Sejarah Waduk Gajah Mungkur Wonogiri: Asal Nama dan Mitos-mitosnya

Sejarah Waduk Gajah Mungkur Wonogiri: Asal Nama dan Mitos-mitosnya

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Rabu, 25 Mar 2026 14:56 WIB
Kondisi WGM Wonogiri Selasa (28/3/2023) siang.
Waduk Gajah Mungkur (Foto: Dok Istimewa)
Solo -


Waduk Gajah Mungkur merupakan salah satu proyek infrastruktur terbesar di Jawa Tengah yang memiliki peran penting dalam pengendalian banjir, penyediaan irigasi, serta pengembangan listrik dan perikanan. Keberadaannya tidak hanya memengaruhi aspek teknis, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Selain fungsi praktis, waduk ini memiliki nilai historis yang kuat, terutama terkait proses pembangunan dan relokasi masyarakat terdampak. Nama Gajah Mungkur pun melekat sebagai simbol identitas wilayah dan monumentalitas proyek yang dijalankan pada era pembangunan nasional.

Seiring waktu, waduk ini juga menyimpan cerita unik yang berkembang dalam masyarakat, baik berupa legenda maupun mitos yang berkaitan dengan fenomena alam dan sejarah desa-desa lama. Semua aspek ini menjadikan Waduk Gajah Mungkur sebagai bagian penting dari warisan budaya dan ingatan kolektif masyarakat Wonogiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ingin tahu lebih dalam mengenai Waduk Gajah Mungkur? Di bawah ini detikJateng sudah siapkan sejarah, legenda, dan mitosnya!

ADVERTISEMENT

Sejarah Waduk Gajah Mungkur

Waduk Gajah Mungkur dibangun di selatan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sebagai proyek waduk serbaguna yang bertujuan mengendalikan banjir, menyediakan air irigasi, mendukung pembangkit listrik, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Menurut informasi di laman Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri, sejak berabad-abad Sungai Bengawan Solo menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sungai ini menyediakan air untuk pertanian, perikanan, serta transportasi rakyat. Namun, hampir setiap tahun, Bengawan Solo menimbulkan bencana banjir yang menghancurkan sawah, merendam permukiman, dan menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.

Gagasan pembangunan waduk sudah muncul sejak masa kolonial Belanda, tetapi baru diwujudkan setelah Indonesia merdeka dan memasuki era pembangunan nasional. Menurut publikasi bertajuk Pembangunan Waduk Gajah Mungkur Tahun 1976-1986 oleh Sri Utami, perencanaan pembangunan Waduk Gajah Mungkur dimulai sejak tahun 1964 sebagai bagian dari proyek irigasi dan pengendalian banjir Sungai Sala. Studi kelayakan dan master plan dilakukan antara 1972-1974 dengan bantuan teknik dari Jepang melalui Overseas Technical Cooperation of Japan.

Pembangunan resmi dimulai pada tahun 1976, dibantu oleh Nippon Koei Co. Ltd sebagai konsultan teknik, dan dibantu pendanaan pinjaman dari pemerintah Jepang sebesar Rp 22 miliar lebih, sedangkan dana APBN mencapai Rp 36 miliar lebih. Waduk ini dibangun di pertemuan berbagai aliran sungai di wilayah Wonogiri, sehingga ketika selesai, waduk memiliki kapasitas lebih dari 700 juta meter kubik dengan luas genangan sekitar 8.800 hektar, menutupi sebagian wilayah kecamatan di Wonogiri.

Selain pengendalian banjir dan penyediaan irigasi, Waduk Gajah Mungkur juga mendukung Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan menjadi pusat pengembangan perikanan air tawar. Menurut Sri Utami, pembangunan waduk ini diharapkan dapat meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat sekitar dengan membuka sektor perikanan, kelistrikan, dan pariwisata. Waduk diresmikan pada 17 November 1981, menandai pencapaian besar pembangunan nasional pada era Orde Baru.

Dampak sosial pembangunan waduk ini sangat besar. Sekitar 10.139 kepala keluarga dari 44-51 desa harus direlokasi melalui program bedhol desa, baik ke lokasi baru di sekitar Wonogiri maupun ke daerah transmigrasi di Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Menurut Sri Utami, relokasi dilakukan secara bertahap, dengan menyediakan lahan baru, fasilitas pendidikan, dan peluang pertanian untuk masyarakat.

Program relokasi ini menghadapi berbagai kendala. Beberapa warga menolak berangkat karena ganti rugi dianggap tidak seimbang atau karena sudah tua dan tidak mampu bertani di tempat baru. Ada juga warga yang ingin tetap tinggal karena memiliki tanah cadangan di dekat sanak saudara, atau karena ingin mengubah profesi menjadi nelayan dan petani karamba.

Ganti rugi diberikan berdasarkan aset yang dimiliki warga, termasuk tanah sawah, tegalan, pekarangan, rumah, tanaman, dan hewan ternak. Tahap pertama ganti rugi diberikan pada 1976 sebelum keberangkatan transmigran, dan tahap kedua pada 1983 untuk tanah yang ikut tergenang akibat naiknya air waduk. Pada tahap kedua, semua jenis tanah disamaratakan dengan tarif Rp 600 per meter persegi. Pemerintah juga mengganti tanaman kayu jati, ternak, dan aset lain yang terdampak, dengan pembayaran dilakukan langsung kepada warga oleh bank setempat.

