Puluhan layang-layang unik dengan berbagai bentuk dari Indonesia, Jepang hingga Prancis menghiasi langit Pantai Ketawang Indah, Purworejo, siang ini. Tak kalah heboh, layang-layang train naga sepanjang 100 meter juga mengudara di hadapan ribuan penonton.
Layang-layang tersebut diterbangkan dalam gelaran Festival Layang-layang Purworejo 2026 di Pantai Ketawang Indah, Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, Purworejo. Festival tingkat nasional yang digelar Pemkab Purworejo ini berlangsung selama dua hari yakni Sabtu dan Minggu (4-5/7/2026).
Gelaran Festival Layang-Layang di Purworejo menarik perhatian para pencinta layang-layang dari berbagai belahan dunia. Tak hanya dari Indonesia, para pemain layang-layang yang datang juga berasal dari Jepang, Singapura, Malaysia hingga Perancis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang pemain layang-layang asal Prancis, Frédérique (65) mengaku sengaja datang jauh-jauh demi menyemarakkan acara. Keindahan pantai, keramahan penduduk lokal, serta atmosfer festival menjadi alasan utama yang membuatnya jatuh cinta dan memutuskan untuk datang.
"Saya sangat menyukai festival ini, pantainya, tempatnya, dan orang-orangnya yang sangat ramah," kata Frédérique saat ditemui detikJateng di Pantai Ketawang Indah, Minggu (5/7/2026) sore.
Meskipun datang seorang diri, Frédérique membawa berbagai koleksi layang-layang tiup (inflatable kites) unik miliknya yang berbentuk hewan, seperti ayam, karakter Simba, hingga ubur-ubur. Wanita yang telah menggeluti hobi ini selama 30 tahun tersebut mengaku memiliki jadwal yang padat setelah dari Purworejo.
Ia berencana melanjutkan perjalanannya ke Festival Layang-Layang di Yogyakarta, disusul dengan rangkaian festival di Melaka dan Bintulu, Malaysia, sebelum akhirnya kembali ke negara asalnya untuk mengorganisir tiga festival layang-layang pada Agustus mendatang.
"Saya sudah 30 tahun hobi menerbangkan layang-layang. Tahun depan kalau ada lagi, saya akan kembali ke Purworejo," imbuhnya.
Komunitas layang-layang Pelangi Bantul turut menyemarakkan gelaran festival layang-layang dengan memamerkan sejumlah koleksi andalan mereka. Dalam festival kali ini, perwakilan Kabupaten Bantul tersebut memboyong tiga layangan naga berukuran raksasa, layangan dua dimensi, hingga sport kite.
Salah satu daya tarik utama yang dibawa adalah layangan naga dengan panjang mencapai 100 meter. Perwakilan Pelangi Bantul, Rizki (19) mengungkapkan bahwa ukuran tersebut sengaja disesuaikan dengan kapasitas dan panjang area lokasi festival agar dapat mengudara secara maksimal.
Proses pembuatan satu unit layangan naga ini memakan waktu kisaran satu hingga dua bulan. Mengenai biaya produksi, Rizki menjelaskan nilainya sangat bervariasi tergantung pada dimensi dan tingkat kerumitan bahan yang digunakan.
"Tergantung ukuran sama bahan yang dibutuhkan. Kalau misalkan yang paling besar, paling panjang, dan paling mahal itu bisa sampai 20-an (juta), tergantung motif sama bahan," ujar Rizki saat diwawancarai di sela-sela acara.
Rizki menambahkan, tiga layangan naga yang mereka bawa kali ini memiliki nama-nama unik yang terinspirasi dari motifnya, di antaranya adalah Ligatra yang bermotif abstrak, Cundamani dan Sekar Arum.
Menerbangkan layangan raksasa sepanjang 100 meter tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan kerja sama tim yang solid serta kondisi alam yang mendukung agar layangan dapat terbang dengan stabil. Faktor angin dan luasnya lokasi menjadi penentu utama keberhasilan dalam menerbangkan layangan naga ini.
"Nah, itu tergantung angin juga sih, Mas. Kalau (angin) besar itu paling tidak 10 orangan. Kendala di angin sama lokasi. Lokasinya kalau kurang panjang tuh susah juga. Tapi kali ini cukup bagus, lokasinya memadai dan anginnya besar," sebutnya.
Komunitas Pelangi Bantul sendiri dikenal sebagai tim yang sarat prestasi. Selain sering menyabet juara pertama di berbagai perlombaan, mereka juga pernah mewakili DIY dalam ajang Pornas di Lombok dan sukses membawa pulang 3 medali emas, 1 perak, serta 2 perunggu.
Ribuan warga pun tumpah ruah demi menyaksikan layang-layang unik dalam berbagai bentuk seperti kuda, buldozer, cumi-cumi, penerjun payung, mobil VW, balap karung, lilin Dinasti Ming, gerobak bakso hingga naga raksasa sepanjang 100 meter. Mereka pun tak henti-henti mengambil foto dan video hingga selfie.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Purworejo, Bangun Erlangga menuturkan bahwa festival itu diikuti sedikitnya 31 tim dari dalam maupun luar negeri. Festival ini digelar sekaligus untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Purworejo.
"Festival layang-layang tingkat nasional tahun 2026 ini diikuti oleh 31 tim dari dalam maupun luar negeri. Tujuannya salah satunya adalah sebagai upaya strategis untuk mempromosikan pariwisata khususnya di pantai selatan Purworejo," katanya.
Dalam ajang ini, para pelayang menerbangkan layang-layang dalam beberapa kelas seperti tradisional, dua dimensi, tiga dimensi dan train naga. Tak hanya diterbangkan, layang-layang juga akan dinilai oleh dewan juri yang ahli di bidangnya dan nantinya akan diambil juara yang akan mendapatkan sertifikat, plakat, serta uang pembinaan.
"Untuk kategori ada tradisional, dua dimensi, tiga dimensi dan train naga," pungkasnya.
(aku/aku)
