Pesona Lolong Pekalongan: Dulu Bikin Ebiet G Ade Takjub, Kini Jadi Desa Wisata

Pesona Lolong Pekalongan: Dulu Bikin Ebiet G Ade Takjub, Kini Jadi Desa Wisata

Robby Bernardi - detikJateng
Sabtu, 21 Mar 2026 11:39 WIB
Desa Lolong, Pekalongan, kini jadi desa wisata.
Desa Lolong, Pekalongan, kini jadi desa wisata. (Foto: Robby Bernardi/detikJateng)
Pekalongan -

Nama Desa Lolong, Kabupaten Pekalongan, melambung usai jadi inspirasi lagu penyanyi legendaris Ebiet G Ade. 40 tahun berselang, Lolong kini menjelma menjadi desa wisata dengan sederet daya tarik.

Sungai Sengkarang dengan kondisi air jernih dan debit yang deras, menjadi daya tarik warga. Kondisi alam inilah kemudian Pemkab Pekalongan menjadikan Lolong sebagai desa wisata.

Pengembangan sektor wisata mulai digerakkan sejak tahun 2009 melalui pembentukan kader wisata desa. Setahun kemudian, masyarakat mulai menggelar Festival Durian yang hingga kini rutin diadakan setiap tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Gerakan wisata mulai 2009. Lalu tahun 2010 mulai festival durian dan sampai sekarang masih rutin," kata Mujahidin, Kaur Umum Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, Pekalongan.

Tak hanya itu, potensi wisata lain yang berkembang adalah arung jeram di sungai Lolong yang mulai dibuka pada tahun 2013 melalui program PNPM Pariwisata. Jarak arung jeram ini 9-12 km dengan pemandangan alam Sungai Sengkarang yang menakjubkan.

ADVERTISEMENT

Kegiatan rafting tersebut kini dikelola oleh para pemuda setempat. "Dengan memanfaatkan derasnya arus sungai dan pemandangan jembatan batu dari bawah jembatan, dimanfaatkan untuk wisata arung jeram," ungkapnya.

Jalur arung jeram di Lolong dikatakannya terbilang masih ringan. "Tidak terlalu deras. Intinya menikmati pemandangan dari sungai menyusuri sungai dan pemandangan jembatan batu yang melengkung," ungkapnya.

Mujahidin mengatakan, daya tarik utama wisata Lolong justru terletak pada keaslian alamnya yang masih terjaga. Air sungai di wilayah itu masih jernih seperti puluhan tahun lalu.

Meski demikian, ia mengakui debit air sungai kini cenderung berkurang dibandingkan masa lalu karena jumlah sumber mata air yang semakin sedikit.

"Kalau airnya masih jernih seperti dulu, cuma debitnya saja yang berkurang, saya rasakan bila dibandingkan saat saya masih kecil," ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, kunjungan wisatawan ke Lolong juga terus meningkat. Jika dulu pengunjung hanya ramai pada akhir pekan, kini hampir setiap hari wisatawan datang menikmati suasana alam desa tersebut.

"Dulu pengunjung hanya Jumat, Sabtu, Minggu. Sekarang hampir tiap hari ada saja yang datang," kata Mujahidin.

Sentra Durian Lolong

Selain memiliki nilai sejarah, Desa Lolong juga dikenal sebagai sentra durian. Sekitar 80 persen lahan di desa tersebut ditanami pohon durian. Mujahidin menyebut 95 persen warga setempat memiliki pohon durian.

"Ada sekitar 95 persen warga Lolong memiliki pohon durian. Dikenal durian dengan cita rasa berbeda dengan, karena disini kebanyakan mengambil durian yang sudah matang terlepas dari pohonnya," ucapnya.

Menurutnya tidak ada nama durian khusus, namun durian setempat dikenal dengan nama durian Lolong. Durian legit, dengan daging yang tebal dan punya aneka rasa, baik yang manis, bahkan juga ada yang rasa pahitnya.

Hampir tiap tahun, digelar festival durian, karena melimpahnya durian di Desa Lolong.

"Kalau tahun 2026 ini, memang rasa durian tidak maksimal. Iya, banyak hujannya, jadi mempengaruhi rasanya," ungkapnya.

Ia berharap potensi wisata di Desa Lolong bisa terus berkembang, sekaligus tetap menjaga kelestarian alam yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads