23 Oleh-oleh Khas Jawa Tengah yang Tahan Lama dan Cocok untuk Mudik

23 Oleh-oleh Khas Jawa Tengah yang Tahan Lama dan Cocok untuk Mudik

Angely Rahma - detikJateng
Selasa, 10 Mar 2026 11:53 WIB
roti ganjel rel
Roti Ganjel Rel (Foto: istimewa)
Solo -

Mudik Lebaran selalu identik dengan perjalanan panjang dan momen kumpul bersama keluarga di kampung halaman. Selain melepas rindu, banyak perantau menyiapkan buah tangan sebagai tanda kasih untuk orang tua, saudara, hingga tetangga.

Jawa Tengah dikenal memiliki ragam oleh-oleh yang tidak hanya lezat, tetapi juga tahan lama dan praktis dibawa saat perjalanan jauh. Mulai dari camilan tradisional, minuman herbal, hingga kain dan kerajinan tangan, semuanya mencerminkan kekayaan budaya dari berbagai daerah.

Lalu, apa saja oleh-oleh khas Jawa Tengah yang awet, tidak mudah rusak di perjalanan, dan tetap berkesan saat dibagikan? Simak daftar lengkap 24 oleh-olehnya berikut ini yang bisa jadi referensi sebelum pulang kampung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh-oleh Makanan Khas Jawa Tengah yang Tahan Lama

Jawa Tengah memiliki beragam makanan khas yang tidak hanya lezat, tetapi juga cukup awet untuk dibawa perjalanan jauh saat mudik. Berikut adalah daftar oleh-oleh makanan khas Jawa Tengah yang tahan lama, dihimpun detikJateng dari laman Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Visit Jawa Tengah, dan SD Negeri Sadeng 03 Kota Semarang.

ADVERTISEMENT

1. Serbat Jahe Solo

Serbat Jahe Solo termasuk oleh-oleh berbentuk minuman bubuk yang praktis dibawa. Minuman ini dibuat dari campuran jahe halus, gula aren, serta rempah seperti pala dan kayu manis.

Cukup diseduh dengan air panas, serbat menghasilkan rasa hangat manis dengan sensasi pedas jahe yang khas. Bubuknya halus dan mudah larut.

Biasanya dikemas dalam botol atau sachet sehingga bisa bertahan berbulan-bulan jika disimpan di tempat kering dan teduh. Selain varian original, ada juga campuran madu yang cukup diminati. Cocok diminum saat badan terasa lelah setelah perjalanan jauh.

2. Brem Solo

Brem Solo termasuk oleh-oleh khas yang cukup populer karena daya tahannya lama. Camilan ini punya rasa manis dengan aroma fermentasi yang khas, jadi punya ciri berbeda dibanding jajanan lainnya.

Brem dibuat dari tepung beras yang difermentasi, lalu dikeringkan secara alami tanpa tambahan pengawet kimia. Teksturnya renyah di luar dan lembut saat digigit. Rasanya sekilas mirip dodol kering, tapi lebih ringan dan tidak lengket.

Jika dikemas rapat, brem bisa bertahan hingga sekitar dua bulan, bahkan saat dibawa perjalanan jauh dalam cuaca panas. Selain rasa original, ada juga varian seperti nangka yang bisa jadi pilihan untuk dibagikan ke keluarga. Supaya tetap renyah, simpan di wadah atau toples kedap udara.

3. Roti Ganjel Rel Semarang

Roti Ganjel Rel menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang yang cukup dikenal. Roti ini memiliki cita rasa gurih, manis, dan sedikit pedas dari isian abon ayam atau sapi.

Konon, roti ini mulai populer sejak era 1970-an dan berkembang di sekitar kawasan Stasiun Tawang. Kini, Ganjel Rel dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Kota Semarang.

Teksturnya empuk dengan balutan abon yang kaya rasa. Jika dikemas kedap udara, roti ini bisa bertahan sekitar tiga hingga empat minggu tanpa perlu disimpan di kulkas. Ukurannya yang tidak terlalu besar juga membuatnya praktis dibawa saat mudik.

Agar tetap awet, simpan di tempat aman dan hindari tekanan berlebih di dalam tas atau bagasi.

4. Carica Wonosobo

Carica bisa jadi pilihan oleh-oleh mudik yang segar dan manis legit khas Wonosobo. Camilan ini dibuat dari buah carica, sejenis pepaya mini yang tumbuh di kawasan dataran tinggi Dieng pada ketinggian sekitar 1.500-3.000 meter di atas permukaan laut. Di kalangan masyarakat setempat, buah ini bahkan dijuluki sebagai "buah dewa".

Buah carica dikupas dan dipotong, lalu direbus bersama gula hingga menghasilkan sirup kental. Rasanya manis alami dengan tekstur kenyal dan segar, berbeda dari manisan pada umumnya. Biasanya dikemas dalam cup plastik kecil atau botol praktis, sehingga mudah dibawa saat perjalanan. Dalam kemasan tertutup, carica bisa bertahan hingga sekitar dua bulan di suhu ruang tanpa tambahan pengawet kimia. Salah satu varian yang cukup dikenal adalah Sumbing Segar.

Selain cocok jadi camilan selama perjalanan, carica juga kerap dibagikan sebagai buah tangan saat Lebaran. Agar kualitasnya tetap terjaga, simpan di tempat sejuk sebelum disajikan.

5. Permen Susu Boyolali

Boyolali dikenal sebagai daerah penghasil susu terbesar di Jawa Tengah. Permen Susu Boyolali termasuk oleh-oleh yang cukup awet dan mudah dibawa. Cita rasanya manis dan creamy dengan aroma susu yang khas. Permen ini dibuat dari susu sapi segar asal Boyolali yang dimasak hingga mengental, lalu dicampur gula dan dicetak menjadi permen pipih.

Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional, tanpa tambahan pewarna. Teksturnya kenyal dan tidak lengket di mulut, dengan rasa susu yang mengingatkan pada jajanan jadul.

Biasanya dikemas dalam sachet rapi sehingga praktis dibawa mudik. Daya tahannya berkisar satu hingga dua bulan. Selain rasa original, tersedia juga varian seperti stroberi yang cocok untuk berbagai usia. Agar tetap baik kualitasnya, simpan di wadah kering dan tertutup.

6. Moaci Gemini Semarang

Moaci Gemini menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang yang cukup legendaris. Usaha ini dikenal sejak sekitar tahun 1950-an dan berkembang sebagai perpaduan resep Tionghoa dan Jawa.

Moaci terbuat dari sagu mutiara yang dimasak hingga kenyal dan dibentuk menjadi butiran lembut. Bagian dalamnya biasanya diberi gula merah atau gula putih, lalu disiram santan kental sehingga menghadirkan rasa gurih manis yang khas.

Dikemas dalam plastik vakum, moaci ini bisa bertahan hingga sekitar sebulan di suhu ruang. Varian original menjadi yang paling banyak dicari karena mempertahankan cita rasa klasik dengan aroma pandan yang lembut.

Ukurannya praktis dan tidak mudah hancur, sehingga aman dibawa saat perjalanan. Supaya tetap enak, simpan di tempat kering dan sajikan dalam kondisi sejuk.

7. Sale Pisang Kebumen

Sale pisang bisa jadi pilihan oleh-oleh mudik dari Kebumen yang renyah dan manis alami. Camilan ini dikenal sebagai salah satu khas Desa Mangli, Kecamatan Kuwarasan.

Sale dibuat dari pisang raja matang yang diiris tipis lalu dijemur hingga kadar airnya berkurang. Cara ini sudah lama digunakan sebagai metode pengawetan tradisional.

Setelah kering dan berwarna kecokelatan, pisang kemudian digoreng dengan balutan tepung tipis hingga bagian luarnya garing, sementara bagian dalamnya tetap empuk. Rasa manisnya berasal dari pisang itu sendiri, tanpa tambahan gula berlebihan.

Biasanya dikemas dalam plastik atau kaleng, sale pisang bisa bertahan hingga sekitar tiga bulan di suhu ruang. Selain varian original, ada juga rasa keju yang bisa jadi pilihan. Supaya tetap renyah, simpan di toples kering dan tertutup rapat sebelum disajikan.

8. Lanthing Kebumen

Lanthing termasuk oleh-oleh khas Kebumen yang mudah dikenali dari bentuknya yang memanjang dan digulung. Camilan ini berkembang di kawasan pesisir seperti Ayah dan Bulusari sejak sekitar tahun 1970-an.

Bahan dasarnya adalah tepung tapioka yang dicampur kelapa parut dan gula merah, lalu dibentuk memanjang sebelum dikukus dan digoreng. Proses ini menghasilkan tekstur yang garing di luar namun tetap kenyal di bagian dalam. Aroma kelapanya juga cukup terasa, memberi cita rasa berbeda dari kerupuk biasa.

Lanthing umumnya dikemas sederhana atau divakum sehingga bisa bertahan lebih dari dua bulan tanpa pengawet. Tersedia varian manis dan asin yang bisa disesuaikan dengan selera keluarga. Agar tetap kriuk, simpan di tempat kering dan hindari kelembapan.

9. Bandeng Presto Semarang

Bandeng presto menjadi salah satu oleh-oleh khas Semarang yang cukup populer. Ikan bandeng segar dimasak dengan teknik presto bertekanan tinggi sehingga durinya menjadi lunak dan aman dimakan.

Bumbu seperti ketumbar, bawang, dan cabai meresap hingga ke dalam daging. Teksturnya tetap empuk dan gurih meski sudah dikemas dalam plastik vakum atau kaleng. Dengan proses ini, bandeng presto bisa bertahan sekitar satu hingga dua bulan di suhu ruang tanpa tambahan pengawet kimia.

Varian original maupun pedas balado cukup diminati. Praktis karena bisa langsung disantap atau dipanaskan sebentar sebelum disajikan. Agar kualitasnya tetap terjaga selama perjalanan, simpan di tempat teduh dan tidak terkena panas langsung.

10. Jenang Kudus

Jenang Kudus bisa jadi pilihan oleh-oleh mudik yang manis dan kenyal khas Kota Santri. Kudapan ini sudah lama dikenal sebagai salah satu kuliner tradisional Kudus dan banyak diproduksi oleh industri rumahan.

Dulu disebut sebagai hidangan kalangan bangsawan, kini jenang justru jadi oleh-oleh wajib saat berkunjung ke sekitar Menara Kudus. Bahan utamanya tepung ketan, gula kelapa, dan santan yang dimasak hingga kental berwarna cokelat kehitaman.

Proses pengadukan yang cukup lama menghasilkan tekstur lembut dan legit saat digigit. Tanpa tambahan pengawet kimia, jenang tetap bisa bertahan cukup lama jika dikemas dengan baik.

Biasanya dipotong kecil dan dikemas dalam dus atau plastik rapi, jenang bisa bertahan hingga sekitar dua bulan di suhu ruang.

Selain varian original, tersedia juga rasa cokelat dan pandan yang cocok untuk berbagai usia. Agar tetap empuk, simpan di tempat kering dan tertutup.

11. Wingko Babat Semarang

Wingko babat merupakan oleh-oleh khas Semarang yang cukup populer. Meski berasal dari Babat, Lamongan, jajanan ini berkembang dan dikenal luas lewat para pedagang di Semarang sejak era 1930-an. Kini wingko mudah ditemui di berbagai toko oleh-oleh di kota tersebut.

Terbuat dari campuran tepung ketan, kelapa parut muda, dan gula, adonan dibentuk pipih lalu dipanggang hingga kecokelatan. Bagian luarnya sedikit garing, sementara bagian dalamnya tetap empuk dengan rasa manis kelapa yang khas.

Wingko biasanya dikemas dalam kaleng atau plastik kedap udara sehingga bisa bertahan sekitar dua hingga empat minggu tanpa perlu disimpan di kulkas.

Selain rasa original, ada juga varian keju yang cukup diminati. Praktis dibawa dan tidak mudah hancur, cocok jadi teman perjalanan mudik.

12. Intip Solo

Intip Solo termasuk camilan khas yang cukup dikenal di Solo. Bentuknya bulat tipis dengan rasa manis dan tekstur renyah. Camilan ini terbuat dari tepung beras, gula merah, dan santan yang dimasak hingga kering sebelum digoreng.

Proses pengolahannya menghasilkan bagian luar yang garing dengan aroma karamel yang khas. Intip biasanya dikemas dalam sachet atau plastik praktis sehingga mudah dibawa saat perjalanan.

Daya tahannya bisa mencapai lebih dari sebulan di suhu ruang. Varian original maupun tambahan wijen menjadi pilihan yang cukup digemari. Agar tetap renyah, simpan di toples atau wadah kering sebelum disajikan.

13. Karak Solo

Karak bisa jadi pilihan oleh-oleh mudik dari Solo yang renyah dan gurih. Camilan ini dikenal berasal dari kawasan Bratan dan sudah ada sejak lama. Karak dibuat dari nasi yang dibumbui bawang putih dan garam, lalu ditumbuk, diiris tipis, dan dijemur hingga benar-benar kering.

Saat digoreng, teksturnya mengembang dan menjadi kriuk ringan, mirip kerupuk gendar. Rasanya asin gurih dan cocok jadi teman makan nasi atau camilan santai. Biasanya karak dijual dalam kondisi mentah sehingga bisa digoreng sendiri di rumah.

Daya tahannya cukup lama, bahkan bisa berbulan-bulan di suhu ruang jika disimpan di tempat kering. Harganya juga relatif terjangkau, sehingga pas dijadikan buah tangan untuk keluarga.

14. Roti Kecik Ganep Solo

Roti Kecik Ganep adalah oleh-oleh legendaris dari Solo. Ukurannya kecil dengan tekstur lembut, berisi selai kacang atau meses, lalu dibungkus rapi. Jajanan ini mudah ditemukan di pusat oleh-oleh maupun sekitar Pasar Gede dan Laweyan.

Teksturnya empuk dengan rasa manis yang seimbang, tidak terlalu kuat meski dimakan beberapa potong sekaligus. Dalam kemasan kedap udara, roti ini bisa bertahan sekitar dua hingga tiga minggu tanpa perlu disimpan di kulkas.

Varian original dan cokelat menjadi pilihan yang cukup diminati. Praktis dibawa dan tidak mudah remuk jika disimpan dengan rapi di dalam tas.

15. Kripik Paru Solo

Kripik Paru bisa jadi pilihan oleh-oleh bagi yang suka camilan gurih berbahan daging. Paru sapi diiris tipis, dibumbui, lalu digoreng hingga kering dan renyah.

Teksturnya garing dengan cita rasa gurih yang cukup kuat. Dikemas dalam plastik vakum atau sachet, kripik ini bisa bertahan hingga sekitar satu bulan di suhu ruang. Selain rasa original, tersedia juga varian balado.

Bobotnya ringan sehingga mudah dibawa saat perjalanan. Agar tetap kriuk, simpan di wadah tertutup setelah kemasan dibuka.

Oleh-oleh Barang Khas Jawa Tengah

Selain makanan, oleh-oleh berupa barang juga bisa menjadi pilihan yang lebih berkesan dan tahan lama. Beragam kerajinan khas dari berbagai daerah di Jawa Tengah memiliki gungsi dan sentuhan budaya yang kuat.

Berikut sejumlah rekomendasi oleh-oleh barang khas Jawa Tengah yang dirangkum dari laman Visit Jawa Tengah.

16. Blangkon Solo

Blangkon Solo merupakan aksesori pria yang lekat dengan identitas budaya Jawa, khususnya di wilayah Surakarta. Penutup kepala ini sudah digunakan sejak masa Kasunanan dan masih dipertahankan hingga sekarang.

Ciri khas blangkon Solo terlihat dari bagian belakangnya yang menonjol menyerupai sanggul. Bahannya biasanya menggunakan kain batik bermotif parang atau kawung yang dilapisi rangka agar bentuknya tetap kokoh.

