Bangunan SDN 2 Tlobong, Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Klaten yang mangkrak dengan kondisi setengah hancur disulap menjadi resto ciamik. Hasil kreativitas para pengurus Bumdes itu pun kini berbuah manis.
Tentu karena menempati gedung sekolah mangkrak, resto di tepi dusun dekat persawahan itu tidaklah megah. Penampakannya masih orisinil sekolah rusak berhias puing bangunan.
Dinding ruang kelas untuk ruang makan dibiarkan kusam dan atap hanya diganti dengan konstruksi galvalum sederhana. Batu bata tembok pintu dan jendela yang kayu kusennya sudah dicopot dibiarkan apa adanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada tiga ruangan bekas kelas di sisi timur dijadikan tempat makan dengan tatanan meja kayu sederhana. Di sisi utara, satu ruang untuk tempat makan, satu ruang jadi dapur dan satu untuk penataan sajian.
Ada satu ruangan yang masih mangkrak dengan kaca pecah berisi kayu-kayu bekas atap SDN. Ruang guru di sisi barat sudah untuk musala.
Untuk menghilangkan kesan seram, dipasang lampu-lampu, termasuk lampu hias di batang pohon-pohon kelengkeng di halaman. Meja-meja bulat berkursi minimalis diletakkan di bawah pepohonan sebagai arena makan out door.
Direktur Bumdes Manunggal Karya Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, Toni Purwanto menceritakan resto SD rusak itu baru dirintis sekitar enam bulan lalu. Ide awalnya karena prihatin melihat gedung SD yang tidak digunakan.
"Awalnya memang lihat mangkrak tidak dipakai prihatin, saya ada ide untuk memanfaatkan untuk pemberdayaan warga. Saya konsep lalu saya set up," ungkap Toni kepada detikJateng di lokasi, Senin (16/3/2026) sore.
SDN 2 Tlobong, Delanggu, Klaten yang mangkrak disulap jadi resto. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng |
Toni yang juga pernah berbisnis kuliner itu menuturkan, ide diwujudkannya sekitar enam bulan lalu dengan membuat warung sarapan pagi. Memanfaatkan bangunan SD rusak memang terlihat aneh tapi diyakininya setiap orang memiliki sudut pandang berbeda.
"Semua orang kan punya sudut pandang masing-masing, saya orang kuliner, bagi saya untuk mendatangkan tamu itu harus beda dulu, punya sesuatu yang beda. Saya melihat di sini ada uniknya, setelah tamu datang, tugas kita baru mempertahankan menunya," papar Toni.
Menyadari gedung itu aset pemerintah dan desa, lanjut Toni, dirinya mengajukan ijin untuk memanfaatkan aset desa yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan itu pemberdayaan. Di awal memang harus meyakinkan warga dengan memodali.
"Jadi kita sebenarnya pertama kali itu modal dari pribadi dulu, lalu saya hibahkan ke warga, kita modali, kita kasih resep, kita kasih konsep dan sekarang per outlet minuman, snack dan makanan. Sudah berkembang, warga sudah punya modal sendiri dan berkembang sendiri," sambung Toni.
Peran Bumdes sendiri, sebut Toni, bukan untuk mencari keuntungan tapi semata memfasilitasi pemberdayaan masyarakat. Bumdes mengambil dari sisi marketing unit usaha lain.
"Bumdes tidak ada profit tapi pemberdayaan, Bumdes cuma ambil sisi marketing untuk bisnis Bumdes yang lain, misalnya persewaan gedung. Sekarang ada delapan warga, sekarang yang dikaryakan ada sekitar 50-an orang, dan semua harus ber-KTP Desa Tlobong," kata Toni.
Omzet Bagus
Toni menambahkan karena lokasinya gedung rusak, penguatan bangunan untuk jaminan keamanan terus dilakukan tanpa mengubah wajah aslinya. Hasilnya ternyata sambutan warga bagus dan omzet stabil.
"Omzet stabil, bagus. Di hari Minggu bisa 500-an porsi, Sabtu bisa di angka 300 porsi dan hari biasa di 100 porsi. Intinya kita tidak cuma jual makanan tapi juga estetikanya, ada sesuatu yang beda," ucap Toni.
"Tahun 2027 ada aset lain tapi berupa gudang, mau dibikin begini lagi. Cita-citanya Desa Tlobong itu untuk pusatnya kuliner nantinya," imbuh Toni.
Resto tersebut ujar Toni, di hari biasa buka untuk sarapan dari pagi (06.00-10.00 WIB), siang (11.00- 14.00 WIB) dan malam (17.00-21.00 WIB). Selama Ramadan hanya untuk buka bersama.
"Untuk Ramadan hanya Bukber jam 17.00- 19.30 WIB. Untuk menu Bumdes hanya mewadahi kreativitas warga, snack, ayam bakar-goreng, lele, kakap, nasi campur, nasi goreng, gulai, tongseng dan lainnya, minuman juga banyak," tambah Toni.
SDN 2 Tlobong, Delanggu, Klaten yang mangkrak disulap jadi resto. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng |
Bambang Sulis (65) seorang pedagang mengatakan awalnya ditawari Bumdes bergabung ke resto untuk memasok minuman. Sejak awal sudah yakin bagus.
"Sejak pertama kali ikut sekitar bulan September lalu. Ya kita yakin karena unik dan akhirnya ramai juga," ungkap Bambang.
Saat ini, jelas Bambang, omset minumannya bisa bertahan. Jika hari libur atau weekend bisa tembus Rp 700 ribu.
"Paling ramai itu weekend dan hari libur, kadang bisa Rp 700 ribu. Hari Minggu sampai banyak yang lesehan," katanya.
Kades Tlobong, Basuki menjelaskan di awal gedung mangkrak SDN itu dimanfaatkan untuk warung dengan konsep warung sarapan. Ternyata semakin ramai.
"Konsep warung sarapan pagi ternyata berhasil, di Ramadan pindah jadi Bukber juga bagus. Nah rencananya nanti ke depan pagi ada, sore ada sampai malam," kata Basuki kepada detikJateng.
"Yang terlibat ya UMKM warga Desa Tlobong tapi diatur agar tidak tumpang tindih. Ini dulu sebenarnya mau buat Kopdes Merah Putih tapi Bumdes mengajukan untuk kuliner dan ternyata bagus, jadi KDMP kita geser ke dekat kantor desa," imbuhnya.
Terpisah, seorang pelanggan, Ulimah mengatakan sudah berulang kali sarapan di resto SD mangkrak tersebut. Selain unik tempatnya juga enak masakannya.
"Tempatnya unik, menunya banyak dan enak. Dari sisi harga juga wajar, asyik saja," ungkap Uli kepada detikJateng.
(alg/alg)

