Provinsi Jawa Tengah (Jateng) disebut sebagai provinsi dengan pendapatan tertinggi dari sektor pariwisata, kalahkan Bali. Wisata ramah muslim pun akan diunggulkan guna mempertahankan posisi tersebut.
Hal itu disampaikan Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi. Ia mengatakan, Pemprov Jateng memang menargetkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.
"Memang kita salah satu untuk menaikkan PAD, APBD kita, di antaranya adalah dengan memperkuat, memperbanyak wisata," kata Luthfi di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kecamatan Semarang Selatan, Selasa (8/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita punya aglomerasi wisata Kopeng, Borobudur, sama Rawa Pening. Kita punya 1.000 desa wisata. Para bupati, wali kota, kita sudah membuat SK untuk menunjuk desa wisata," lanjutnya.
Selain itu, kata Luthfi, Pemprov Jateng juga terus mendorong agar wisata bisa naik kelas hingga ke tingkat internasional.
Menurutnya, guna mempertahankan pendapatan dari sektor pariwisata bisa terus meningkat, ia akan lebih mendorong wisata kuliner hingga wisata ramah muslim.
"Yang tidaklah penting, kita akan mendorong lagi wisata kuliner, wisata ramah muslim, itu juga kita pilihkan, wisata budaya," ujarnya.
"Sehingga menjadi destinasi wisata berdasarkan letak strategis, karena Jawa Tengah di tengah-tengah Pulau Jawa. (Yang akan diunggulkan) Iya, wisata ramah muslim. Visi-misi kita itu ya," lanjut Luthfi.
Adapun, Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Taj Yasin Maimoen, juga menyebut Pemprov Jateng tengah mendorong pengembangan wisata ramah muslim atau wisata halal di berbagai daerah.
Fokus yang tengah diproyeksikan Pemprov Jateng, kata dia, adalah pengembangan sektor perhotelan ramah muslim dengan sejumlah ketentuan dasar yang ketat.
"Yakni sama sekali tidak menyediakan makanan dan minuman nonhalal, tidak menyediakan minuman alkohol, kelengkapan fasilitas ibadah, bahkan kolam renang terpisah antara laki-laki dan perempuan," kata Gus Yasin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (6/1).
Selain pemenuhan fasilitas, Pemprov Jateng juga bakal menyiapkan sistem penandaan khusus bagi hotel yang memenuhi kriteria ramah muslim.
"Label nanti juga ada, misalnya sudah memenuhi kelayakan ramah muslim atau belum," jelas Gus Yasin.
Tak hanya sektor perhotelan, Pemprov Jateng juga mengembangkan kawasan wisata ramah muslim di sejumlah wilayah. Meski belum merata di seluruh daerah, beberapa kawasan disebut telah menunjukkan komitmen serius.
"Ada beberapa kawasan yang kita kembangkan sebagai spot wisata ramah muslim, seperti Tawangmangu, yang saat ini sudah bagus, mapan infrastrukturnya, termasuk oleh-oleh, kafe, kuliner ramah muslim sudah tertata dengan baik," katanya.
Kawasan Tawangmangu, lanjut dia, diharapkan dapat menjadi percontohan bagi daerah lain seperti Ungaran, Magelang, Wonosobo, hingga Kota Semarang.
Menurut Taj Yasin, pengembangan wisata ramah muslim di Jateng juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Berbagai survei telah dilakukan, mencakup sektor kuliner, perhotelan, hingga destinasi wisata, dengan tujuan meningkatkan daya tarik bagi wisatawan yang mencari kawasan ramah muslim.
"Banyak wisatawan mancanegara, khususnya dari Timur Tengah yang memilih spot kawasan wisata ramah muslim. Termasuk juga wisatawan dari pesantren atau pendidikan berbasis Islam, akan memilih spot ramah muslim sebagai destinasi," ujarnya.
Ia pun menegaskan, pengembangan wisata ramah muslim tidak hanya berfokus pada destinasi, tetapi juga penguatan ekosistem pendukung.
Upaya tersebut dilakukan melalui pengawasan sertifikasi halal di Rumah Potong Ayam (RPA) dan Rumah Potong Hewan (RPH), serta pengembangan profesi Tukang Jagal Halal atau Kang Jalal.
"Hal ini sejalan dengan 11 program prioritas Ahmad Luthfi-Taj Yasin, yakni, melahirkan ekosistem ekonomi syariah melalui penguatan regulasi dan pengembangan wisata ramah muslim," tuturnya.
Sebelumnya dilansir detikTravel, Jawa Tengah menempati daftar teratas provinsi dengan total pendapatan objek daya tarik wisata komersial tertinggi, yakni mencapai Rp 2,77 triliun.
Mengutip data dari CNBC Indonesia Research, Bali berada di posisi kedua sebagai provinsi dengan pendapatan wisata tertinggi, dengan total pendapatan mencapai Rp 2,56 triliun. Sebagai ikon pariwisata nasional, Bali memiliki berbagai objek wisata komersial yang menjadikannya tujuan favorit wisatawan dari seluruh dunia.