Walkot Agustina Perjuangkan Pasar Dugderan Jadi Warisan Budaya Indonesia

Walkot Agustina Perjuangkan Pasar Dugderan Jadi Warisan Budaya Indonesia

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Minggu, 08 Feb 2026 19:37 WIB
Walkot Semarang, Agustina Wilujeng, saat membuka acara Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 di kawasan Alun-alun Masjid Agung Semarang.
Walkot Semarang, Agustina Wilujeng, saat membuka acara Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 di kawasan Alun-alun Masjid Agung Semarang. (Foto: dok. Pemkot Semarang)
Semarang -

Wali Kota (Walkot) Semarang, Agustina Wilujeng, mengungkapkan pihaknya akan memperjuangkan tradisi tahunan Pasar Dugderan menjadi warisan budaya Indonesia. Agustina menegaskan Pasar Dugderan agar menjadi panggung rakyat.

Hal tersebut diungkapkan Agustina saat membuka acara Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 di kawasan Alun-alun Masjid Agung Semarang (Kauman), Sabtu (7/2/2026). Dia mengatakan, tradisi tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun.

"Sekarang kita sedang berjuang agar Pasar Dugderan ini menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia. Doakan ya, kalau ini menjadi warisan budaya siapapun wali kotanya itu wajib mengadakan Pasar Dugderan," kata Agustina seperti dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng, hari ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain sejarah, Agustina menyebut Pasar Dugderan memiliki nilai ekonomi, wisata, dan hiburan.

ADVERTISEMENT

"Biarlah alun-alun ini kita pakai secara maksimal untuk ruang publik. Dugderan harus menjadi panggung rakyat, semua orang yang pengin jualan biarin aja jualan. Yang penting tertib dan pelaku usaha kecil itu yang menjadi paling utama prioritas. Jadi selain sejarah, ada juga nilai ekonomi, wisata dan hiburannya ," tambah Agustina.

Adapun Festival Pasar Dugderan pada tahun ini mengusung tema 'Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi'. Agenda tersebut digelar pada 7-16 Februari 2026.

Pembukaan Pasar Dugderan dimeriahkan penampilan kesenian lokal dan musik 'Dangdut Jadoel' dari Orkes Melayu (OM) Lorenza. Nuansa nostalgia juga hadir dengan jajaran pejabat Pemkot Semarang yang mengenakan busana tempo dulu, lengkap dengan hadirnya mainan ikonik seperti kapal otok-otok, celengan gerabah, hingga kerajinan gerabah.

"Ini adalah tradisi yang dilakukan sejak zaman Belanda masih menjajah Indonesia. Tahun ini kita buat lebih ramai. Dengan tema, teknik, kita pakai baju-baju jadul. Mungkin tahun depan temanya apa lagi, yang menarik. Biarlah alun-alun ini kita pakai secara maksimal untuk ruang publik," jelas Agustina.

"Dugderan harus menjadi panggung rakyat, semua orang yang pengin jualan biarin aja jualan. Yang penting tertib dan pelaku usaha kecil itu yang menjadi paling utama prioritas," lanjutnya.

Ratusan pelaku UMKM dan PKL hingga wahana permainan turut memadati jalan Ki Narto Sabdo hingga area Alun-alun Kauman. Seorang pedagang, Lis, mengaku senang lantaran lapaknya sempat dicicipi langsung oleh Agustina saat peninjauan lokasi.

"Senang, suka, katanya enak gitu. Ke depannya harapan saya bisa berjalan lancar, bisa langgeng. Ini kuliner bisa berjalan terus, tambah ramai pedagangnya gitu, tambah ramai pengunjungnya," ujar Lis.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads