Fabiola Elizabeth Agnes menjadi salah satu warga negara asing (WNA) yang ditangkap dalam kasus penipuan daring (scamming) modus pig butchering di Solo Baru, Sukoharjo. Polisi mengungkap sejumlah fakta baru dari perempuan asal Jerman itu.
1. Gabung Komplotan Scammer Sejak Januari
Kabid Humas Polda Jawa Tengah (Jateng), Kombes Artanto, mengatakan Fabiola bergabung dengan komplotan scammer jaringan internasional itu sejak awal tahun ini.
"Inisial F (Fabiola) ini sudah bergabung di PT Digi (Global) Konsultan yang ada kasus pig butchering itu sejak Januari 2026," kata Artanto, Kamis (4/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Gabung Setelah Lihat Loker di Medsos
Dikatakan Artanto, mantan istri personel boyband Smash Reza itu bergabung setelah melihat lowongan di media sosial Facebook.
"Yang bersangkutan melamar menjadi karyawan di PT Digi Konsultan tersebut karena ada lowongan lamaran kerjaan di Facebook dan TikTok atau medsos ya secara umumnya," ungkapnya.
Artanto melanjutkan, perempuan yang disebut kelahiran tahun 1995 tersebut ikut bekerja di markas scammer karena faktor ekonomi.
"Ya, tentunya karena alasan ekonomi yang bersangkutan bergabung di PT. Digi Konsultan ini," jelasnya.
3. Digaji Dolar
Artanto menuturkan, Fabiola Elizabeth digaji menggunakan kurs dolar Amerika Serikat (AS). Karena itu, gajinya fluktuatif.
"Gajinya yang bersangkutan ini antara Rp 7 juta sampai Rp 30 juta kalau dikurskan rupiah," kata Artanto.
Ia menambahkan, bayaran yang diberikan komplotan scammer itu bergantung kepada hasil kerjanya.
"Gajinya itu dalam bentuk dolar. Namun ini variatif gajinya tergantung daripada hasil yang dia dapat dari korban," beber Artanto.
Diketahui sebelumnya, peran Fabiola dalam komplotan ini adalah menjadi pacar si calon korban. Ia bakal melakukan video call berdasarkan keinginan korbannya.
"Jadi model yang dapat kami amankan ini tugasnya adalah melayani video call sesuai dengan yang dikehendaki korban," kata Direktur Reserse Siber (Dirresiber) Polda Jateng, Kombes Himawan Susanto Saragih, dalam konferensi pers Senin (1/6).
Bahkan, peran Fabiola bisa dikatakan sebagai 'ujung tombak'. Ia akan menggantikan peran marketing untuk makin meyakinkan korban supaya berinvestasi di komplotan mereka.
"Marketing itu mendapat korban. Apabila di dalam pendalaman mereka si korban butuh keyakinan, maka yang tampil adalah bukan marketing, tapi model. Karena marketing ini ingin supaya korban segera melakukan investasi yang sudah ada, yang sudah ditawarkan," ujar dia.
Terungkap juga, komplotan penipu ini sudah meraup untung USD 2.327.625,85 atau setara sekitar Rp 41,1 miliar.
Modus para pelaku adalah membangun kedekatan emosional dengan korban menggunakan identitas palsu dan akun media sosial fiktif
Setelah intens komunikasi hingga membuat dipercaya, para pelaku kemudian mengarahkan korban untuk melakukan transfer investasi via website trading kripto yang sistemnya sudah dimanipulasi. Jaringan ini pun beroperasi dengan pembagian tugas yang tersusun rapi dan dibagi dalam empat tim.
(apu/afn)