Kronologi Suami Tusuk Istri Pakai Obeng Saat Ambil Rapor Anak di Semarang

Kronologi Suami Tusuk Istri Pakai Obeng Saat Ambil Rapor Anak di Semarang

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 24 Jun 2026 14:56 WIB
Ilustrasi laki-laki korban KDRT
Ilustrasi KDRT. Foto: Meta AI
Solo -

Pria inisial F (29) ditetapkan sebagai tersangka usai menusuk istrinya, A (25), menggunakan obeng saat mengambil rapor anak di SDN Kalipancur 02, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Korban saat ini masih opname. Begini kronologinya.

Jumat, 19 Juni 2026

Kapolsek Ngaliyan, Kompol Aliet Alphard mengatakan peristiwa penusukan itu terjadi pada Jumat (19/6) sekitar pukul 08.15 WIB.

"Benar ada kejadian penusukan tadi pagi pukul 08.15 WIB, ini masih ditangani," kata Aliet saat dihubungi detikJateng, Jumat (19/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut, saat itu banyak orang tua tengah mengambil rapor milik anak di sekolah. Terduga pelaku disebut melihat korban dan langsung menusuknya menggunakan obeng.

"Itu KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), pelaku suami sendiri, sedang proses cerai. Istri sudah nggak pulang 2 bulan, terus tadi ketemu waktu ambil rapor anaknya di SD 2 itu," ucapnya.

ADVERTISEMENT

"Begitu melihat istrinya langsung didatangi, terus ditusuk pakai obeng. Pelaku inisial F 29 tahun. Korban AY umur 25 tahun," lanjutnya.

Korban kemudian telah dibawa ke RS William Booth Semarang. Sementara terduga pelaku segera diamankan di Polsek Ngaliyan.

Aliet menyebut korban mendapat tiga luka tusukan di punggung dan bahu.

"(Infonya sampai 6 tusukan?) Mboten (tidak), keterangan pelaku 3 tusukan. Kena bahu dan punggung," kata Aliet saat dihubungi detikJateng, Jumat (19/6/2026).

Salah seorang wali murid yang mengambil rapor, Santoso (48) mengatakan, pelaku menusuk korban menggunakan obeng yang sudah dimodifikasi sehingga ujungnya lebih tajam.

"(Pelaku) menusuk pakai obeng, cuman wis (sudah) dimodifikasi dibikin runcing, udah disiapin kayak gitu kemungkinan," kata Santoso di SDN Kalipancur 02.

Mulanya, kata Santoso, pasangan suami-istri (pasutri) muda itu sempat bertengkar di dalam kelas saat mengambil rapor anaknya. Ia menduga ada masalah keluarga di antara keduanya.

"Awalnya yang ngambil rapor ibunya, terus bapaknya datang, mungkin ribut di kelas aku juga nggak tahu pasti, aku pas masih di luar," ucapnya.

Korban lantas keluar kelas dan berlari karena dikejar suaminya itu. Santoso menduga, korban hendak meminta pertolongan ke ruang guru. Nahas, pelaku dapat menangkap korban.

"(Korban) Dari kelas 1. Mungkin maksudnya yang ceweknya mau ke kantor guru minta perlindungan, mungkin, tapi sudah ketangkap di sini dulu," ucapnya.

"Penusukan di halaman, di pohon pepaya itu. (Ditusuk di) Bagian punggung kayaknya. Kan yang cewek dikejar, lari, jatuh langsung ditusuk," ucapnya.

Pelaku disebut sempat hendak kabur. Namun, terdapat wali murid laki-laki lainnya yang langsung mengamankan pelaku dan membawanya ke ruang kelas 4.

"Tadinya mau kabur. Terus akhirnya ada bapak-bapak, langsung langsung ditangkap, dimasukin ke ruang kelas 4," jelasnya.

Usai insiden itu, sekolah lantas menghubungi pihak kepolisian.

