Melihat Gapura Tua Bentuk Candi Bentar di Makam Ki Ageng Pandanaran Klaten

Melihat Gapura Tua Bentuk Candi Bentar di Makam Ki Ageng Pandanaran Klaten

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Minggu, 26 Apr 2026 18:46 WIB
Gapura Segara Muncar di kompleks Makam Sunan Tembayat atau Ki Ageng Pandanaran, Bayat, Klaten.
Gapura Segara Muncar di kompleks Makam Sunan Tembayat atau Ki Ageng Pandanaran, Bayat, Klaten. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng
Klaten -

Kompleks makam Ki Ageng Pandanaran atau juga dikenal dengan Sunan Tembayat di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten memiliki delapan gapura. Lima gapura di antaranya berciri khas masa Hindu dan tiga lainnya berciri khas masa Mataram Islam.

Lima gapura bermodel candi Bentar atau era kerajaan Hindu antara lain Gapura Segara Muncar, Gapura Dudha, Gapura Pangrantunan, Gapura Panemut dan Gapura Pamuncar. Tiga lainnya, Gapura Bale Kencur, Prabayeksa dan Sinaga yang bercorak era Mataram Islam.

Dari sekian bangunan gapura atau pintu masuk ke makam ulama besar di era Kasultanan Demak itu, ada satu gapura yang usianya tertua. Gapura tersebut adalah Gapura Segara Muncar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gapura Segara Muncar berada di urutan pertama bagi peziarah yang ingin ke makam. Letaknya paling bawah di dataran rendah, berada di barat joglo Paseban atau di utara area parkir.

Bangunan gapura itu berbahan batu kapur putih keras yang banyak ditemui di wilayah Kecamatan Bayat. Tingginya sekitar 3-4 meter dengan model Candi Bentar yang sebagian batunya mulai mengalami pelapukan.

ADVERTISEMENT

Jejak gapura tersebut sebagai gapura tertua terlihat dari tulisan Sengkalan Tahun di kaki gapura sebelah kiri. Pahatan pada batu dengan huruf Jawa tersebut dari catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (kini BPK Wilayah X) berbunyi "Murti Sasrira Jleging Ratu".

Sengkalan tahun tersebut jika diterjemahkan berangka tahun 1448 Saka atau 1526 Masehi. Tahun 1526 Masehi adalah era Sultan Trenggono memimpin kerajaan Demak Bintoro.

Angka tahun pada Gapura Segara Muncar itu lebih tua dari sengkalan tahun yang diukir di Gapura Panemut. Pada gapura ke-4 itu tertulis kalimat sengkalan tahun "Wisaya Hanata Wisiking Ratu".

Gapura Segara Muncar di kompleks Makam Sunan Tembayat atau Ki Ageng Pandanaran, Bayat, Klaten.Gapura Segara Muncar di kompleks Makam Sunan Tembayat atau Ki Ageng Pandanaran, Bayat, Klaten. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng

Sengkalan tahun Gapura Panemut itu jika dikonversi menjadi tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi. Pada tahun itu tercatat Sultan Agung sebagai Raja Mataram Islam di Yogyakarta melakukan perbaikan kompleks makam Sunan Tembayat.

Petugas perawatan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah X di kompleks Makam Sunan Tembayat, Ebro Saptono menjelaskan dari cerita rakyat dan cerita para sesepuh Gapura Segara Muncar sebagai batas wilayah. Gapura itu juga sebagai pintu utama.

"Sebagai pintu utama masuk ke Gunung atau bukit Cokro Kembang (kompleks makam). Dibangun saat eyang Sunan Pandanaran memiliki pesantren atau padepokan di bukit Cokro Kembang itu," ungkap Saptono kepada detikJateng, Minggu (26/4/2026).

Diceritakan Saptono, dinamakan gapura Segara Muncar karena konon dulu di kanan dan kiri ada kolam. Tapi kepastian gapura itu tertua dirinya tidak mengetahui.

"Menurut usia gapura, apakah ini lebih tua dari yang lain saya kurang paham. Waktu saya kecil ada kolam, ada anak tangga tapi tergerus kondisi alam karena air dari bukit larinya ke situ," kata Saptono.

"Tapi karena semakin banyak peziarah akhirnya sudah tidak ada. Seperti Gapura Dudha dan Pangrantunan juga tidak boleh dilewati karena usia," imbuhnya.

Ketua paguyuban pengelola makam Sunan Tembayat, Subandi menyampaikan sepengetahuan dirinya lima gapura itu dibuat sekitar tahun 1555 Masehi. Nama Paseban sendiri diambil dari banyaknya orang datang ke pesantren Sunan Tembayat.

"Paseban itu dari kata sebo, atau sowan, datang ke pesantren Sunan Pandanaran. Dulu di sebelum gapura Segara Muncar itu ada semacam alun-alun untuk datang menimba ilmu agama," ungkap Subandi kepada detikJateng.

Alun-alun itu,sebut Subandi, konon lahannya cukup luas. Pengunjung di selatan menghadap ke masjid Golo atau Masjid Sunan Pandanaran. Di timur masjid menghadap ke Utara.

"Yang di timur masjid menghadap ke utara. Kemungkinan pagar kompleks pesantren masih ada, dulu pernah diteliti tapi karena sudah padat rumah penduduk akhirnya tidak dilanjutkan," terang Subandi.




(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads