Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) dengan cepat melakukan penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Jepara, Kudus, dan Pati. Berbagai langkah dilakukan Pemprov Jateng dalam menanggulangi bencana di antaranya pendistribusian logistik untuk warga terdampak, penataan alur sungai serta penguatan infrastruktur.
Gubernur Jateng dan Wakil Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen, turun langsung ke lapangan untuk memastikan penanganan longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Selasa (13/1/2026). Adapun bantuan logistik telah dikirim ke tiga kabupaten terdampak sejak Senin (12/1).
"Saya dengan Pak Wakil Gubernur telah melakukan cek ricek, termasuk penanganan beberapa daerah kabupaten kita yang terdampak bencana, yaitu wilayah Kudus, Jepara, dan Pati. Tapi yang agak parah ini ada di Desa Tempur, Jepara," kata Luthfi seperti dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng, hari ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun longsor di Desa Tempur terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa hari berturut-turut. Desa Tempur berada di lereng Gunung Muria yang merupakan wilayah rawan longsor. Dalam peristiwa ini, tercatat terdapat 23 titik longsor di sepanjang ruas jalan desa.
Akibatnya, hampir 3.600 kepala keluarga terdampak dan sempat terisolasi lantaran terputusnya akses jalan. Bencana tersebut juga membuat enam rumah rusak ringan, satu rumah rusak berat, dan dua unit usaha milik warga terdampak.
"Tapi berkat kecepatan Basarnas, BPBD, relawan, termasuk TNI dan Polri, aksesnya bisa diterobos dengan jalan kendaraan roda dua," ujar Luthfi.
Dalam situasi krisis, Luthfi menegaskan, kecepatan respons merupakan kunci agar dampak tidak semakin meluas. Sebab itu, Pemprov Jateng segera mengerahkan alat berat untuk membuka akses darurat.
Luthfi menjelaskan, penanganan bencana di Desa Tempur tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga harus disiapkan secara struktural dan berkelanjutan. Salah satu fokus utamanya adalah penataan alur sungai dan penguatan infrastruktur jalan.
"Terutama penanganan sungai. Rencananya di sebelah kanan akan kita tangani dulu, baru kemudian bisa dibangun jalan. Sementara ini, kebutuhan masyarakat kita atasi dengan dapur umum," paparnya.
Kebutuhan logistik pun didistribusikan menggunakan kendaraan roda dua untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi. Dipastikan juga bahan pokok tetap masuk ke desa meskipun akses terbatas. Perhatian khusus untuk kelompok rentan, terutama anak sekolah, pun diberikan.
Dalam penanganan awal, pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan. Adapun bantuannya yakni mulai dari bahan pokok, dukungan kelompok usaha bersama (KUBE), hingga Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp 260 juta di desa tersebut.
"Bantuan sudah kita berikan dan akan kita tambah lagi kalau masih kurang," kata Luthfi.
Luthfi menegaskan, Pemprov Jateng bakal terus melakukan penanganan longsor di Desa Tempur hingga akses kembali normal dan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman.
Seorang warga Desa Tempur, Adil, mengatakan longsor terjadi usai hujan deras mengguyur wilayah lereng Gunung Muria selama empat hari. Akibatnya, satu-satunya akses jalan keluar dari Desa Tempur terputus.
"Untuk cari pasokan jadi sangat sulit seperti bensin dan lain-lainnya. Sehari-hari saya juga lewat sini untuk keluar kerja. Sementara ini harus hati-hati lewatnya dan beresiko. Harapannya segera diperbaiki agar warga bisa keluar desa lagi," terang Adil.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Jateng, Imam Maskur, menerangkan logistik telah disalurkan ke tiga kabupaten terdampak.
"Kami dari Dinas Sosial sudah mengirimkan logistik. Kami kirimkan logistik semua kebutuhan yang ada di sana," kata Imam.
Imam menyebut, bantuan logistik itu bersumber dari APBD Jateng dan APBN. Adapun bantuan logistik tersebut terdiri dari permakanan seperti makanan siap saji, makanan anak, dan lauk pauk siap saji. Terdapat pula tenda keluarga, tenda gulung, kasur, selimut, family kit, kids ware, termasuk pakaian anak dan dewasa.
Berdasarkan data Dinas Sosial Jateng, logistik yang disalurkan untuk Jepara senilai Rp 140.755.720, untuk Kabupaten Pati senilai Rp 133.306.218, dan untuk Kabupaten Kudus senilai Rp 188.014.483.
BPBD Jateng bersama BPBD Pati, Kudus, dan Jepara, serta instansi terkait telah menerjunkan personel ke lokasi terdampak. Fokus utama penanganan bencana di tiga kabupaten tersebut adalah memastikan seluruh warga terdampak dalam kondisi aman.
(aku/dil)