Sabtu, 20 Juni 2026

Polisi menetapkan F (29) sebagai tersangka dan melakukan penahanan atas kasus KDRT tersebut.

Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Sriniti, mengatakan penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik menggelar perkara pada Jumat malam. Setelah itu pelaku ditetapkan sebagai tersangka.

"Gelar perkara tadi malam. Penetapan tersangka tadi malam," kata Sriniti, Sabtu (20/6/2026).

Menurutnya, pelaku dijerat dengan Pasal 44 ayat (1) dan/atau ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) serta sejumlah pasal dalam KUHP baru. Polisi juga telah melakukan penahanan terhadap tersangka.

Diduga Sudah Direncanakan

Hasil penyelidikan mengungkap bahwa aksi penusukan tersebut diduga telah dipersiapkan sebelumnya. Polisi menyebut pelaku mengetahui korban akan datang ke sekolah untuk mengambil rapor anak mereka.

"Pada hari Jumat momen pengambilan rapor anak pelaku di SDN 02 Kalipancur, dan pelaku mengetahui bahwa yang akan mengambil rapor adalah korban," jelas Sriniti.

Menurut penyidik, kesempatan itu kemudian dimanfaatkan pelaku untuk menemui korban yang selama dua bulan terakhir sudah tidak tinggal serumah dengannya karena proses perceraian yang sedang berlangsung.

"Momentum tersebut direncanakan pelaku untuk bisa bertemu dengan korban dan membalaskan sakit hati yang telah dialaminya," lanjut Sriniti.

Pelaku diketahui datang ke sekolah sekitar pukul 08.10 WIB sambil membawa obeng yang telah dimodifikasi. Sesaat setelah melihat korban, ia langsung mengejar dan melakukan penusukan.

Anak Korban Trauma

Dampak kejadian tersebut tidak hanya dirasakan korban, tetapi juga anak pasangan tersebut yang turut berada di lingkungan sekolah saat insiden berlangsung.

Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Semarang menyebut anak korban kini mengalami trauma dan telah mendapatkan pendampingan psikologis.

"Njih (iya) anak korban mengalami trauma dan kami sudah koordinasi UPTD PPA untuk pendampingan psikologis," ujar Sriniti.

Kapolsek Ngaliyan, Kompol Aliet Alphard menambahkan, sejumlah guru bersama aparat terkait telah membawa anak korban untuk mendapatkan pendampingan psikolog.

Polisi juga menyebut selama dua bulan terakhir anak tersebut tinggal bersama ibu dan neneknya, bukan bersama sang ayah.

Riwayat KDRT

Dari hasil pendalaman penyidik, diketahui hubungan rumah tangga pasangan tersebut sedang bermasalah. Korban bahkan pernah mengalami kekerasan namun tidak melapor.

"Sudah sering cekcok masalah kecil. Sebelumnya korban juga pernah menerima kekerasan tapi tidak laporan," sebut Sriniti.

Rabu, 24 Juni 2026

Saat ini korban masih dirawat di rumah sakit. Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Sriniti, menyebut kondisi korban sudah membaik. A tengah dirawat di RSD K.R.M.T. Wongsonegoro.

"Masih dirawat di RSWN, Mas. Kondisi sudah membaik. Kemarin tim saya sudah ke RS," kata Sriniti melalui pesan singkat kepada detikJateng, Rabu (24/6).

Selain luka di punggung dan bahu, A juga mengalami luka di dada. Sriniti menjelaskan, karena luka yang dideritanya korban harus mengenakan selang oksigen.

"Kebetulan tim belum bertemu pihak dokter, dijelaskan oleh ibu kandung lukanya dijahit. Karena ada luka tusuk bagian dada, korban dibantu selang oksigen," sebutnya.

Sriniti menerangkan A juga mengalami trauma usai insiden tersebut. Karena itu, korban mendapat pendampingan psikologis.

"Korban mengalami trauma dan sudah didampingi tim UPTD," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(dil/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads