Gurih Manis Kupat Jembut, Sajian Khas Syawalan di Semarang

Gurih Manis Kupat Jembut, Sajian Khas Syawalan di Semarang

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Sabtu, 28 Mar 2026 14:49 WIB
Sajian kupat jembut yang menjadi tradisi warga Pedurungan, Kota Semarang, saat Syawalan, Sabtu (28/3/2026).
Sajian kupat jembut yang menjadi tradisi warga Pedurungan, Kota Semarang, saat Syawalan, Sabtu (28/3/2026). (Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng)
Semarang -

Kupat atau ketupat jembut menjadi tradisi Syawalan di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, selama puluhan tahun. Penasaran dengan rasanya? Simak ulasannya berikut.

detikJateng mendapat kesempatan untuk menikmati kajian ketupat jembut di Pedurungan, Sabtu (28/3/2026). Bagian tengah ketupat tersebut tampak dibelah simetris.

Bagian ketupat yang dibelah itu diisi dengan tauge dan parutan kelapa yang diberi sambal hingga berwarna merah. Isiannya penuh hingga keluar ketupat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat dicium, aroma kencur kuat menyeruak. Bahkan, parutan kelapa nyaris tak tercium aromanya.

Aroma kencur pun terasa penuh di mulut hingga hidung saat pertama kali mencicipi kupat jembut. Selintas aroma daun jeruk tercium setelahnya.

ADVERTISEMENT

Pada gigitan pertama, rasa pedas sedikit menendang lidah. Gurih, manis, dan sedikit asin memenuhi mulut kemudian.

Soal tekstur, kupat jembut terasa renyah dengan isian tauge dan parutan kelapa. Renyahnya isian tersebut melengkapi tekstur kupat atau ketupat yang lembut.

Ukuran kupat jembut yang sebesar empat ruas jari pria dewasa cukup untuk mengganjal lapar. Dua hingga tiga buah ketupat cukup untuk porsi sarapan pagi.

Sajian kupat jembut yang menjadi tradisi warga Pedurungan, Kota Semarang, saat Syawalan, Sabtu (28/3/2026).Sajian kupat jembut yang menjadi tradisi warga Pedurungan, Kota Semarang, saat Syawalan, Sabtu (28/3/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng

Sejarah Kupat Jembut

Imam Masjid Roudhotul Muttaqin, Munawir, menceritakan saat itu warga di kampungnya mengungsi dari Purwodadi ke Pedurungan usai Perang Dunia ke-2.

Saat itu pada 1950-an, warga mengungsi saat menjelang puasa. Ketika itu pula kupat jembut dibuat dari kesederhanaan.

"Terus perang selesai sekitar tahun 50-an. Warga pulang waktu itu menjelang puasa dan suasana masih dalam kesederhanaan, dibuatlah kupat yang sederhana dibelah tengahnya dan dikasih tauge dan dikasih kelapa," kata Munawir saat ditemui di di Masjid Roudhotul Muttaqin, Pedurungan, Sabtu (28/3/2026).

Munawir mengatakan, dirinya tidak begitu paham siapa sebenarnya yang menamakan ketupat jembut. Dia hanya menduga, nama tersebut disematkan agar lebih mudah diingat.

"Saya sendiri kurang tahu itu nama dari mana. Tapi mungkin sebagai keunikan, warga menamakan itu, dan mungkin bisa mudah mengingat, itu dinamakan kupat jembut itu," jelasnya.

Adapun makna dari dibelahnya ketupat, jelas Munawir, yakni untuk menandai para warga saling memaafkan. Tradisi tersebut biasa digelar pada 8 Syawal.

"Tradisi ini memang ditandai dengan dibelahnya ketupat. Sebagai tanda melepaskan jabat tangan dan Lebaran telah selesai. Dan warga sudah saling memaafkan," ungkapnya.

Bahkan banyak warga yang mengikuti tradisi kupat jembut. Mereka tampak mengantre untuk mendapatkan kupat jembut.

Tradisi Syawalan tersebut juga diramaikan dengan sejumlah warga yang memberikan sejumlah uang. Kebanyakan yang mengantre untuk mendapat uang tersebut adalah anak-anak.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads