Museum Bakaran Pati Benteng Pelestarian Batik Tulis di Tengah Gempuran Printing

Museum Bakaran Pati Benteng Pelestarian Batik Tulis di Tengah Gempuran Printing

Dian Utoro Aji - detikJateng
Jumat, 29 Mei 2026 16:41 WIB
Museum batik tulis Sudewi di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jumat (29/5/2026).
Museum batik tulis Sudewi di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jumat (29/5/2026). (Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng)
Pati -

Perajin batik tulis khas Bakaran, Juwana, Kabupaten Pati, semakin berkurang jumlahnya. Pemerintah Desa Bakaran Wetan pun berinisiatif untuk mendirikan museum sebagai upaya melestarikan batik tulis.

Museum ini diberi nama Museum Batik Bakaran Sudewi. Lokasi museum ini berada di pinggir jalan Juwana-Wedarijaksa.

Museum ini menyajikan ratusan motif batik tulis khas Bakaran. Seperti Motif Rujak Sente yang memiliki filosofi hidup manusia memiliki banyak tantangan maupun keberuntungan yang menjadi satu, berikut ada pula motif kedele kecer yang memiliki filosofi kemakmuran dan lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya motif, di Museum ini juga terdapat peralatan untuk membatik tulis. Wisatawan bisa mencoba edukasi membatik tulis khas Bakaran ini.

Kepala Desa Bakaran Wetan, Wahyu Supriyono, mengatakan museum ini pertama kali didirikan pada tahun 2022 silam bertepatan dengan Festival Batik Bakaran. Menurutnya langkah ini sebagai upaya untuk melestarikan batik tulis yang semakin ditinggal perajin karena beralih ke metode batik printing atau cap.

ADVERTISEMENT

"Tahun 2022 memang kita buat museum ini. Kita pemerintah desa bersama dengan bumdes membuat museum ini dalam rangka untuk melestarikan batik tulis Bakaran," jelas Wahyu ditemui di Museum Batik Bakaran Sudewi, Pati, Jumat (29/5/2026).

Wahyu mengatakan dulunya ada ratusan warganya yang berusaha batik tulis. Akan tetapi beriring waktu kini tinggal belasan saja yang tetap menekuni batik tulis. Warga lain memilih batik cap atau printing yang prosesnya lebih mudah dan cepat, daripada tulis yang membutuhkan ketekunan dan ketelitian.

"Karena memang semakin tahun perkembangan teknologi sekarang batik tulis manual para perajin dan pembatik semakin berkurang. Mereka banyak beralih ke printing dan cap," jelas dia.

Museum batik tulis Sudewi di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jumat (29/5/2026).Museum batik tulis Sudewi di Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jumat (29/5/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Menurutnya, batik tulis Bakaran ini telah ada secara turun temurun. Bahkan diyakini warga telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Oleh karena batik tulis ini perlu untuk dijaga dan dilestarikan sampai sekarang.

"Mereka di Bakaran Wetan batik dari turun temurun dari Mbah Nyai sampai sekarang. Sejak zaman Majapahit sampai sekarang, karena memang historis itulah menjadikan batik tulis ini ditetapkan sebagai warisan budaya tidak benda oleh UNESCO maka kita sebagai generasi penerus dan pemerintah daerah harus wajib memfasilitasi. Salah satu untuk memberikan fasilitas adalah membuat museum," terang Wahyu.

Wahyu mengatakan museum ini menampung seluruh perajin batik tulis di Bakaran Wetan. Total perajin batik tulis yang masih bertahan ada 13 orang. Karya mereka ditampung di museum tersebut.

"Di museum ini terdapat 13 perajin, yang bersama-sama dengan pemdes untuk membuat museum ini," jelasnya.

Belasan karya perajin batik tulis itu dipasarkan dipamerkan di museum. Wisatawan atau pembeli tinggal memilih dan mencari yang cocok. Ada ratusan motif batik tulis Bakaran yang telah disediakan di museum tersebut.

"Dari belasan perajin ini karyanya dipasang, dipromosikan, dan dijual di museum ini. Karena sebelum ada museum ini, konsumen mencari datang ke perajin satu-satu," kata Wahyu.

"Karena datang satu-satu karyanya terbatas, dengan kita kumpulkan di museum ini maka para konsumen yang mencari batik lebih banyak pilihan," lanjut dia.

Wahyu bilang museum ini buka mulai dari pukul 08.00 WIB sampai 20.00 WIB setiap hari. Wisatawan maupun pembeli datang dari Juwana dan Pati.

"Kalau pembeli dari mana-mana, luar kota, saat Lebaran, event batik banyak yang cari batik tulis. Mayoritas Pati sendiri, luar kota juga banyak," jelasnya.

Wahyu mengatakan batik tulis dipatok dengan harga yang bervariasi. Mulai dari Rp 100 ribu sampai dengan Rp 600 ribu.

BRI Peduli Batik Tulis

Wahyu mengatakan, untuk mendukung museum ini tidak lepas bantuan dari pihak BRI Cabang Pati. Pemdes kata di telah menjalin kerja sama dengan pihak bank, berupa program pendampingan untuk meningkatkan pemasaran dan kemajuan museum.

"Zaman sekarang bahwa transaksi hari ini arahnya ke tunai, tapi juga ke non tunai. Maka sebagai desa binaan BRI Peduli kemudian diberikan fasilitas QRIS BRI penjualan kita lebih jalan dan modern," kata Wahyu.

Berkat program tersebut museumnya ikut terbantu, terutama dalam mempromosikan produk batik. "Sekarang itu di Museum sejak menjadi desa binaan Brilian BRI itu kita semakin modern," ujarnya.

Salah satu pembeli, Fakhur Ilhami, mengaku sedang mencari sarung batik tulis Bakaran. Dia sengaja mencari batik tulis untuk keperluan kondangan.

"Cari ke sini lebih mudah dan banyak pilihan. Pembayaran juga sudah modern," kata Fahtur ditemui di lokasi.




(aku/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads