Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Demak, Zayinul Fata, mengajak masyarakat untuk menjadikan pesantren sebagai pusat kegiatan ibadah. Ia menekankan pentingnya membumikan kembali tradisi intelektual khas kaum santri, yakni ngaji posonan.
Zayin mengatakan, momentum awal Ramadan harus dijadikan semangat untuk kembali mendekatkan diri pada ekosistem pesantren. Menurutnya, pesantren menawarkan suasana religius yang hidup selama 24 jam penuh di bulan puasa, yang tidak ditemukan di tempat lain.
"Momentum awal Ramadan ini mari kita jadikan spirit. Pesantren adalah salah satu ekosistem yang hari ini banyak dicari masyarakat di bulan Ramadan karena menawarkan ketenangan dan keberkahan," kata Zayin kepada detikJateng, Selasa (17/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zayin menjelaskan makna mendalam tentang tradisi ngaji posonan. Menurutnya, tradisi ini merupakan program pengajian intensif khas pesantren di mana para santri dan masyarakat mengkaji kitab kuning secara maraton hingga selesai selama bulan Ramadan.
"Di dunia pesantren itu terkenal istilah ngaji posonan. Ini adalah tradisi mengaji kitab kuning secara maraton kepada kiai atau ulama besar. Biasanya targetnya harus khatam (selesai) dalam waktu 15 sampai 20 hari selama Ramadan," jelas Zayin.
Politisi yang juga menjabat Ketua DPRD Demak ini menambahkan, ngaji posonan terbuka untuk siapa saja. Tidak hanya santri yang menetap atau mukim, tetapi juga masyarakat umum atau santri kalong yang ingin mencari berkah ilmu atau tabarrukan dan menyambung sanad keilmuan dari para ulama.
"Jadi santri-santri baru, masyarakat umum, mari ikut hadir dan meramaikan. Ini momentum kita duduk bersila, menyimak kiai membaca kitab, memaknai, dan mengambil hikmahnya secara langsung," ujar Zayin.
Zayin mengingatkan bahwa Demak sebagai Kota Wali dan kota religi memiliki aset pesantren yang sangat besar. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat karakter masyarakat Demak di bulan suci.
Selain aspek ritual, Zayin juga menyoroti nilai-nilai filosofis kehidupan pesantren yang sangat relevan untuk diteladani, yakni egaliterianisme dan kebersamaan. Hal ini tercermin salah satunya dari tradisi makan bersama dalam satu wadah besar atau nampan.
"Di dalam pesantren tidak ada sesuatu yang egois, yang ada adalah kebersamaan. Pesantren disimbolkan dengan makan dalam satu nampan yang sama. Mau dia anak pejabat, anak petani, kumpul jadi satu makan bareng," tuturnya.
Ia berharap nilai-nilai pesantren ini bisa menjalar ke masyarakat luas. Bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia memiliki derajat yang sama.
"Ini adalah nilai egaliter. Mengajarkan kita bahwa semua manusia itu posisinya sama di mata Tuhan, yang membedakan hanyalah ketakwaannya," pungkas Zayin.
(apl/apl)
