Program kerja Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, di bidang kesehatan mulai menampakkan hasil. Angka kematian ibu dan bayi di Brebes akhirnya menurun setelah program Nakes Door to Door dilaksanakan sejak awal 2025.
Program unggulan ini mengedepankan prinsip mendekatkan pelayanan ke masyarakat. Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma mengatakan program ini penting mengingat geografis Brebes cukup kompleks, mulai dari pesisir, dataran rendah, hingga dataran tinggi. Dan, tidak sedikit warga yang tinggal di lokasi yang terpencil.
Dengan adanya Nakes Door to Door, warga tidak perlu jauh-jauh mendatangi puskesmas untuk memeriksakan kesehatan ibu hamil, anak, atau pasien lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Program ini sengaja diprioritaskan untuk membantu warga yang rumahnya jauh terpencil agar bisa mendapatkan layanan kesehatan. Karena justru tenaga medis yang mendatangi rumah-rumah warga," kata Bupati Brebes, Paramitha, Jumat (30/1).
Paramitha mengatakan, program ini bisa meningkatkan kesehatan masyarakat termasuk yang berada di daerah terpencil. Mereka tidak lagi terbebani biaya perjalanan untuk mendapatkan layanan kesehatan.
"Bagi ibu hamil, tidak perlu lagi jauh ke puskesmas. Karena secara rutin petugas datang untuk memeriksa kehamilan. Sehingga jika nanti melahirkan, bayinya sehat, ibunya juga sehat," ujar Bupati.
Hampir satu tahun program ini dijalankan, hasilnya sudah tampak. Data Dinas Kesehatan Brebes mencatat, angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2024 sebanyak 54 orang. Adapun pada 2025, angkanya turun menjadi 34 orang.
"Hasilnya sangat bagus. Jumlah kematian ibu hamil pada 2025 turun dari tahun 2024. Tahun 2024 sebanyak 54 kematian, akhir tahun 2025 turun jadi 34 orang," ungkap Plt Kepala Dinas Kesehatan Daerah Brebes, dr Tambah Raharjo.
Angka kematian bayi (AKB) juga turun setelah Nakes Door to Door dijalankan. Jika pada 2024 tercatat 303 kematian, pada tahun 2025 turun menjadi 290 kematian.
"Pada tahun pertama ini (2025), angka kematian bayi 290 orang. Jumlah ini turun dibanding 2024 yang mencapai 303 kematian," kata dr Tambah Raharjo.
Program kerja Nakes Door to Door ini melibatkan tenaga medis, ahli gizi dan kesehatan lingkungan dari tiap puskesmas. Masing-masing petugas memprioritaskan daerah yang dianggap perlu penanganan medis dan jauh dari faskes.
"Kami punya data kondisi kesehatan warga dari laporan kader-kader kesehatan di masing-masing desa. Sehingga setiap kunjungan, yang ditangani selalu tepat sasaran," jelasnya.
Selain memberikan layanan medis, petugas Nakes Door to Door juga selalu memperhatikan soal jaminan kesehatan warga. Para pasien yang ditangani akan selalu ditanyakan mengenai kepesertaan BPJS Kesehatan.
"Selain medis, pasien akan ditanya soal kepesertaan BPJS Kesehatan. Jika belum punya dan kurang mampu, akan didaftarkan pakai anggaran Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dari Pemda," pungkasnya.
(dil/apl)