Setelah beroperasi, Waduk Gajah Mungkur terbukti efektif: banjir Bengawan Solo lebih terkontrol, irigasi stabil sepanjang tahun, listrik PLTA tersedia bagi masyarakat, dan sektor perikanan berkembang pesat dengan budidaya ikan nila, mujair, dan patin.

Asal-muasal Nama Gajah Mungkur

Waduk ini dinamai Gajah Mungkur karena lokasinya berada di wilayah perbukitan yang konturnya menyerupai tubuh gajah yang menjulang. Dikutip dari situs Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri, nama ini bukan sekadar identitas geografis, tetapi juga mencerminkan simbol kekuatan dan ketahanan wilayah. Perbukitan yang mengelilingi waduk konon tampak seperti "tubuh gajah" yang menopang lembah di bawahnya sehingga secara visual dan simbolik memberi kesan monumental bagi siapa pun yang melihat dari ketinggian.

Pemilihan nama Gajah Mungkur dilakukan untuk memberi identitas pada proyek pembangunan strategis nasional tersebut. Saat perencanaan waduk, para insinyur dan pejabat pemerintah ingin proyek ini memiliki nama yang mudah dikenali sekaligus mencerminkan keberanian dan skala besar pembangunan. Nama Gajah Mungkur dipilih karena mewakili konsep kekuatan besar yang mampu menahan banjir, menopang irigasi, dan memberi manfaat bagi ribuan masyarakat.

Selain itu, legenda ini juga terkait dengan proses pembangunan dan relokasi masyarakat. Selama pembangunan waduk, masyarakat menyebut fenomena alam di sekitar perbukitan dengan istilah "Gajah Mungkur" sebagai simbol pengawasan alam. Perbukitan dan bentuk topografi di sekitar waduk dijadikan patokan teknis bagi insinyur dalam menentukan lokasi bendungan dan pengaturan genangan air. Menurut Dinas Kearsipan Wonogiri, pemetaan lokasi bendungan dan waduk mempertimbangkan bentuk lahan, aliran sungai, dan perbukitan agar fungsi pengendalian banjir dan irigasi dapat berjalan optimal.

Lebih jauh, nama Gajah Mungkur juga menjadi ikon wilayah Wonogiri. Menurut Sri Utami, waduk ini tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga menjadi simbol pembangunan nasional dan ketahanan masyarakat. Penggunaan nama tersebut membantu masyarakat lokal dan pemerintah mengasosiasikan waduk dengan identitas daerah. Bahkan setelah lebih dari empat dekade, masyarakat tetap mengenal waduk dengan sebutan Gajah Mungkur, menunjukkan bagaimana nama dan simbol ini berhasil melekat pada sejarah, memori kolektif, dan perkembangan ekonomi wilayah.

Selain itu, legenda nama Gajah Mungkur turut memberi makna bagi wisata dan dokumentasi sejarah. Perbukitan di sekitarnya menjadi daya tarik visual, sementara nama Gajah Mungkur menjadi simbol yang sering muncul dalam dokumen pembangunan, publikasi pemerintah, dan arsip lokal. Menurut Dinas Kearsipan Wonogiri, pengarsipan proyek ini tidak hanya menyimpan catatan teknis, tetapi juga menunjukkan bagaimana nama dan simbolisasi wilayah memberikan konteks historis bagi generasi mendatang.

Mitos Waduk Gajah Mungkur

Waduk Gajah Mungkur tidak hanya dikenal karena fungsinya sebagai bendungan besar, tetapi juga karena munculnya berbagai kepercayaan dan mitos yang berkembang seiring waktu. Dalam catatan detikJateng, beberapa kepercayaan ini berkaitan dengan sejarah relokasi desa dan fenomena alam yang terjadi di waduk, sebagai berikut:

Mitos yang Berkembang

  1. Roh atau penjaga desa lama: Masyarakat sekitar percaya bahwa roh penghuni desa yang terdampak bedhol desa tetap "mengawasi" waduk. Kepercayaan ini muncul karena banyak makam dan sisa permukiman lama muncul saat waduk surut sehingga warga menafsirkan bahwa ada kekuatan spiritual yang menjaga wilayah tersebut.
  2. Pertanda dari leluhur: Ada mitos yang menyebut bahwa kemunculan makam atau bangunan lama saat air surut bukan sekadar kebetulan, melainkan pertanda atau pesan dari leluhur. Beberapa warga mengaitkannya dengan keselamatan atau nasib baik bagi keluarga yang berziarah.
  3. Gajah Mungkur sebagai simbol penjaga: Nama waduk yang diambil dari simbol "gajah" juga memunculkan kepercayaan bahwa ada kekuatan gaib yang menjaga kestabilan waduk dan wilayah sekitarnya. Menurut masyarakat, fenomena alam tertentu, seperti kabut tebal atau gelombang kecil yang muncul tiba-tiba, diyakini sebagai pertanda gajah legendaris "memantau" waduk.
  4. Mitos terkait pengorbanan masyarakat: Bedhol desa dan relokasi massal menimbulkan kepercayaan bahwa roh warga yang meninggal sebelum relokasi tetap "berada" di area waduk. Kepercayaan ini membuat masyarakat melakukan ziarah atau ritual kecil saat makam-makam muncul, sebagai bentuk penghormatan terhadap pengorbanan generasi terdahulu.

Itulah sekilas mengenai sejarah Waduk Gajah Mungkur, lengkap dengan asal-usul nama dan mitosnya. Semoga bermanfaat!

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik




(num/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads