Kota Semarang, Senin (1/6/2026).

Wanita berwajah bule dan bertato di leher itu bertugas untuk menggantikan marketing. Himawan mengungkapkan, awalnya tim marketing di jaringan scammer itu yang bertugas menggaet korban. Lalu saat korbannya belum yakin untuk berinvestasi, eks artis itu pun turun tangan untuk meyakinkan calon korbannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Marketing itu mendapat korban. Apabila di dalam pendalaman mereka si korban butuh keyakinan, maka yang tampil adalah bukan marketing, tapi model. Karena marketing ini ingin supaya korban segera melakukan investasi yang sudah ada, yang sudah ditawarkan," ujar dia.

Hanya saja, Himawan enggan mengungkap sosok F secara detail.

ADVERTISEMENT

"Kemudian untuk model dari kalangan apa? Yang jelas model dari mantan artis, itu aja," ucap Himawan.

Berdasarkan dari foto yang ditampilkan dalam jumpa pers, F memiliki tinggi badan sekitar 170 sentimeter, berkulit putih, dan memiliki beberapa tato di tangan dan leher.

Dalam pengungkapan kasus scamming jaringan internasional ini, Polda Jawa Tengah (Jateng) juga menggandeng Federal Bureau of Investigation (FBI). Pendalaman dilakukan terhadap para korban yang merupakan warga negara Amerika Serikat (AS).

"Dalam kasus ini pelaku menargetkan warga negara Amerika Serikat sehingga di dalam proses penyidikan kami bekerja sama dengan FBI dan tentunya dalam koordinasi baik Divhubinter maupun Bareskrim," ungkap Himawan di Mapolda Jateng, Senin (1/6/2026).

Melalui FBI, Polda Jateng berharap mendapatkan informasi dari para korban di AS. Diketahui, terdapat 133 korban dalam kasus tersebut yang mayoritas merupakan warga AS.

"Karena ini lebih banyak korban dari Amerika, tentunya kami akan bekerja sama dan berkolaborasi dengan FBI dalam mendapatkan informasi dari korban-korban yang ada di Amerika khususnya," terang Himawan.

Selain itu, Polda Jateng juga bakal bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri transaksi perbankan dan crypto para pelaku.

"Selanjutnya melakukan kerja sama dengan PPATK guna penelusuran transaksi perbankan dan crypto yang digunakan dalam operasional tindak pidana penipuan online tersebut. Dan selanjutnya melakukan kerja sama dengan pihak Imigrasi dalam pengawasan orang asing," terang Himawan.

Pakai Crypto

Komplotan penipu daring atau scammer menggunakan crypto dalam setiap aksinya hingga berhasil meraup untung hingga Rp 41 miliar. Polisi mengungkap alasan mengapa komplotan penipu itu menggunakan crypto untuk menipu korban.

Dirressiber Polda Jateng, Kombes Himawan Susanto Saragih, mengungkap skema transfer mata uang mata uang digital telah disiapkan oleh komplotan tersebut. Dengan begitu, korban menjadi tertarik untuk berinvestasi crypto.

"(Mengapa menggunakan crypto) Ya, karena tentunya mereka sudah mempersiapkan website yang dimodif secara ringkas. Mereka sudah membuat mendesain sedemikian rupa sehingga korban itu tertarik tentunya dengan keuntungan yang lebih besar," kata Himawan, Senin (1/6/2026).

Himawan menyebut alasan digunakannya crypto untuk modus investasi. Menurutnya, crypto merupakan mata uang yang paling mudah sebagai bentuk investasi.

"Dan mata uang yang paling gampang adalah crypto," jelasnya.

Korban Didominasi dari AS

Dari target sebanyak 5 ribu orang, komplotan itu berhasil menipu 133 korban yang mayoritas warga Amerika Serikat (AS). Sejak Juli 2025 beraksi, mereka berhasil meraup keuntungan hingga 2.327.625.85 USD atau setara Rp 41,1 miliar.

"Berdasarkan data transaksi yang ditemukan sejak Juli tahun 2025 hingga Mei 2026, kelompok tersebut memperoleh keuntungan sebesar 2.327.625.85 USD atau setara dengan Rp 41,1 miliar daripada korban. Jumlah target sekitar 5.000 orang dan sebanyak 133 WNA (warga negara asing) menjadi korban investasi tersebut," ungkap Himawan.

Diberitakan sebelumnya, Ditressiber Polda Jateng mengungkap jaringan scammer internasional yang bermarkas di Solo Baru, Sukoharjo. Tersangka menggunakan modus pendekatan emosional kepada para korban hingga berhasil menipu dan meraup keuntungan hingga Rp 41 miliar.

Perusahaan tersebut bernama PT Digi Global Konsultan yang berlokasi di Solo Baru, Sukoharjo. Dari perusahaan itu, para pelaku melakukan penipuan terorganisir dengan jaringan lintas negara.

Himawan menyebut perusahaan itu digunakan sebagai sarana perekrutan pekerja sekaligus kantor operasional penipuan online yang menyasar warga negara asing.

"Para pelaku terlebih dahulu membangun kedekatan emosional dengan korban menggunakan identitas palsu dan akun media sosial fiktif," kata Himawan dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng, Jumat (22/5/2026).




(apl/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads