Warung di Pati ini terbilang unik. Selain konsepnya yang tempo dulu alias jadul, kuliner yang disajikan juga vintage berupa nasi jagung atau brabuk dengan minuman bunga telang. Harganya murah, sebungkus cuma goceng atau Rp 5 ribu.
Warung lapak jadul ini berada di kawasan Alun-alun Kembang Joyo Pati. Lapak ini bagian dari 25 PKL yang masih bertahan di lokasi alun-alun ini.
Warung ini buka mulai dari pukul 16.00 WIB sampai malam. Tutup hari Kamis dan Jumat, karena para penjualnya seorang guru sekolah luar biasa (SLB) dan seniman di Pati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka adalah Ratna Septi Anggrahenie alias Mak Batok, lalu Endang Sri Asih alias Mak Susur, dan Triyono alis Lek Kribo.
Lapaknya sepintas juga unik, karena dindingnya dari anyaman bambu. Menu yang disajikan berupa nasi terbuat jagung atau dikenal dengan brabuk, lalu ada minuman bunga telang, dan kunir asam.
Penampakan warung jadul di Alun-alun Kembang Joyo Pati yang menjual nasi jagung dan es bunga telang, Rabu (1/4/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng |
Mak Batok mengatakan sengaja membuat lapak jadul karena ini mengenalkan kuliner khas Pati selain Soto Kemiri dan Nasi Gandul.
"Pengen kami itu pengen ngunggah makanan tempo dulu di luar Soto Kemiri dan Sego Gandul yang asli Pati," jelas Mak Batok ditemui di kawasan Alun-alun Kembang Joyo Pati, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya makanan nasi jagung ini berasal dari Pati selatan. Nasi jagung ini dilengkapi dengan botok ikan maupun yuyu dan sayuran. Sehingga rasanya segar dan gurih.
"Yang kita unggah dari Pati Selatan nasi jagung, ditambah pelengkapnya ada sayur, ada botok yuyu, botok udang, dan pepes kali," jelasnya.
"Tidak hanya ini kami juga ini menampilkan makanan dari Pati yang jarak ditemui seperti tebu telur, nasi ayam kodok, diolah seperti otak-otak," Mak Batok melanjutkan.
Dia menjelaskan harga nasi jagung Rp 5 ribu saja. Untuk sayuran Rp 3 ribu.
"Harganya semua Rp 5 ribu. Yang 3 ribu itu sayur. Minumnya es daun telang. Pokoknya harga bandrol desa," jelasnya.
Mak Batok menjelaskan, dalam sehari ia mampu menjual 2 kilogram nasi jagung.
"2 kilogram untuk botok, nasi dan lainnya. Alhamdulillah selalu habis," jelasnya.
Ia mengungkap warungnya buka sore sampai malam hari. Karena para penjual merupakan seniman yang masih aktif di Pati.
"Kamis Jumat libur karena mengajar di SLB. Kita seniman lapak jadul perform art. Saya sendiri pematung, kebetulan kita satu visi untuk mengembangkan kuliner jadul," jelasnya.
Mak Batok berharap agar lokasi ini bisa terus berkembang. Sehingga para pedagang mengalami kenaikan omzetnya.
"Kita nekat, kita ingin supaya di Alun-alun Kembang Joyo Pati ramai," terang dia.
Salah satu pembeli, Naufal, mengaku penasaran denga lapak jadul. Karena sekilas lapaknya seperti rumah di pedesaan, karena dindingnya terbuat dari bambu.
"Karena penasaran ada lapak jadul di sini, terus mampir ternyata ada nasi jagung, setelah dicicipi rasanya enak ditambah sayur, dan botok udang, seger sekali rasanya, ditambah minuman daun telang," ujarnya.
(apu/dil)
