Jajanan tradisional khas Banyumasan kembali menarik perhatian. Salah satunya adalah kue toso yang kerap dijuluki kue bokong oleh masyarakat. Selain bentuknya yang unik, camilan ini juga menyimpan cerita panjang tentang inovasi kuliner lokal di Purbalingga.
Kue bokong disebut sebagai hasil pengembangan dari nopia, makanan khas yang lebih dulu dikenal luas. Bentuknya sekilas mirip, namun memiliki perbedaan mencolok pada proses pembuatan hingga tampilan akhir.
"Awalnya kami produksi nopia. Toso itu mirip-mirip nopia, cuma ini pengembangan. Dari bahan baku nopia kita modifikasi, termasuk cara pembuatannya," ujar pelaku usaha kue tradisional, Yohanes Andrianto, saat ditemui detikJateng, Jumat (10/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses pembuatan kue bokong Foto: Anang Firmansyah/detikJateng |
Ia menjelaskan, salah satu ciri khas toso terletak pada bentuknya yang dilipat. Bentuk inilah yang kemudian memunculkan berbagai sebutan unik di masyarakat.
"Kalau di sini ada yang bilang kue bibir atau kue bokong. Karena bentuknya dilipat seperti ini," jelasnya sambil menunjukkan produknya.
Selain bentuk, perbedaan lain juga terlihat dari bahan dan tampilan. Toso umumnya ditaburi wijen di bagian luar dengan varian rasa yang masih sederhana.
"Kalau toso ada wijennya. Untuk rasa masih original sama coklat, tapi ada pengembangan di kacang tanahnya," katanya.
Produksi kue toso sendiri mulai dilakukan sekitar tahun 2000-an. Menurut Yohanes, inovasi ini muncul karena adanya kejenuhan pasar terhadap produk yang itu-itu saja.
"Dari zaman kakek buyut, nopia hanya dua varian rasa. Konsumen mungkin jenuh, akhirnya kita inovasi, bikin mino atau mini nopia, lalu muncul ide nopia dilipat, jadilah toso atau yang disebut kue bokong," tuturnya.
Usaha yang digeluti Yohanes merupakan bisnis turun-temurun yang kini telah memasuki generasi keempat. Produksi awal bahkan sudah dimulai sejak era 1960-an oleh leluhurnya.
"Kalau produksi itu sudah dari tahun 60-an, dari kakek buyut, lalu ke kakek, ke ayah, sampai sekarang ke saya," ungkapnya.
Dalam menjaga kualitas, Yohanes mengaku sangat selektif dalam memilih bahan baku. Ia memastikan hanya menggunakan bahan premium demi mempertahankan cita rasa.
"Gula Jawa kita pilih yang benar-benar bagus. Kalau warnanya tidak pekat atau banyak campuran, biasanya kita tolak. Karena itu pengaruh ke hasilnya, bisa tidak mengembang atau pecah," jelasnya.
Selain itu, bahan lain seperti tepung terigu, bawang goreng, hingga cokelat dan kopi juga dipilih dengan standar tinggi.
"Kalau soal rasa, saya berani diadu. Karena kita pakai bahan premium semua," tegasnya.
Saat ini, kue toso dijual dengan harga sekitar Rp23 ribu per bungkus berisi 10 buah dengan berat kurang lebih 400 gram. Pemasarannya pun sudah menjangkau luar kota hingga melalui platform daring.
"Banyak yang dari luar kota. Kita juga layani penjualan online, misalnya lewat marketplace," ujarnya.
Terkait penamaan kue bokong, Yohanes menyebut hal itu muncul secara alami dari konsumen yang melihat bentuknya.
"Kalau nama itu dari konsumen. Mereka lihat bentuknya dilipat, mirip bokong, ya sudah disebut kue bokong. Kita ikut saja," pungkasnya.
Sementara itu, Budayawan Purbalingga, Agus Sukoco, menilai setiap produk budaya tak pernah lahir dari ruang kosong. Ia selalu membawa watak sosial dari lingkungan yang melahirkannya.
"Watak dari sejarah itu kalau yang muncul dari priyayi, dari tatanan istana, biasanya halus. Penuh dengan pesan-pesan simbolik dan tersirat," kata Agus.
Sebaliknya, lanjut Agus, budaya yang lahir dari kalangan bawah cenderung memiliki karakter berbeda. Alih-alih halus, ekspresi yang muncul justru bisa bersifat lebih lugas, bahkan mengandung unsur pemberontakan.
"Kalau dia lahir dari arus bawah, wataknya bisa berupa pemberontakan. Naluri itu kemudian disalurkan lewat kebudayaan, termasuk makanan," ujarnya.
(par/ahr)
