Malam 1 Suro 1960 Ba' akan tiba pada Selasa malam 16 Juni 2026 berdasarkan kalender yang dikeluarkan Kementerian Agama. Pada momen sakral itu, masyarakat Jawa lazim menyantap jenang sengkolo.
Dirujuk dari Nusantara Hasana Journal bertajuk 'Konstruksi Makna Jenang Sengkolo sebagai Media Komunikasi Simbolik dalam Ritual Malam Suro di Desa Uteran, Kabupaten Madiun' oleh Rakhma Widya Dharojah dkk, jenang sengkolo adalah makanan yang dibuat dari campuran beras, santan, dan gula merah. Sajian khas malam 1 Suro ini juga dikenal dengan nama bubur merah putih atau jenang abang.
Di wilayah Jawa, jenang sengkolo tidak pernahh absen menemani malam 1 Suro meski kini semakin jarang. Bagi detikers yang tertarik membuat sendiri, begini resepnya sebagai panduan!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cara Membuat Jenang Sengkolo
Berbicara tentang cara membuat, yang paling penting adalah mengetahui takaran bahan dengan tepat. Selain itu, urut-urutannya juga wajib dipahami. Berikut beberapa resepnya:
Resep Jenang Sengkolo #1
(sumber: buku Bubur Manis Nusantara karya Hindah Muaris)
Bahan:
- 250 gram (gr) beras putih
- 1 liter santan (1 butir kelapa)
- 500 ml santan (1 butir kelapa)
- 2 lembar daun pandan
- 2 lembar daun salam
- 1 sendok teh (sdt) garam
- 200 gr gula merah sisir
Cara membuat
- Masak beras putih dengan santan 1 liter, daun pandan, daun salam, dan garam.
- Aduk sampai bubur mengental.
- Masukkan santan kental, masak sebentar.
- Angkat dan sisihkan.
- Bagi bubur menjadi dua bagian.
- Masak kembali salah satu bagian bubur. Tambahkan gula merah dalam prosesnya.
- Aduk hingga gula merah merata.
- Angkat dan sisihkan.
- Siapkan wadah.
- Tuang bubur merah. Tutupi dengan bubur putih secukupnya.
- Selesai!
Resep Jenang Sengkolo #2
(sumber: buku Step by Step: 50 Resep Dessert Pilihan oleh Sisca Soewitomo)
Bahan bubur putih:
- 250 gr beras putih
- 1 liter air
- 2 lembar daun pandan, simpulkan
- 1/4 sdt garam
- 500 ml santan dari 1 butir kelapa
Bahan bubur merah:
- Setengah bagian bubur putih yang sudah jadi
- 250 gram gula merah
- 150 ml air untuk merebus
Bahan taburan:
- 1/2 butir kelapa setengah tua, parut memanjang, kukus
- Irisan gula merah secukupnya
Cara membuat:
- Untuk bubur putih, masak beras dengan air, daun pandan, dan garam. Pakai api sedang.
- Usai menjadi bubur, tambahkan santan, masak sebentar, lalu angkat. Bagi menjadi 2 bagian.
- Ambil 1 bagian untuk dijadikan bubur merah.
- Rebus gula merah dengan air. Setelah larut, angkat dan saring.
- Masukkan ke dalam bubur putih yang diambil untuk bubur merah, aduk rata.
- Siapkan pinggan.
- Ambil sedikit bubur putih, tambahkan bubur merah.
- Hias dengan taburan kelapa parut dan irisan gula merah.
- Sajikan.
Resep Bubur Sengkolo #3
(sumber: buku 600 Koleksi Resep Mr. Chef Selera Nusantara oleh Ny Prudianti Tedjokusuma)
Bahan:
- 150 gr beras, cuci bersih
- 750 cc santan encer dari 1/2 butir kelapa
- 250 cc santan kental dari 1/2 butir kelapa
- 150 gr gula merah
- 50 gr gula pasir
- 2 lembar daun pandan
- 2 lembar daun jeruk purut
- 1/4 sdt garam
Cara membuat:
- Masak beras dengan santan encer sampai hancur.
- Masukkan daun pandan dan daun jeruk purut.
- Beri santan kental dan garam. Masak sampai mendidih.
- Ambil separuh bubur putih. Angkat.
- Sisa bubur diberi gula merah dan gula pasir. Masak sampai kental.
- Hidangkan bubur merah dengan bubur putih.
Filosofi Jenang Sengkolo Malam 1 Suro
Kembali dikutip dari jurnal yang telah disebut, jenang sengkolo 'bertugas' menyerap atau menyingkirkan kesialan yang menimpa selama tahun sebelumnya. Fungsinya mirip ikan utuh atau mi panjang umur dalam perayaan Imlek.
Bagian bubur atau jenang berwarna putih juga diartikan sebagai harapan agar Allah SWT memberikan kebaikan dan berkah untuk memulai tahun baru. Sementara itu, jenang merah dimaknai sebagai harapan untuk dijauhkan dari keadaan buruk atau kejahatan.
Pemaknaan lain diterangkan Himmatul Ngaliyah dalam 'Filosofi Penamaan Jenang dalam Budaya Jawa di Kabupaten Purworejo' yang terbit di Jurnal Semantik. Dijelaskan bahwa jenang abang putih melambangkan keberadaan manusia di dunia. Warna merah sebagai perlambang lelaki, sedangkan putih perempuan.
Kehadiran dua warna ini sebagai pengingat bahwasanya dunia diisi oleh dua esensi, yakni feminim dan maskulin. Karena sering disajikan saat upacara selametan pemberian nama, jenang sengkolo juga dimaknai sebagai simbol sperma ayah dan sel telur ibu.
Nah, itulah sekilas mengenai cara membuat jenang sengkolo, sajian khas malam 1 Suro yang lezat dan makna filosofinya. Semoga bermanfaat!
(num/afn)