Harganya bervariasi, sekitar Rp 75.000 hingga Rp 250.000 tergantung bahan dan detail pengerjaan. Ada pula ukuran anak yang lebih terjangkau.

Dikemas dalam kotak atau plastik pelindung, blangkon cukup praktis dibawa sebagai oleh-oleh untuk ayah atau kerabat. Selain sebagai pelengkap busana adat, blangkon juga menjadi simbol identitas budaya Solo yang masih lestari.

17. Gantungan Kunci

Gantungan kunci bisa jadi pilihan oleh-oleh yang sederhana dan ramah di kantong. Bentuknya beragam, mulai dari miniatur ikon Jawa Tengah seperti Candi Borobudur, burung lawet, hingga wayang ukir.

Bahan yang digunakan biasanya kayu, logam, atau keramik dengan ukuran sekitar 5-10 sentimeter sehingga ringan dan mudah dibawa. Harganya berkisar Rp 5.000 hingga Rp 25.000 per buah, tergantung bahan dan tingkat detailnya.

Beberapa pengrajin juga menyediakan opsi personalisasi nama atau gambar. Meski kecil, suvenir ini cukup awet dan tidak memakan tempat di tas perjalanan. Cocok dibagikan ke tetangga atau teman sebagai kenang-kenangan mudik dari Jawa Tengah.

18. Anyaman Tas

Tas anyaman bisa menjadi pilihan oleh-oleh mudik yang fungsional sekaligus ramah lingkungan. Kerajinan ini banyak dibuat pengrajin di Jepara menggunakan bahan alami seperti rotan atau daun pandan yang telah direndam, dikeringkan, lalu dianyam secara manual.

Motifnya umumnya geometris atau bernuansa tropis dengan warna natural. Bentuknya beragam, mulai dari sling bag hingga tote bag yang cukup kuat dan lentur. Bobotnya ringan sehingga tidak menambah beban saat perjalanan mudik.

Harganya relatif terjangkau, sekitar Rp 20.000 untuk ukuran kecil hingga Rp 100.000 untuk ukuran lebih besar, tergantung bahan dan tingkat kerumitan anyaman. Jika dirawat dengan baik dan disimpan di tempat kering, tas anyaman bisa bertahan lama dan dipakai kembali untuk aktivitas sehari-hari setelah Lebaran.

19. Magnet Kulkas

Magnet kulkas termasuk suvenir sederhana yang praktis dibagikan sebagai oleh-oleh. Desainnya biasanya menampilkan ikon Jawa Tengah seperti Candi Borobudur atau tokoh wayang.

Bahannya bervariasi, mulai dari kayu ukir mini, keramik bermotif batik, hingga resin. Ukurannya kecil, sekitar 5-8 sentimeter sehingga mudah diselipkan di tas tanpa memakan tempat.

Harga per buah berkisar Rp 5.000 hingga Rp 25.000 tergantung bahan dan detail desain. Beberapa penjual juga menyediakan opsi tambahan seperti penulisan nama. Meski kecil, magnet kulkas cukup awet dan bisa menjadi pengingat perjalanan setiap kali ditempel di rumah.

20. Tenun Troso Jepara

Tenun Troso merupakan kain khas dari Desa Troso, Jepara, yang ditenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Kerajinan ini berkembang sejak puluhan tahun lalu dan masih dipertahankan hingga kini.

Motifnya beragam, seperti lung-lungan atau pola geometris, dengan warna yang umumnya menggunakan nuansa sogan atau kombinasi modern. Bahannya biasanya katun, ada pula campuran sutra untuk varian yang lebih premium.

Harga kain ukuran sekitar 2,4 meter berkisar Rp 200.000 hingga Rp 500.000, tergantung motif dan bahan. Teksturnya cukup kuat, tetapi tetap nyaman dikenakan sebagai kain, selendang, atau bahan busana. Agar terjaga kualitasnya, simpan dalam kondisi tergulung atau terlipat rapi di tempat kering.

