Mikroplastik pada Air Hujan di Surabaya, Pakar Bilang Bukan Hal Baru

Mikroplastik pada Air Hujan di Surabaya, Pakar Bilang Bukan Hal Baru

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Jumat, 28 Nov 2025 10:00 WIB
Close up side shot of microplastics lay on people hand.Concept of water pollution and global warming. Climate change idea.
Ilustrasi mikroplastik. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Khanchit Khirisutchalual)
Surabaya -

Isu mengenai mikroplastik mencemari udara sejumlah daerah Indonesia hingga ditemukan pada kandungan air hujan sedang menjadi perbincangan publik. Surabaya menjadi salah satu kawasan yang mengalami fenomena paparan mikroplastik itu.

Air hujan di Kota Surabaya dikabarkan mengandung mikroplastik berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pihak tertentu. Menanggapi fenomena itu, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair) Dwi Ratri Mitha Isnadina angkat bicara.

Ratri menjelaskan bahwa partikel mikroplastik pada air hujan adalah hal yang wajar. Partikel mikroplastik pada air hujan itu bukan hal baru dan telah ditemukan di banyak negara, serta menjadi bagian dari dinamika lingkungan global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mikroplastik sudah banyak teridentifikasi pada media air seperti sungai maupun laut. Ketika air mengalami penguapan, partikel-partikel ini dapat terbawa ke atmosfer dan akhirnya kembali turun bersama hujan. Jadi, temuan mikroplastik pada air hujan di Surabaya bukanlah hal baru yang sulit diprediksi," tuturnya.

Ratri juga menjelaskan mikroplastik merupakan partikel plastik dengan ukuran 1 mikrometer hingga 5 milimeter. Sedangkan, partikel dengan ukuran yang kurang dari 1 mikrometer termasuk kategori nanoplastik. Mikroplastik terbagi menjadi dua jenis menurut sumbernya yaitu primer dan sekunder.

ADVERTISEMENT

"Primer itu sejak awal berukuran mikro, misalnya butiran scrub pada produk sabun wajah. Kalau sekunder berasal dari degedrasi plastik berukuran besar," jelasnya.

Dosen Unair itu menambahkan bahwa asal muasal mikroplastik yakni dari banyaknya aktivitas manusia, termasuk dalam proses pembakaran sampah.

Untuk pembakaran yang dilakukan secara terkontrol di fasilitas resmi pada umumnya telah dilengkapi unit pengelolaan gas buang. Namun untuk pembakaran sampah yang dilakukan secara terbuka berisiko melepas lebih banyak partikel ke atmosfer karena tidak ada sistem pengendalian.

Paparan mikroplastik terhadap air hujan ini tentu menimbulkan risiko. Risikonya tidak berdampak langsung terhadap tubuh manusia dalam jangka pendek, justru jauh lebih signifikan bagi ekosistem dan patut diwaspadai.

"Air hujan yang mengandung mikroplastik akan mengalir sebagai air limpasan menuju ekosistem air. Di sana, mikroplastik dapat termakan oleh biota seperti ikan, dan pada akhirnya masuk kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan," katanya.

Diketahui mikroplastik bisa mengabsorpsi logam berat dan polutan berbahaya menurut sejumlah penelitian. Sejumlah studi juga mengaitkan mikroplastik dengan inflamasi hingga gangguan kardiovaskular, meskipun penelitian tentang dampak terhadap kesehatan itu belum pasti.

Ratri menegaskan bahwa upaya pengurangan mikroplastik tidak cukup hanya dari perubahan perilaku konsumen, tetapi perlu adanya kebijakan yang mengatur produsen. Ia menambahkan bahwa perkembangan penelitian mikroplastik di Indonesia masih terus berjalan.

"Jika kelak mikroplastik menjadi fokus regulasi, maka parameter pengukurannya akan semakin jelas dan intensif," katanya.

Ratri mengajak masyarakat untuk tidak panik dan tidak mudah terpengaruh degan isu yang viral tanpa klarifikasi dan konfirmasi yang jelas.

"Masyarakat harus mencari informasi lebih dalam dan tidak langsung panik. Penting untuk memahami apakah fenomena ini benar-benar baru atau memang sudah terjadi sejak lama. Dengan literasi yang baik kita bisa merespons informasi dengan lebih bijak," pungkasnya.




(dpe/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads