Nama kue bokong mungkin terdengar nyeleneh, bahkan cenderung vulgar di telinga sebagian orang. Namun di balik penamaannya yang tak biasa, tersimpan tafsir menarik tentang bagaimana masyarakat Jawa, khususnya dari kalangan akar rumput, mengekspresikan diri melalui kebudayaan, termasuk lewat makanan.
Budayawan Purbalingga, Agus Sukoco menilai setiap produk budaya tak pernah lahir dari ruang kosong. Ia selalu membawa watak sosial dari lingkungan yang melahirkannya.
"Watak dari sejarah itu kalau yang muncul dari priyayi, dari tatanan istana, biasanya halus. Penuh dengan pesan-pesan simbolik dan tersirat," kata Agus saat dihubungi Jumat (10/4/2026) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, lanjut Agus, budaya yang lahir dari kalangan bawah cenderung memiliki karakter berbeda. Alih-alih halus, ekspresi yang muncul justru bisa bersifat lebih lugas, bahkan mengandung unsur pemberontakan.
"Kalau dia lahir dari arus bawah, wataknya bisa berupa pemberontakan. Naluri itu kemudian disalurkan lewat kebudayaan, termasuk makanan," ujarnya.
Dalam konteks ini, Agus menduga kemunculan kue bokong di Purbalingga tidak sekadar soal kuliner, tetapi juga bentuk ekspresi sosial. Ia melihat kemungkinan bahwa penamaan unik tersebut merupakan luapan kejenuhan masyarakat yang sulit disampaikan secara langsung.
"Saya menduga kue bokong ini lahir dari semacam kejenuhan yang ingin diungkapkan lewat karya makanan. Jadi, semacam ekspresi yang tidak bisa diucapkan secara terang-terangan," jelasnya.
Fenomena ini, menurut Agus, bukan hal yang asing jika dilihat dari perspektif budaya global. Ia mencontohkan bagaimana musik seperti rap atau blues di Barat lahir dari tekanan sosial yang dialami komunitas tertentu.
"Kalau di Barat ada musik rap atau blues yang lahir dari pemberontakan kaum kulit hitam. Mereka tidak bisa melawan secara langsung, akhirnya melawan lewat karya. Di Jawa juga bisa seperti itu," kata dia.
Agus menambahkan, perbedaan latar sosial turut memengaruhi bentuk ekspresi budaya. Jika berasal dari kalangan bangsawan atau kesatria, karya yang lahir biasanya sarat nilai kehalusan. Namun jika dari masyarakat bawah, ekspresinya bisa lebih spontan dan blak-blakan.
"Kalau dari begawan atau kesatria pasti halus. Tapi kalau dari bawah, bisa muncul istilah-istilah spontan yang terkesan kasar, seperti 'bokong' ini," ujarnya.
Meski demikian, Agus mengaku belum dapat memastikan secara pasti kapan kue bokong mulai dikenal. Ia memperkirakan kuliner ini relatif baru, kemungkinan mulai diproduksi sekitar awal tahun 2000-an.
"Sepertinya ini belum terlalu lama, mungkin baru sekitar tahun 2000-an. Bisa jadi juga terinspirasi dari kue nopia yang sudah lebih dulu dikenal di Purbalingga," pungkasnya.
(par/ahr)