21. Tenun Lurik Klaten

Tenun lurik bisa menjadi pilihan oleh-oleh mudik bernuansa etnik khas Kabupaten Klaten. Kain ini ditenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) dengan benang katun lokal, menghasilkan motif garis lurus atau diagonal yang sederhana namun khas.

Sejak era Mataram, lurik dikenal sebagai kain rakyat yang digunakan dalam berbagai upacara adat. Warna-warnanya umumnya bernuansa sogan, cokelat, hitam, atau merah, meski kini tersedia juga varian biru dan kombinasi modern lainnya. Teksturnya cukup tebal dan kuat, namun tetap nyaman dikenakan sebagai kebaya, sarung, atau bahan seragam.

Harga satu lembar ukuran sekitar 115 x 240 sentimeter berkisar Rp 120.000, sementara pembelian per meter mulai Rp60.000 tergantung motif dan kualitas benang. Agar tetap awet dan tidak mudah kusut, simpan dalam kondisi tergulung atau terlipat rapi di tempat kering.

22. Keramik Malahayu Brebes

Keramik Malahayu merupakan kerajinan khas dari Desa Malahayu, Brebes, yang berkembang sejak sekitar 1970-an. Produk ini dibuat dari tanah liat lokal yang dibentuk menggunakan roda putar, lalu dibakar dalam tungku tradisional hingga menjadi peralatan rumah tangga seperti piring, guci, atau vas.

Motif yang dihasilkan umumnya bernuansa flora dan fauna dengan warna cerah. Permukaannya halus dan mengilap, serta dirancang aman digunakan untuk makanan. Beberapa produk dikemas dalam kotak pelindung agar lebih aman saat dibawa bepergian.

Harga satu set, misalnya set teh berisi enam gelas, berkisar Rp 150.000 hingga Rp 300.000 tergantung desain dan ukuran.

Selain fungsional, keramik ini juga mencerminkan keterampilan pengrajin pesisir yang diwariskan turun-temurun. Cocok dijadikan hadiah untuk keluarga atau kerabat saat momen silaturahmi Lebaran.

23. Batik Khas Jawa Tengah dari Beragam Daerah

Batik khas Jawa Tengah bisa menjadi pilihan oleh-oleh mudik yang bernilai budaya dan bisa dipakai di berbagai kesempatan.

Tradisi membatik di wilayah ini sudah berkembang sejak era Mataram dan terus diwariskan turun-temurun. Sentra produksinya tersebar di berbagai daerah, mulai dari Pekalongan di pesisir utara hingga Solo yang dikenal sebagai pusat budaya keraton.

Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Pekalongan identik dengan warna cerah dan motif jlamprang bernuansa biru atau merah. Solo dikenal dengan motif klasik seperti kawung dan parang bernuansa sogan cokelat.

Lasem di Rembang menampilkan pengaruh Tionghoa dengan warna merah menyala dan ornamen bunga atau burung phoenix. Jepara menghadirkan motif bernuansa ukiran, sementara Sragen, Karanganyar, Kudus, hingga Semarang juga memiliki karakter desain yang berbeda, mulai dari unsur flora-fauna hingga sentuhan kaligrafi.

Harga kain ukuran sekitar 2,4 meter berkisar Rp 150.000 hingga Rp 800.000, tergantung teknik pembuatannya, apakah batik tulis, cap, atau kombinasi. Kainnya umumnya tahan lama dan tidak mudah pudar jika dirawat dengan benar.

Untuk dibawa mudik, kain bisa digulung atau dilipat rapi agar tidak mudah kusut dan motifnya tetap terjaga. Selain sebagai busana Lebaran, batik juga menjadi simbol identitas dan kekayaan budaya Jawa Tengah.

Demikian 24 oleh-oleh khas Jawa Tengah yang tahan lama dan cocok dibawa saat mudik. Selain praktis dan awet, setiap pilihan juga menyimpan cerita budaya serta kearifan lokal dari masing-masing daerah. Tinggal sesuaikan dengan kebutuhan dan selera keluarga di rumah agar momen silaturahmi semakin hangat dan berkesan.

Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(ahr/num)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads